Sejarah Nagari Taram di Minangkabau - Travel - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Azzura Natania

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Februari 2021

Kamis, 25 Februari 2021 12:38 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Sejarah Nagari Taram di Minangkabau

    Sedikit menjelaskan tentang nagari Taram dan Surau Tuo Taram.

    Dibaca : 1.132 kali

    Sejarah asal usul Nagari Taram ada 3 versi, yaitu:

    Taram berasal dari kata tarandam. Diperhatikansecara geografis, letak nagari ini dibandingkan dengan nagari sekeliling tampak sangat rendah. Dari arah mana pun kita datang, jalannya menurun. Kawasan ini sering terendam oleh dua batang air, yaitu batang Sinamar dan batang Mungo. Lama-lama kata tarandam berubah menjadi taharam,  yang artinya rendah. Akhirnya menjadi Taram.

    Nenek moyang kami mula-mula menginjakkan kakinya di nagari ini, banyak menemukan rumpun bambu yang batangnya kecil-kecil dan tipis-tipis. Bila terinjak kedengaran suara “ram”. Sewaktu nenek moyang kami membuat perkampungan, dari bunyi “ram” itu maka bambu itu diberi nama ram. Dalam perkembangannya menjadi Taram.

    Semasa nenek moyang kami menganut agama Hindu, mereka memahat sebuah patung di pinggir Bukit Bulat/BukitGadang. Pada hari tertentu masyarakat yang menganut agama Hindu itu mengantarkan sesajian kepatung tersebut yang disebut Antaran, dan dari kata inilah lahir nama nagari Antaran – Tar-an – Taran – Taram. Menurut Bapak Drs.Alis Marajo terjadi dari bahasa Tamil, yaitu Ta dan Ram , Ta berarti air dan Ram berarti besar.

    Tapi dari kesemua asal usul nagari Taram ini yang dapat dibuktikan adalah Taharam menjadi Taram.

    Nagari Taram, sebuah kawasan yang sekarang terlihat berkembang dan cukup makmur dari segi sosio-kemasyarakatan dan keagamaan. Dalam perkebangan selanjutnya, nagari Taram dikenal luas di Luak Nan Bungsu (Luak Limapuluh Kota). Di samping kampung agamis, kawasan ini adalah daerah pengembangan pariwisata, berupa sungai-sungai kecil yang jernih dan suasana alam yang cukup menawan sehingga digemari masyarakat.

    Disamping realitas masa kini tersebut, jauh sebelum zaman milenium ini, nagari Taram merupakan salah satu nagari yang menjadi sentra pendidikan Islam yang masyhur di Minangkabau. Sampai-sampai tertulis dalam Surat Keterangan Fakih Shaghir tentang Tuanku Taram, yang konon kabarnya –menurut Faqih Shaghir- berbeda pengamalan dengan Tuanku di Ulakan (Syekh Burhanuddin Ulakan), sehingga Tuanku Koto Tuo (guru dari penggerak-penggerak Paderi “Harimau nan Salapan”) perlu mengunjungi Taram buat beberapa waktu .

    Secara geografis, nagari Taram sekarang termasuk ke dalam kecamatan Harau. Daerahnya dilingkupi oleh bukit-bukit kecil dan tebing-tebing yang membentang hingga Harau (Sarilamak). Salah satu perbukitan yang unik ialah Bukik Bulek, nampak tegar berdiri.

    Konon menurut Historiografi lisan masyarakat Taram, bukit ini merupakan tempat tambatan jangkar kapal besar dulunya. Selain itu nagari ini dilewati oleh satu aliran sungai yang cukup besar, sungai ini nantinya saling bertemu dengan sungai-sungai lain hingga menyatu menjadi Sungai Sinamar (yang besar), mengalir sangai ke Lautan barat Sumatera.

    Di beberapa tempat, selain yang tadi mengalir pula sungai-sungai kecil yang menjadi kawasan favorit di daerah ini, bagi para pelancong khususnya, daerah ini sekarang terkenal dengan “Kapalo Banda”. Penamaan tempat ini sangat erat kaitannya dengan kisah Syekh Keramat yang menjadi penyebar Islam di nagari Taram.

    Makam keramat ini terletak di Kenagarian Taram, Kecamatan Harau, ± 5 km dari kota Payakumbuh. Objek wisata budaya ini dapat dicapai dengan mudah menggunakan angkutan pedesaan maupun kendaraan pribadi. Makam Keramat Taram ini adalah makam Syech Ibrahim Mufti yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di daerah ini. Beliau bukanlah penduduk asli, melainkan seorang pendatang yang berasal dari negeri Irak di Timur Tengah dan merupakan murid dari Syech Abdul Rauf dari Aceh, semasa Kerajaan Samudera pasai.

