Catatan Perjalanan | Menelusuri Tiga Wajah Mumbai - Travel - www.indonesiana.id
x

Salah satu sudut Kota Mumbai, India. Foto: Tulus Wijanarko

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 April 2021 22:23 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Catatan Perjalanan | Menelusuri Tiga Wajah Mumbai

    Sebuah Mumbai yang terbentuk oleh dua wajah bertolak belakang namun hadir sejajar: kemakmuran menyolok di satu sisi, dan kemiskinan papa di sisi lainnya. Diantara itu ada kriket yang menautkan spirit seluruh orang India. Lalu apakah wajah yang ketiga? Berikut serpihan catatan perjalanan saya ke Mumbai tahun 2011 silam. Mungkin keadaan sekarang sudah banyak perubahan. Oh ya sempat juga diajak mlipir ke kediaman bintang Bollywood: Shahrukh Khan.

    Dibaca : 688 kali

    Sonu mengambil bola kriket dari tanganku, dan bersiap melakukan lemparan terbaiknya. ”Look at me,” katanya sambil mulai konsentrasi. Dia ingin memberi contoh bagaimana membuat lemparan yang benar dalam olah raga paling populer di India ini.

    Aku berusaha menghormati usaha remaja belasan tahun itu dengan cara menyimak serius aksinya. Tadi baru saja kucoba membuat lemparan yang ternyata buruk sekali. Bola tidak memantul keras di depan pemukul, tetapi meluncur deras di atas tanah. Tentu saja ini sebuah kesalahan dalam kriket.

     

    Saat itu siang cukup terik. Namun langit di atas kawasan Bandra, Mumbai, ini begitu cerah membuat setiap orang terlihat bersemangat. Tadi aku mencoba bergabung dengan para remaja yang tengah asyik bermain kriket di sebuah taman pinggir pantai itu. Sebagian dari mereka adalah penghuni perkampungan miskin di bagian bawah taman ini. Sebuah perkampungan yang langsung bersentuhan dengan garis pantai.

    Tampaknya mereka tidak keberatan aku bergabung. “Are you, Malaysian?” tanya salah satu diantaranya. Entah kenapa, pertanyaan itulah yang selalu menyapa dari warga setempat selama kunjunganku ke India ini. “No, I’m Indonesian.”

    Kulirik Sonu yang sudah mengambil ancang-ancang. Diangkatnya bola dengan tangan kiri setinggi dagu. Tangan kanannya membantu menahan bola berwarna coklat kehijauan itu. Lalu, wush! Ia berlari kencang dan pada saat yang tepat melemparkan bola dengan pantulan keras di depan pitcher yang berusaha memukul benda bulat itu. Tap!

    Sebuah pukulan yang bagus. Bola melayang jauh melintasi jalan raya. Semua bersorak. Lalu bola mendarat persis di salah satu gerbang halaman rumah mewah di seberang jalan. Dengan tinggi kira-kira dua meter, gerbang besi warna coklat terang itu terlihat kokoh melindungi bungalow mengkilap dibaliknya. ”You know, that is Shahrukh Khan’s House,” kata Sonu seperti ingin memberitahukan sebuah rahasia besar.

    Aku tahu itu. Tadi, Anil Pandi, warga New Delhi yang menemani lawatanku di India, dan mengantarku ke kawasan ini, sudah menginformasikan kepadaku. Rumah pangeran Bollywood itu kulihat setidaknya menjulang setinggi lima lantai—aku tak tahu pasti karena pagar yang tinggi hanya menyisakan pandangan pada empat lantai teratas. Persis di samping pintu gerbang tertera nama bangunan itu: Mannat, dan dibagian bawah ditambahi tulisan: Lands End.

     

    Mannat menjadi bagian dari blok super mewah di kawasan tersebut. Di kiri-kanan istana milik pemeran utama film My Name Is Khan itu, berdiri bangunan yang ”sekasta” dengan Mannat. Sebuah area yang dipenuhi properti mengkilap, tinggi, dan terasa dingin

    Tiba-tiba aku merasa fragmen yang baru saja kualami ini demikian efektif menyodorkan sketsa Mumbai pada persepsiku. Sebuah Mumbai yang terbentuk oleh dua wajah bertolak belakang namun hadir sejajar: kemakmuran menyolok di satu sisi, dan kemiskinan papa di sisi lainnya. Lalu ada kriket yang menautkan spirit seluruh orang India.

    Wajah Sonu dan Sahrukh Khan seperti saling menggantikan melipir di benakku. Pikiranku juga terbelah antara ”Komplek Mannat” dan perkampungan kumuh di bibir pantai yang hanya dipisahkan seruas jalan dan sebidang taman ini. Perkampungan itu terdiri dari dua deretan panjang gubung yang saling berdempet dan berhadapan. Ada yang beruntung terbuat dari batu-bata tanpa plester semen, sedang sisanya hanya mampu membikin atap asebes disangga dinding kayu.

    Di mulut perkampungan sempat kulihat seorang ibu merebus sesuatu persis di depan gubuknya. Anaknya bebas bermain dimana saja. Di atas kepalanya tersampir centang-perenang jemuran tak beraturan. Ia memalingkan muka ketika kameraku mengarah ke kampungnya...

    Aku ingat, sepanjang perjalananku tadi dari kawasan Church Gate tempat aku menginap, hingga ke Bandra ini banyak sekali pemandangan kontras macam itu kutemui. Satu diantaranya terlihat di ujung Bandra Worli Sea Link—jembatan panjang melintang di atas perairan Laut Arab yang menghubungkan Airoli di area Prabhadevi dan Mulund di Bandra. Sebelum masuk jembatan, di kejauhan kulihat perkampungan kaum miskin bagai kubus bertumpuk-tumpuk, yang terpaku di bawah tiga atau empat gedung pencakar langit.

    Di jalanan, mirip di Jakarta, pengemis dan pengamen terselip diantara mobil-mobil mengkilap—produksi dalam negeri maupun keluaran Jepang atau Eropa. Mereka tak segan lekat menempelkan wajahnya di kaca mobil, menawar belas kasihan penumpang di dalamnya.

    Aku setengah mengeluh dalam hati: apakah akhirnya harus kutemui Mumbai seperti yang kubyangkan sebelumnya? Saat mendarat di airport Chatrapati Shivaji International Airport Mumbai sehari sebelumnya, citra yang tertanam di benakku tentang kota ini terbentuk dari serpihan-serpihan pengetahuan berikut: kegemilangan kerajaan film Bollywood, tentang ibu kota industri keuangan India, tentang terorisme kota yang pernah memboyak pada 2008, dan dikompliti kesan dari sebuah karya sinema berjudu Slumdog Milionaire. Inilah film yang mengisahkan belitan rumit antara takdir dan spirit dari rawa-rawa kemiskinan Mumbai. Dengan semua itu samar-samar aku membayangkan sebuah kota yang bergegas dengan latar panorama yang terbentuk oleh sapuan warna cerah dan kusam sekaligus.

    Selanjutnya: Keramahan warga Mumbai



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.