Menelusuri Seni Marketing dari Tontonan Drama Korea - Seleb - www.indonesiana.id
x

Dominika Benedictha Mayrani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Februari 2021

Selasa, 9 Februari 2021 12:51 WIB

  • Seleb
  • Berita Utama
  • Menelusuri Seni Marketing dari Tontonan Drama Korea


    Dibaca : 1.634 kali

    Selain negara ginseng, rasa-rasanya Korea Selatan bisa dikenal dengan 2 kata kunci lain, yaitu K-pop dan K-drama. Bagaimana tidak, fenomena tontonan drama Korea saat ini tengah banyak digandrungi oleh masyarakat, terutama kaum wanita dari segala umur dan kian meningkat peminatnya dari waktu ke waktu. Tidak hanya di negara produsennya saja, tapi negara-negara lain di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bukan tanpa alasan, biasanya penyebab paling umum drama Korea banyak disukai adalah karena visual dari aktris dan aktor yang memainkannya. Wajah good-looking dan tubuh berotot atau langsing dan ideal menjadi pemikatnya, didukung dengan kecakapan akting para aktor dan alur cerita yang menarik dan menegangkan, serta penyampaian pengetahuan dan pelajaran tentang hidup yang tidak kalah bagusnya. Namun, selain hiburan dan pelajaran hidup, ada hal lain yang bisa diperoleh dari tontonan drama Korea, yakni seni marketing-nya yang dapat menjadi tambahan ilmu pengetahuan dan referensi bagi para penggemarnya.


    Dari cara pendistribusiannya, pada saat akan membuka pasar baru di mancanegara, para produser atau lembaga perfilman Korea biasanya akan memulai langkah pemasaran mereka dengan membuat remake dari drama yang diproduksi oleh negara yang akan menjadi sasaran tujuan. Beberapa drama Korea hasil remake yang terkenal dan digemari adalah A World of Married Couple (hasil remake dari film Inggris, Doctor Foster). Because This Is My First Life (hasil remake dari drama Jepang berjudul Nigeru wa Haji da ga Yaku ni Tatsu), dsb. Adanya drama-drama hasil remake ini nantinya akan mendorong rasa penasaran masyarakat negara sasaran pasar untuk menonton drama hasil remake tersebut, bahkan tidak jarang membandingkan cara penyajian antara drama hasil remake itu dengan drama aslinya.


    Para penikmat drama Korea biasanya menilai seberapa menarik dan bagusnya kualitas sebuah drama pertama-tama lewat rating di negara asalnya sendiri. Drama dengan rating yang tinggi biasanya diyakini sebagai drama terbaik dan terfavorit warga Korea Selatan. Dari sinilah kemudian akan muncul rasa penasaran masyarakat untuk menonton dan membuktikan apakah kualitas drama tersebut sebaik rating-nya atau tidak.


    Tingginya minat masyarakat dunia akan drama Korea ini kemudian mendorong beberapa layanan media streaming film, seperti Netflix, Viu, dan lain sebagainya untuk menayangkan drama-drama terbaru dan terkenal di laman resmi mereka. Dengan penayangan drama Korea di laman resmi mereka, maka aplikasi layanan streaming tersebut akan mengalami peningkatan jumlah penggunanya. Dari sini, dapat kita lihat bahwa selain memasarkan hasil produksi sendiri, drama Korea juga secara tidak langsung ikut serta dalam memasarkan produk lain.


    Sisi pemasaran selanjutnya yang dapat kita perhatikan dari drama Korea adalah tentang negara itu sendiri. Baik drama hasil remake ataupun murni, para produser drama Korea biasanya tetap menampilkan sesuatu yang menjadi ciri khas negara asal mereka. Salah satunya adalah tempat wisata. Para produser K-drama biasanya akan memilih tempat-tempat wisata terkenal untuk dijadikan lokasi syuting, seperti Cheonjuho Lake, Pulau Jeju, N Seoul Town, dan sebagainya. Para penonton akan disuguhkan dengan view yang indah dan menarik dari tempat-tempat tersebut. Didukung pula kelihaian para editor video, masyarakat akan dibuat terpukau bahkan terdorong untuk mengunjungi negeri ginseng ini untuk melihat secara langsung keindahan tempat-tempat tersebut. Inilah yang kemudian membuat Korea Selatan kemudian mengalami peningkatan jumlah turis asing dari tahun ke tahun, seperti yang tercatat pada tahun 2018, negara ini mengalami peningkatan jumlah turis sebesar 6,9%. Hal ini jelas berdampak positif pada perekonomian negara tersebut berupa meningkatnya pendapatan negara lewat naiknya jumlah devisa.


    Hal terakhir yang sebenarnya selalu muncul dan tidak jarang disadari adalah product placement dalam beberapa adegan pada drama. Yang paling umum adalah keberadaan ponsel lipat, ponsel dengan dua layar, lipstik, mobil, hingga kafetaria atau restoran-restoran cepat saji masa kini yang dijadikan tempat syuting drama tersebut. Beberapa contoh produk yang sering muncul adalah restoran cepat saji Subway, mobil hasil produksi perusahaan Hyundai, dan berbagai ponsel milik ber-merek Samsung. Kemunculan produk-produk tersebut dalam drama tentunya akan menyebabkan terjadinya peningkatan pembelian dan menjadi pengaruh positif bagi perusahaan penghasil produk tersebut.


    Dapat disimpulkan tidak hanya wajah good-looking dari aktor/aktris pemainnya, penyajian alur cerita yang menarik serta pelajaran mengenai makna hidup yang dapat dilihat dan dinikmati oleh masyarakat, ada juga seni marketing yang dapat dicermati dan dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan yang baru bagi para penggemarnya maupun masyarakat umum.

    (Penulis: Dominika Benedictha Mayrani - AB)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: bela novelia

    Jumat, 26 Maret 2021 15:02 WIB

    Akhirnya IU Comeback dengan Album ke-5 LILAC

    Dibaca : 3.068 kali


    Oleh: bela novelia

    Rabu, 24 Maret 2021 07:56 WIB

    Drama Korea Beyond Evil Raih Rating Tertinggi

    Dibaca : 3.324 kali