    Sebagai seorang penyebar agama Islam, beliau dipercaya mempunyai kesaktian, diantaranya:

    Pernah suatu hari beliau sedang bercukur. Mendadak beliau minta izin untuk meninggalkan tukang cukurnya sebentar, katanya beliau harus pergi ke Mekah untuk menyelamatkan kota Mekah yang sedang terbakar. Beliau menghilang dan beberapa saat kemudian muncul kembali.

    Beberapa bulan kemudian ada orang yang pulang dari Mekah, mengatakan bahwa sewaktu beliau menunaikan ibadah haji, kota Mekah kebakaran, tetapi musibah itu dapat diatasi atas bantuan seseorang yang hanya memiliki rambut pada sebelah bagian kepalanya. Dari peristiwa itu masyarakat tahu akan kesaktian Syech Ibrahim Mufti yang kemudian dikenal dengan Syech yang Bercukur Sebelah.

    Konon kabarnya ikan yang sekarang berkembang biak di Taram, berasal dari ikan yang dilepaskan kembali oleh Syech Ibrahim Mufti setelah setengah bagian ikan tersebut dibakar / dimasak oleh salah seorang muridnya.

    Pada tahun 1996 keturunan atau keluarga Syech Ibrahim Mufti yang berada di Irak berziarah di Taram dan menceritakan sebuah kejadian pada masa lalu. Dimana salah seorang cucunya menemui beliau semasa hidupnya dan sewaktu kembali ke Irak, sesampai di Laut Tengah, kapalnya kandas dan miring akan tenggelam.

    Syech Ibrahim Mufti yang berada jauh di Taram mengetahuinya dan segera menceburkan diri ke tabek gadang (kolam) disamping Surau Tuo yang dijadikan beliau sebagai media untuk menuju Laut Tengah. Beliau berhasil menyelamatkan kapal tersebut dan mengangkatnya sehingga bisa berlayar kembali dengan selamat dan setelah itu beliau muncul kembali di Taram.

    Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan dan dimana meninggalnya Syech Ibrahim Mufti karena beliau sering berkelana. Karena sudah lama tidak pulang ke Taram, murid-muridnya berusaha mencari, bahkan anaknya yang bernama Syech Muhammad Jamil, meninggal dalam pencarian itu. Sampai akhirnya pada suatu malam salah seorang muridnya bermimpi bertemu beliau dan dalam mimpi itu dikatakan bahwa beliau sudah meninggal dan kalau ingin melihat kuburannya, lihatlah pada malam tanggal 27 Rajab.

    Setelah mengikuti petunjuk gurunya, maka pada malam itu terlihatlah cahaya muncul dari bumi dan menembus langit, berasal dari tempat makam beliau sekarang ini, yaitu disamping Surau Tuo tempat beliau mengajar murid-muridnya yang sampai saat ini masih berdiri dengan gagah.

    Pemeliharaan Surau Tuo dan Makam Keramat Taram ini menjadi tanggung jawab 7 Pasukuan didaerah ini, yaitu Sumpadang, Simabur, Pitopang, Melayu, Piliang Laweh, Piliang Gadang dan Bodi, yang bergiliran setiap 3 tahun dengan menjadi Imam, Kotik dan Bilal.

     

    SURAU TUO TARAM

    Tempat yang terpenting di nagari Taram yaitu Surau Tuo dan Makam Keramat. Keberadaan dua situs ini sekarang dikelola oleh pemerintah nagari sendiri dan menjadi aset keagamaan utama nagari Taram, telah mempunyai hak paten sendiri dalam “Inventarisasi Kebudayaan Sumatera Barat”. Sebagai halnya kisah yang beredar ditengah-tengah masyarakat, dan yang dituturkan oleh keturunan Syekh Ibrahim Mufti (Syekh Keramat), bahwa kedatangan Syekh Keramat di daerah Taram ini diperkirakan pada abad ke-17.

    Sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang berkembang di Minangkabau, maka Syekh Keramat kemudian mendirikan surau cukup besar untuk mengajar ilmu agama yang didatangi oleh orang-orang siak (santri), itulah Surau Tuo (surau yang sudah Tua) sebagai namanya. Surau ini dipastikan tidak menurut bentuk aslinya lagi, karena sudah beberapa kali memugaran akibat usianya yang kadung tua. Pernah pula dulu Nagari Taram banjir, yang tentunya membawa sedikit banyak kerusakan pada kontruksi surau ini. Namun, walau usia sudah tua, kontruksi bangunan yang sudah berubah sama sekali, yang namanya Surau Tuo tetap akan terkenang, dan aktifitas keagamaan tetap berlangsung hingga sekarang.

