Ramadhan, Momen Perenungan bagi Penguasa - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Kekuasaan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 27 April 2021 07:22 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Ramadhan, Momen Perenungan bagi Penguasa

    Ramadhan semestinya jadi momen perenungan yang tak layak dilewatkan oleh para penguasa. Di tengah kesunyian malam-malam Ramadhan, ketika sebagian besar rakyat terlelap atau mungkin tengah bertadarus, siapapun yang diamanahi kekuasaan semestinya merenung: “Apakah aku telah menggunakan kekuasaan secara adil kepada seluruh rakyat?”

    Dibaca : 834 kali

     

    Sebagai bulan yang dinanti-nanti kedatangannya setiap tahun, Ramadhan merupakan momen strategis bagi Muslim untuk memperbaiki diri. Perbaikan diri ini ditempuh melalui peningkatan relasi ketiga jurusan: diri sendiri, sesama manusia, dan Sang Khaliq. Meskipun Ramadhan merupakan bulan yang terfokus pada diri sendiri dan Sang Khaliq, namun relasi dengan manusia lainnya membukakan jalan bagi perbaikan diri.

    Ramadhan menjadi momen strategis untuk membersihkan diri dari segala kekotoran duniawi yang menyelimuti pikiran maupun hati. Inilah momen untuk mengasah rasa empatetik kita dengan lebih sering berbuat kebaikan kepada orang lain, berbagi makanan, ataupun bersedekah. Sang Khaliq memang tujuan utama puasa, tapi manusialah penikmat hasilnya—Sang Khaliq tidak membutuhkan apapun dan siapapun.

    Para alim mengatakan: menahan lapar dan dahaga, dan perbuatan lain yang semula diperbolehkan, adalah praktik yang terlihat atau zahir dalam konteks shaum Ramadhan; sedangkan intinya ialah pengendalian diri—bentuk jihad atau pertempuran melawan hawa nafsu individual. Manusia tak bisa lagi menyalahkan setan, jin, atau iblis atas kesalahannya sendiri, sebab godaan mereka dibuat seminimal mungkin.

    Kaum Muslim selalu menanti tibanya Ramadhan, sebab bulan ini bukan hanya momen pelatihan, penggemblengan, penempaan, tapi juga momen ketika pintu ampunan dibuka lebar-lebar bagi siapapun yang berusaha membersihkan jiwanya dari kekotoran dunia. Ini adalah bagian pelatihan pengendalian diri manusia untuk naik jenjang tangga kemanusiaan, apapun latar belakangnya—ras, suku, bahasa, tempat tinggal, usia, profesi, kemampuan ekonomi, jabatan, pangkat, dan seterusnya.

    Shaum Ramadhan diwajibkan bagi siapapun yang memenuhi syarat dan mampu melakukannya. Tidak ada pengecualian dalam arti pengistimewaan, misalnya bagi si kaya raya dan kaum crazy riches, boleh tidak berpuasa manakala ia sanggup membayar fidyah hingga jutaan kali lipat dari yang ditetapkan. Tidak ada privilege bagi orang tertentu, sebab semua orang sama kewajibannya kecuali bagi individu tertentu.

    Tidak ada pengecualian bagi penguasa di muka bumi hanya karena ia merasa berkuasa atas manusia lainnya, sebab puasa adalah urusan manusia dengan Sang Khalik, walaupun relasi dengan manusia lainnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan itu. Sarana dalam pengertian positif: tempat manusia memberikan sedekah, infaq, zakat, kebaikan, membantu, berbagi, dan seterusnya.

    Tidak ada dispensasi puasa bagi siapapun, kecuali bagi yang sakit, belum dewasa, sedang menempuh perjalanan jauh, berusia lanjut, ataupun wanita yang sedang hamil, menyusui, ataupun sedang nifas dan haid. Penguasa wajib mematuhi perintah puasa tanpa kecuali, biarpun dia presiden, menteri, raja, pangeran, jenderal, gubernur, ketua parlemen, hakim agung, ketua pengadilan maupun ketua mahkamah, walikota, bupati, hingga camat dan lurah.

    Perintah wajib bagi semua manusia yang memenuhi syarat itu menunjukkan bahwa kekuasaan manusia tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Sang Khalik. Seberapa besar pun kekuasaan manusia kepada manusia di lainnya—hingga ke tingkat otoriter sekalipun, seberapa tinggi pangkat dan jabatan yang dimiliki dibandingkan manusia lainnya—berapapun jumlah bintang yang tersemat di pundaknya, ia tetap diwajibkan puasa. Besarnya kekuasaan dan tingginya jabatan tidak termasuk di antara yang boleh tidak menunaikan shaum Ramadhan. Seorang raja ataupun presiden tidak akan diberi keringanan sekalipun meminta dengan bercucuran air mata.

    Mengingat semua itu, mestinya Ramadhan menjadi momen berharga bagi mereka yang tengah mengemban jabatan tinggi dengan kekuasaan yang besar. Ramadhan adalah momen untuk melakukan muhasabah atau perenungan: “Untuk tujuan apa kekuasaan aku gunakan, bagaimana aku menggunakan kekuasaan, apakah kekuasaan yang diamanahkan kepadaku telah kugunakan untuk kemaslahatan rakyat banyak, untuk menegakkan keadilan, untuk melindungi yang lemah, untuk mencegah kesewenangan yang kuat, apakah aku telah berkuasa secara jujur dan adil.”

    Banyak alim mengatakan bahwa inti dari shaum Ramadhan bukanlah menahan lapar dan dahaga, melainkan pengendalian diri—atas nafsu, amarah, hasrat, ambisi harta, jabatan, serta ambisi kuasa. Menahan lapar dan dahaga hanyalah latihan dasar—anak-anak yang belum diwajibkan berpuasa pun juga menahan lapar dan dahaga. Tuntutan pengendalian pada diri penguasa jelas lebih besar, dan Ramadhan adalah momen terbaik untuk melatih pengendalian diri dari ambisi kekuasaan yang lebih besar dan lebih kuat. Justru Ramadhan semestinya jadi momen perenungan yang tak layak dilewatkan oleh para penguasa. Di tengah kesunyian malam-malam Ramadhan, ketika sebagian besar rakyat terlelap atau mungkin tengah bertadarus, siapapun yang diamanahi kekuasaan semestinya merenung: “Apakah aku telah menggunakan kekuasaan secara adil kepada seluruh rakyat?” >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.