Pakar-pakar Kesehatan Menjelaskan Perbedaan Rapid Test dengan Swab Test - Pilihan - www.indonesiana.id
x

rapid test dan swab test adalah dua jenis tes yang paling sering digunakan pada masa pandemi Covid-19

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Selasa, 13 Oktober 2020 09:53 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Pakar-pakar Kesehatan Menjelaskan Perbedaan Rapid Test dengan Swab Test

    Masyarakat mengenal dua jenis tes untuk mendeteksi Covid-19, yaitu rapid test dan swab test. Keduanya berbeda dalam kecepatan tes dan harga. Rapid test dihargai sekitar Rp150-300 ribu rupiah dengan hasil keluar tercepat dalam hitungan menit. Sementara swab test harganya mencapai jutaan rupiah sekali tes untuk hasil yang bisa dilihat dalam beberapa hari. Lantas, mengapa keduanya bisa sangat berbeda?

    Dibaca : 824 kali

    Rapid test dan swab test merupakan dua instrumen tes penting dalam pengendalian wabah, namun spesifikasi keduanya berbeda. (Sumber gambar: Liputan6)

     

    Masyarakat mengenal dua jenis tes untuk mendeteksi Covid-19, yaitu rapid test dan swab test. Keduanya berbeda dalam kecepatan tes dan harga. Rapid test dihargai sekitar Rp150-300 dengan hasil keluar tercepat dalam hitungan menit. Sementara swab test harganya mencapai jutaan rupiah sekali tes untuk hasil yang bisa dilihat dalam beberapa hari. Lantas, mengapa keduanya bisa sangat berbeda?

    Rapid test atau tes antibodi merupakan tes yang dilakukan untuk melihat zat antibodi yang terbentuk dalam tubuh, ungkap Prof. Herawati Supolo Sudoyo, Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, ketika membuka diskusi pada Obrolan Kawal Edisi 7 yang disiarkan pada Sabtu, 3/10, di kanal YouTube CISDI TV. “Tes Antibodi sebenarnya tidak memberikan informasi bahwa virusnya ada,” ujarnya.

    Hasil tes reaktif tidak membuktikan keberadaan virus, namun menyatakan antibodi terbentuk karena sudah pernah terpapar Covid-19, meski virus belum tentu menetap dalam tubuh. Rapid test dirancang agar hasil dapat keluar cepat, seperti tes kehamilan. Cara kerjanya pun mudah, cukup dengan meneteskan darah ke alat. Bila terdapat antibodi di dalam darah, antigen di dalam alat akan bereaksi. Karenanya, hasil rapid test adalah reaktif atau non-reaktif.

    Sayangnya, rapid test tidak seakurat polymerase chain reaction (PC R) test. Kesalahan hasil rapid test disebut negatif palsu atau positif palsu. Hasil negatif palsu didapatkan ketika seseorang baru terpapar Covid-19 sehingga antibodi dalam tubuhnya belum terbentuk. Sedangkan hasil positif palsu didapatkan karena adanya reaksi silang dengan virus lainnya. Karena itu, orang yang mendapatkan hasil reaktif rapid test harus melakukan tes PCR lanjutan.

    Berbeda dengan rapid test, PCR test mendeteksi keberadaan Covid-19. “Tes ini sangat spesifik dan tidak akan mendeteksi virus lainnya seperti virus influenza atau virus hepatitis,” ujar Prof. Hera. Tes ini harus dilakukan tenaga medis terlatih yang mengambil sampel melalui hidung atau mulut melalui proses swab.

    Mereka kemudian membawa sampel itu ke laboratorium dan mengetesnya menggunakan alat khusus. Hasil dari PCR test adalah positif atau negatif yang menjadi gold standard diagnosis seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.

    Strategi Nasional

    Diah Saminarsih, Penasihat Senior untuk Urusan Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO, menututurkan strategi paling efektif untuk menghadapi pandemi adalah testing, tracing, dan treatment. “WHO terus mendorong semua negara meningkatkan kapasitas testing dan tracing. Karena hanya dengan kapasitas testing dan tracing yang cukup apa yang dikerjakan dalam treatment menjadi tepat,” kata perempuan berkaca-mata ini.

    Diah menyetujui pernyataan Prof. Hera mengenai PCR test sebagai gold standard. Namun, WHO kini memberi izin khusus kepada negara berpenghasilan menengah-rendah menggunakan rapid test antigen. WHO mengakui banyak negara terhambat meningkatkan kapasitas testing akibat terbatasnya laboratorium atau kondisi geografis yang tidak mendukung. Karena itu, WHO telah menyediakan 120 juta alat rapid test yang siap didistribusikan ke negara-negara berpenghasilan menengah-rendah.

    Masih berkaitan dengan kapasitas testing, Prof. Hera tidak setuju dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan batas harga PCR test. Menurutnya, pemerintah perlu mengkaji kembali komponen-komponen dalam penentuan harga tes. Diah menyatakan partisipasi laboratorium swasta sangat membantu meningkatkan kapasitas testing. Jika harga PCR test dibatasi, dikhawatirkan laboratorium swasta berhenti menyediakan layanan ini dan justru merugikan kelompok masyarakat yang mampu membayar tes tersebut.

    Tentang Obrolan Kawal

    Obrolan Kawal adalah diskusi interaktif terkait penanganan Covid-19 mingguan yang dilaksanakan setiap Sabtu malam dan disiarkan secara daring yang diinisasi oleh KawalCovid19, CISDI, dan Kekini Ruang Bersama. Peserta diskusi dapat mengikuti acara ini melalui kanal YouTube CISDI TV ataupun aplikasi Zoom dengan mendaftarkan diri terlebih dulu.

     

    Tentang CISDI

    Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi masyarakat sipil yang mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pembangunan kesehatan dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan. CISDI melakukan kajian isu prioritas berdasarkan pengalaman mengelola program penguatan pelayanan kesehatan primer di daerah sub-urban dan DTPK, riset dan analisa kebijakan kesehatan, kampanye perubahan sosial, serta keterlibatan dalam diplomasi kesehatan di tingkat nasional dan global. Program penguatan pelayanan kesehatan primer yang CISDI ampu, Pencerah Nusantara, diadopsi oleh Kementerian Kesehatan sebagai program nasional Nusantara Sehat, pada tahun 2015 yang diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan primer di lebih dari 5.000 daerah DTPK. CISDI juga aktif mengadvokasi kebijakan dalam isu-isu prioritas lainnya seperti pengendalian tembakau, peningkatan status gizi masyarakat, dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan.

     

    Penulis

    Ardiani Hanifa Audwina

               



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.