Jangan Ada Lagi Provokasi yang Mengusik Sepak Bola Nasional dan Uji Tanding Timnas U-23 Lancar-Sukses - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas U-23

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 Maret 2021 17:18 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Jangan Ada Lagi Provokasi yang Mengusik Sepak Bola Nasional dan Uji Tanding Timnas U-23 Lancar-Sukses

    Semoga tidak ada lagi provokator yang mengusik ranah sepak bola, sebab sepak bola juga menjadi gantungan hidup masyarakat. Dan, pertandingan uji coba yang tetap dilangsungkan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, sebagai rangkaian uji tanding Timnas U-23 sebagai bentuk persiapan menuju gelaran akbar SEA Games 2021 dengan target juara di Vietnam di akhir tahub, tak akan ada lagi masalah. Kita tunggu, bagaimana Timnas U-23 nanti malam saat meladeni PS Tira Persikabo, yang tetap akan disiarkan langsung oleh Indosiar mulai 19.00 WIB.

    Dibaca : 3.173 kali

    Publik sepak bola nasional akhirnya lega setelah Kepolisian mengabulkan izin keramaian untuk dua laga uji coba Timnas U-23 Indonesia versus Tira Persikabo dan Bali United. Dua agenda tersebut dijadwal ulang ke Jumat (5/3) dan Minggu (7/3).

    Setelah IDI, provokator baru

    Namun, publik sepak bola nasional di saat bersamaan juga gemas dan prihatin, sebab setelah Polri memberikan izin digelarnya turnamen pramusim Piala Presiden 2021 dengan protokol kesehatan ketat, tanpa penonton di stadion, dan ajang ini sekaligus sebagai ujian bagi PSSI untuk mendapatkan tiket izin dari Polri untuk ajang kompetisi resmi, lagi-lagi ada provokator yang mengusik kebahagiaan publik sepak bola nasional.

    Sebelumnya, publik juga geram saat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengkritik tentang izin yang diberikan Polri untuk turnamen pramusim dengan alasan tak sejalan dengan kebijakan PPKM Mikro.  Tetapi kritikan IDI ini langsung dibalas telak oleh pelaku sepak bola nasional yang bertanya, ke mana IDI saat Pilkada? Berapa jumlah rakyat yang faktanya jadi korban virus corona akibat Pilkada?

    Meski Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) jelas-jelas melaporkan jumlah korban, namun setelah itu, media massa bak dibungkam dan tidak ada pemberitaan lanjutan, sebab pihak yang berkepentingan juga membisu seolah tak terjadi apa-apa.

    Bahkan peristiwanya seperti angin lalu. Padahal, bila Pilkada dipersoalkan hingga dibawa ke ranah hukum karena menimbulkan korban masyarakat yang terserang corona bukan persoalan sulit. Tapi apa yang dilakukan masyarakat? Masyarakat pun malas menggugat dan melawan rezim, karena sudah ditebak ujungnya.

    Kini, tiba-tiba menyoal sepak bola yang juga sudah menjadi gantungan hidup masyarakat Indonesia, seperti lahan perekonomian dan usaha yang lain, tapi begitu lama dibekap, tak seperti usaha lain yang boleh jalan, tiba-tiba diusik lagi oleh Ketua Presidium Indonesia Watch (IPW), Neta S Pane yang malah meminta Presiden Jokowi membatalkan turnamen pramusim.

    Alasan Neta, Piala Menpora 2021 akan dapat berpeluang membuat klaster baru Covid-19.

    Atas sikap Neta ini, publik sepak bola nasional, terlebih para pelaku sepak bola nasional pun, terutama para pemilik klub Liga 1 sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh IPW tersebut, seperti sudah dipublikasi oleh beberapa media nasional.

    Seharusnya Neta memberikan solusi, bukannya malah memprovokasi agar Piala Menpora 2021 dibatalkan. Di mana Neta selama ini? Bukannya prihatin dan memperhatikan nasib pelaku sepak bola yang juga sama-sama masyarakat yang tinggal di Indonesia dan butuh makan,  tapi tak adanya kompetisi, ini malah mencoba bikin keruh suasana.

    Akan lebih bijak, dalam kondisi rumit sepak bola Indonesia, seharusnya Neta atau IPW memberikan solusi konstruktif kepada semua pihak dan mendukung serta turut mensosialisasikan tentang protokol kesehatan ketat, agar para suporter patuh dan disiplin menonton di rumah, tak melanggar aturan. Sehingga Piala Menpora sukses, dan izin kompetisi resmi didapat.

