Menambang Segudang Pengetahuan dari Pandemi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sekelompok warga melintasi Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, memakai masker antisipasi wabah virus corona. Tempo/Hilman Fathurrahman W

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 Januari 2021 12:48 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menambang Segudang Pengetahuan dari Pandemi

    Pengalaman yang sudah kita peroleh selama 10 bulan terakhir ini mestinya menjadi sumber pelajaran yang amat bernilai. Bila kita mencatatnya, membacanya ulang, merekonstruksinya kembali, serta mengambil saripati dari pengalaman pandemi ini, hasilnya akan luar biasa.

    Dibaca : 1.519 kali

     

    Pengalaman hidup seseorang dapat disarikan menjadi hikmah yang memungkinkan orang lain belajar meskipun ia tidak mengalaminya sendiri. Kebaikan yang dilakukan orang lain ingin juga dirasakan sendiri, tapi kesalahan tidaklah perlu—kita tak perlu ikut-ikutan melakukan kesalahan serupa untuk dapat memetik pelajaran. Hikmah dapat ditemukan di mana saja, dari siapa saja, dan kapan saja.

    Dalam lingkup masyarakat bangsa, hal serupa dapat dipraktekkan pada pandemi Corona ini. Peristiwa pandemi dalam masa modern barangkali belum pernah mencapai lingkup seglobal saat ini, yang melibatkan hampir seluruh penduduk di muka bumi. Mobilitas manusia yang begitu cepat dan berjarak jauh membuka peluang bagi percepatan penyebaran virus ke seantero bumi. Tanpa mobilitas semacam ini, penyebaran tidak akan meluas hingga berjangkauan antarbenua.

    Vaksin telah ditemukan dan tengah diuji secara konkret efektivitasnya dalam mengatasi pandemi: mampukah vaksin membuat manusia lebih kuat bertahan terhadap paparan virus Corona? Kemampuan ini baru saja mulai diuji dalam lingkungan yang jauh lebih luas ketimbang uji klinis, di lingkungan yang menggoda manusia untuk bersikap lengah dari menerapkan protokol kesehatan dan menggoda manusia untuk melakukan mobilitas tinggi karena merasa sudah relatif aman.

    Apapun yang terjadi kemudian, pengalaman yang sudah kita peroleh selama 10 bulan terakhir ini mestinya menjadi sumber pelajaran yang amat bernilai. Kesia-siaan belaka apabila kita mengabaikannya. Sungguh terlalu jika kita menganggapnya remeh sehingga tidak perlu dicatat, dibaca ulang, direkonstruksi, serta diambil saripatinya. Bila kita mencatatnya, membacanya ulang, merekonstruksinya kembali, serta mengambil saripati dari pengalaman ini, hasilnya akan luar biasa.

    Terdapat banyak pelajaran berharga yang dapat diserap dari pengalaman kita menjalani pandemi, berikut ini beberapa di antaranya. Pertama, tentu saja dari sisi ilmu kesehatan masyarakat. Pandemi ini merupakan tambang ilmu yang kaya bagi para pelaku ilmu kesehatan masyarakat, termasuk para epidemiolog. Mereka dapat membangun model-model penyebaran virus Corona serta upaya untuk membendung penyebaran dan penularannya. Pengetahuan tentang hal ini, baik mengenai keberhasilan maupun kegagalan dan kesalahan, sangat bermanfaat untuk masa mendatang.

    Kedua, bagi para dokter yang terjun langsung menangani warga yang terpapar virus Corona, mereka niscaya juga memperoleh pelajaran berharga dari pengalaman langsung bagaimana menangani pasien ringan, sedang, hingga berat, juga yang mengidap penyakit lain. Bagaimana pengaturan pengerahan tenaga kesehatan sangat memengaruhi daya tahan para dokter, perawat, maupun tenaga pendukung lain—baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis.

    Ketiga, para pengelola pusat-pusat kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas juga memperoleh pengalaman berharga bagaimana mengatur penyediaan kamar, masuk dan keluarnya pasien, jadwal para dokter dan tenaga kesehatan lain, hingga tugas-tugas pendukung. Dari pandemi ini, juga dapat dipelajari berapa besar dana yang habis untuk penanganan kasus-kasus positif.

