Raffi Nongkrong Usai Divaksin; Influencer pun Tetap Perlu Diedukasi Vaksin - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Raffi Ahmad berswafoto dengan Presiden Jokowi usai disuntik vaksin. Foto: Instagram

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 15 Januari 2021 05:53 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Raffi Nongkrong Usai Divaksin; Influencer pun Tetap Perlu Diedukasi Vaksin

    Bayangkan saja jika kemudian follower Raffi ramai-ramai nongkrong setelah divaksin karena menganggap diri mereka sudah kebal dari paparan virus. Jangan sampai hal substantif dari kampanye vaksinasi malah tergerus hanya karena influencer yang digaet tidak menyadari benar perannya.

    Dibaca : 1.443 kali

     

    Sebuah foto yang diunggah di media sosial dan diunggah ulang di berbagai media umum telah menjadi pembicaraan khalayak. Dalam foto itu tampak Raffi Ahmad bersama isteri dan tiga orang lainnya, di antaranya Gading Martin. Mereka berpose dalam jarak dekat satu sama lain tanpa mengenakan masker. Foto ini ramai dibicarakan lantaran diunggah kurang dari 24 jam setelah Raffi memperoleh suntikan vaksin Covid-19 di Istana Presiden. Ia termasuk di antara sedikit orang yang mendapat vaksinasi pertama, setelah Presiden Jokowi, Menkes Budi Gunadi Sadikin, dan Ketua Umum IDI Daeng Mohammad Faqih dan pejabat penting lain seperti Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Idham Aziz.

    Sebagai cara untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksinasi itu oke, Presiden dan para pejabat penting serta selebritas seperti Raffi pun disuntik di muka umum. Namun efeknya bisa negatif bila kemudian mereka mengabaikan protokol kesehatan. Pose Raffi dan kawan-kawan itu menggambarkan bahwa mereka abai soal memakai masker dan menjaga jarak. Sebagai sosok yang diharap bisa mengambil hati anak muda, remaja khususnya, untuk ikut vaksinasi, pemahaman Raffi tampaknya patut dipertanyakan.

    Mengapa ia berfoto dengan teman-temannya tanpa bermasker? Mungkin ia tidak memahami bagaimana vaksin bekerja setelah disuntikkan ke dalam tubuh. Barangkali Raffi menyangka, begitu divaksin ia akan langsung kebal dari paparan virus Corona. Bila hal ini yang terjadi, menjadi pertanyaan apakah Raffi—dan juga influencer lain di tingkat provinsi yang akan memperoleh giliran pertama disuntik—telah diedukasi tentang bagaimana vaksin bekerja.

    Barangkali pula Raffi tidak menyadari benar perannya sebagai influencer—dalam arti ia mendapat tugas dari Istana untuk mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk tidak menghindari vaksinasi Covid-19. Mungkin ia tidak menyadari tanggung jawab yang melekat pada kesempatan pertama untuk vaksinasi yang diberikan kepadanya. Artinya, sebagai influencer pun, ia memerlukan edukasi bahwa sekalipun sudah menerima suntikan tidak berarti bahwa protokol kesehatan kemudian diabaikan.

    Apakah pejabat Istana dan Kementerian Kesehatan telah mengedukasi orang-orang yang dipilih untuk divaksin lebih dulu ketimbang mayoritas warga? Begitu pula di daerah, di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, bila para pemerintah daerahnya juga mengajak selebritas dan influencer sebagai daya tarik? Sebagai gimik, peran influencer bisa positif, tapi bisa pula negatif bila follower mereka tidak kritis—apapun yang dilakukan pujaan hati, mereka akan mengikutinya.

    Bayangkan saja jika kemudian follower Raffi ramai-ramai nongkrong setelah divaksin karena menganggap diri mereka sudah kebal dari paparan virus. Jangan sampai karena mengejar efek pengaruh ke-selebritas-an mereka, hal substantif dari kampanye vaksinasi malah tergerus hanya karena influencer yang digaet tidak menyadari benar perannya maupun tujuan vaksinasi ini. Malah jadi bumerang, bukan? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.