    Apa yang kini dilakukan Neta, justru disebut oleh beberapa pihak, sebagai tindakan provokatif. Alangkah bijak dan cerdasnya, bila dalam situasi seperti sekarang, saat Polri juga sudah memperhitungkan dengan cermat dan terukur hingga mengeluarkan izin turnamen, tidak ada bentuk tindakan yang memprovokasi apalagi mengancam pihak yang terkait sepak bola Indonesia.

    Apakah Neta tahu dan paham, bila semua tim telah sepakat menggelar pertandingan tanpa penonton dengan regulasi protokol kesehatan ketat.
    Bahkan tim siap menerima sanksi berat apabila ada aturan yang dilanggar oleh klub dan suporter. Polri pun bisa menyetop turnamen pramusim?

    Seharusnya, IPW malah bisa ikut menjadi bagian untuk memprovokasi agar suporter tertib, bukan sebalknya meminta Presiden mencabut izin dari Polri.

    Dengan demikian, turnamen pramusim dapat menjadi awal agar sepak bola Indonesia kembali bergulir. Piala Menpora 2021 dijadikan sebagai simulasi tentang bagaimana kegiatan olah raga khususnya sepak bola bisa kembali aktif dengan protokol kesehatan ketat.

    Masyarakat bangsa ini seharusnya bersinergi bersama, saling percaya, saling menjaga agar sepak bola nasional, dan tentunya olah raga yang lain, meski di tengah pandemi, tetap hidup dan bergairah berdampingan dengan  tetap bersama, kita melawan pandemi agar segera enyah dari muka bumi.

    Uji tanding pun Kemenpora lagi

    Semoga pula, bila pada Rabu (3/3) kemarin, pertandingan Timnas U-23 vs Persikabo harus dibatalkan secara mendadak oleh polisi beberapa saat jelang kick-off, karena persoalan izin pertandingan yang sejatinya diabaikan oleh PSSI sendiri, ternyata Polri sangat bijak dan tetap mendukung sepak bola Indonesia.

    Bila Polri tak bijak dan tidak mendukung sepak bola Indonesia yang juga menjadi gantungan hidup masyarakat banyak, tentu izin laga uji coba mustahil ke luar.

    Secara regulasi, izin kegiatan atau keramaian, bila mau diadakan dan mengantongi izin polisi, masyarakat pun sudah paham, bahwa minimal pengajuannya minimal 7 hari sebelum pelaksanaan.

    Saat laga kemarin dibatalkan, sangat jelas bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak PSSI sendiri, yang seperti tak tahu aturan perizinan dan seolah menggampangkan. Mana mungkin, pelaksanaan event besar yang bahkan ada hak siar siaran langsung dari stasiun televisi nasional, serta adanya PPKM Mikro, izin kegiatan baru dikirim hari itu juga.

    Memang, khususnya menyoal gagalnya tanding karena masalah izin, terukur, bagian organ PSSI khususnya yang bertanggungjawab dalam hal ini, boleh dinilai tak becus. Terlebih, publik sepak bola nasional menjadi saksi dari peristiwa memalukan ini. Publik pun menanggapai kekecewaannya dengan berbagai cara, dan terpublikasi di media massa maupun dunia maya. Pasalnya, Polri pun memberikan izin laga digelar meski prosedurnya tak benar.

    Coba, bila prosedurnya benar, tentu publik kini sudah tahu hasil polesan Shin Tae-yong terhadapa penggawa Timnas U-23. Tahu skema yang diterapkan, tahu kondisi fisik pemain dibandingkan Timnas U-19, meski baru berlatih sebulan. Dan, tahu Timnas U-23 unggul, seimbang, atau kalah dari PS Tira Persikabo.

    Setelah upaya terlambat koordinasi dari pihak PSSI yang lagi-lagi harus dibantu oleh Kemenpora ke Mabes Polri, Mabes Polri pun bijak dan memutuskan pertandingan tetap dapat berlangsung, namun menjadi tanggal 5 Maret 2021 untuk pertandingan yang pertama. Kemudian, pertandingan kedua dilaksanakan tanggal 7 Maret 2021, sesuai penjelasan Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri, Ahmad Ramadhan, Kamis (4/3) kepada awak media.

    Semoga tidak ada lagi provokator yang mengusik ranah sepak bola, sebab sepak bola juga menjadi gantungan hidup masyarakat. Dan, pertandingan uji coba yang tetap dilangsungkan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, sebagai rangkaian uji tanding Timnas U-23 sebagai bentuk persiapan menuju gelaran akbar SEA Games 2021 dengan target juara di Vietnam di akhir tahub, tak akan ada lagi masalah.

    Kita tunggu, bagaimana Timnas U-23 nanti malam saat meladeni PS Tira Persikabo, yang tetap akan disiarkan langsung oleh Indosiar mulai 19.00 WIB.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.