    Mengenai Makam Syekh sendiri yang terletak dalam Kubah, merupakan salah satu tujuan penziarah yang datang dari berbagai daerah di Minangkabau, bahkan ada yang datang dari luar. Sebagai dalam tradisi sunni (termasuk tradisi yang dipegang erat NU, Perti-Sumbar, Jami’atul Wasilah-Medah dan Nahdathul Wathan-Lombok) ziarah kemakam ulama besar dan berpengaruh merupakan hal yang dianjurkan sekali, maka semakin ramailah komplek Surau Tuo bila tiba musim Ziarah, berkhitmat kepada Tuan Syekh yang konon mempunyai Karomah itu.

    Tidak hanya satu aliran Tasawwuf yang datang, tapi dari berbagai pengamal Tarikat, Naqsyabandiyah-kah, Syathariyah-kah atau Samaniyah-pun datang berbondong-bondong. Kontruksi Kubah makam inipun sama seperti kebanyakan makam ulama-ulama besar di Darek dan Rantau, Minangkabau umumnya. Di dalam Kubah terdapat 2 makam, yang satu dikenal dengan makam Syekh Ibrahim Mufti, yang satu lagi ialah makam anak beliau, Syekh Muhammad Nurdin. Anak beliau ini, konon mencari ayah-nya dari Bengkalis (Riau) dan wafat di Taram. Makam tersebut memakai kelambu, sebagai dalam tradisi ahlussunnah, yang bertuliskan jama’ah Syathariyah Koto Tuo- Bukittinggi, yang mengindikan bahwa kelambu makam ini merupakan hadiah dari penziarah yang notabenenya jama’ah Tarikat Naqsyabandiyah Koto Tuo – Bukittinggi, yaitu dari khalifah Syathariyah terkemuka saat ini yaitu Alm. Tuanku Aluma Koto Tuo, dan anaknya Tuanku Ismail Koto Tuo.

    ASAL USUL BENTUK PEMERINTAHAN NAGARI TARAM

    Pada tahun 1833 pemerintahan Belanda membentuk pemerintahan terendah adalah kelarasan, di Kabupaten Lima Puluh Kota ada 13 kelarasan bernama 13 (Tiga Belas) Laras, termasuk Taram yang satu kelarasan dengan Bukit Limbuku dan Batu Balang yang bernama kelarasan Taram. Laras ini 9 terakhir bernama Dt. Paduko Simarajo Nan Panjang suku Sumpadang.

    Pada tahun 1850 seluruh laras dan pucuk suku diangkat oleh Pemerintah Belanda menjadi Pegawai Kolonial, pada Tahun 1913 kelarasan dihapus diganti dengan Demang dan di Nagari diangkat “Kepala Nagari”. Dan tahun 1979 sampai tahun 2000 sistem Pemerintah Desa waktu itu terdiri dari 5 (lima) desa yaitu desa Tanjung Kubang, desa Balai Cubadak, desa Parak Baru, desa Tanjung Atas, dan desa Sipatai.

    Pada tahun 2001 terjadi perubahan Pemerintahan Desa ke Nagari sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 01 Tahun 2001 dan telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Nagari.

    Pada mulanya Jorong di Nagari Taram sebanyak 5 (lima), sesuai perkembangan terjadi pemekaran Jorong menjadi 7 (tujuh) Jorong yaitu :

    1. Jorong Balai Cubadak
    2. Jorong Tanjung Kubang
    3. Jorong Parak Baru
    4. Jorong Tanjung Atas
    5. Jorong Sipatai
    6. Jorong Ganting (pemekaran tahun 2003)
    7. JorJor Subarang (pemekaran tahun 2003)

    Sedangkan suku yang ada di Nagari Taram ada 7 suku, yaitu:

    1. Suku Piliang Gadang
    2. Suku Piliang Laweh
    3. Suku Pitopang
    4. Suku Bodi
    5. Suku Melayu
    6. Suku Sumabur
    7. Suku Sumpadang

    Masing masing suku dikepalai oleh Pucuk Suku, disetiap suku ada pula Kampung yang dikepalai oleh Tuo Kampung, ada suku mempunyai 4 dan 3 Kampung. Sehingga jumlah kampung di Nagari Taram ada 24 (Dua Puluh Empat ) dan masing-masing dikepalai oleh KA AMPEK SUKU, inilah yang menjadi Ninik Mamak 24.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.