    Keempat, para ahli mikrobiologi maupun biologi kedokteran mestinya juga dapat mengambil manfaat keilmuan, di antaranya yang berkaitan dengan kreasi dan pengembangan vaksin serta mutasi virus. Apa yang dapat mereka sumbangkan terhadap keilmuan ini? Bagaimana membangun kemampuan demi kemandirian kesehatan?

    Kelima, para pejabat publik—sejak dari menteri hingga bupati, bahkan camat dan lurah, mestinya juga memperoleh pengetahuan bernilai berkaitan dengan kebijakan publik, bagaimana mengambil keputusan dalam situasi pandemi. Misalnya, bagaimana bersikap waspada sejak pertama kali mendengar berita tentang penyebaran virus. Sikap menyepelekan seperti pernah ditunjukkan di awal pandemi lalu mestinya jadi pelajaran berharga untuk tidak diulang.

    Keenam, pengelolaan data dan informasi yang tidak disiplin dan terencana telah banyak menimbulkan kesimpangsiuran. Perbedaan data antara pemerintah pusat dan daerah juga telah menimbulkan sedikit ketegangan, sebab pemerintah daerah merasa disalahkan akibat meningkatnya kasus positif, sedangkan menurut pemerintah daerah, pemerintah pusat telah melakukan duplikasi data. Bagaimana data diklasifikasi, kapan memasukkannya, bagaimana mengompilasinya, apakah datanya real time, dst.

    Ketujuh, tak kalah penting bagi pejabat publik ialah bagaimana membangun komunikasi efektif selama pandemi, khususnya komunikasi risiko. Isu-isu komunikasi dan edukasi publik mestinya dapat ditemukan selama pandemi. Banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari dalamnya, misalnya cara berkomunikasi yang  buruk di kalangan pejabat tinggi negara, khususnya di awal pandemi.

    Kedelapan, para pengelola keuangan negara juga dapat belajar tentang berbagai aspek pengelolaan mengingat tekanan pada sisi pendapatan negara, baik dari devisa, pajak, maupun sumber-sumber lain. Dalam situasi pandemik, negara memainkan banyak peran untuk membantu berbagai sektor kehidupan agar mampu bertahan, dari memberi kelonggaran pada perusahaan dalam hal pajak hingga bantuan sosial untuk rakyat kecil.

    Kesembilan, pengelolaan dinamika ekonomi agar masyarakat dan negara mampu bertahan menghadapi tekanan maupun perubahan-perubahan cepat. Bagaimana pemerintah mengelola aktivitas ekonomi dan penanganan pandemi secara bersama-sama. Inovasi-inovasi apa saja yang dikembangkan dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan ekonomi-bisnis.

    Kesepuluh, bagi para pelaku industri kesehatan, khususnya alat-alat kesehatan. Pandemi telah mendorong peningkatan kebutuhan alat-alat medis, mulai dari masker hingga ventilator. Mereka yang bergerak di bidang teknologi dan rekayasa mestinya terstimulasi untuk mencipta dan mengembangkan berbagai peranti kesehatan. Sebagian sudah memulai dengan menciptakan ventilator [buatan ITB-Salman], GeNose [UGM], alat tes CePAD karya peneliti Unpad. Inovator lain mestinya tergerakkan oleh kebutuhan masyarakat.

     

    Kesebelas, industri farmasi hingga pelaku di tingkat apotek dituntut mampu memenuhi kebutuhan obat dan vitamin yang meningkat selama pandemi. Untuk menjamin pasokan agar tidak terjadi kekosongan walau sementara waktu, apa yang dipikirkan oleh para pelaku industri farmasi untu masa mendatang?

    Keduabelas, ada pelajaran psikologi yang dapat digali dari pandemi: tinggal berbulan-bulan di rumah dan mengurangi keluar rumah, menyaksikan sesama warga yang terpapar dan dirawat, hingga pemakaman yang berlangsung terus-menerus. Pandemi ini membatasi sebagian besar warga dan membatasi interaksi antarmanusia, sehingga tinggal di rumah dalam jangka waktu sangat lama berpotensi menimbulkan kebosanan, ketegangan, keresahan, dan persoalan psikologis lainnya.

    Itulah sebagian pelajaran berharga yang mestinya dapat ditambang dari pandemi ini, yang bila dieksplorasi lebih jauh dan direkonstruksi akan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat untuk jangka panjang. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.