Kenapa Rakyat Patungan Beli Kapal Selam? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sebelum kapal selam Alugoro-405, Kemhan telah melakukan serahterima kapal selam pertama KRI Nagapasa-403 dan kapal selam kedua KRI Ardadedali-404 yang dibangun di Korea kepada TNI AL. Foto : PT PAL

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 28 April 2021 11:14 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kenapa Rakyat Patungan Beli Kapal Selam?

    Di Jogjakarta, seruan dan ajakan untuk ramai-ramai berpatungan membeli kapal selam mulai bergema. Mereka melihat para elite negeri kurang memberi prioritas pada penguatan pertahanan. Dulu, di zaman perjuangan kemerdekaan, rakyat Aceh berpatungan membeli pesawat Dakota untuk Republik Indonesia. Inisiatif patungan untuk beli kapal selam itu wujud keprihatinan rakyat terhadap kemampuan pertahanan negeri ini. Juga sindiran pada sikap elite yang kurang responsif terhadap isu strategis di balik tragedi Nanggala 402.

    Dibaca : 707 kali

     

    Tragedi kapal selama Nanggala 402 sungguh membikin hati menangis, miris, trenyuh, sekaligus nelangsa. Bangsa yang dilimpahi anugerah kekayaan alam di darat, laut, dan udara ini memiliki armada pertahanan yang sangat terbatas dan sebagian di antaranya relatif tua. Nanggala 402 mulai berlayar pada 21 Oktober 1981 dan disebutkan bahwa sertifikat kelayakan kapal ini berlaku hingga Maret 2022. Namun dinamika alam bawah air yang dahsyat telah memaksa kapal selam itu pensiun lebih dini setelah hampir 40 tahun mengabdi.

    Betapa rakyat tidak sedih. Puluhan perwira dan prajurit gugur dalam peristiwa tenggelamnya Nanggala 402 karena kapal selam ini dinyatakan terbelah tiga. Rakyat juga sedih karena para elite lebih suka membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, Jakarta-Surabaya, ibukota baru, dan istana baru, tapi kurang memprioritaskan hal-hal yang sangat strategis serta mendesak bagi pertahanan bangsa dan negeri ini, antara lain penguatan pertahanan negeri ini.

    Sebagai negara kepulauan kita sangat membutuhkan dukungan kekuatan udara dan laut yang digdaya. Di lautan, kita memerlukan lebih dari 12 kapal selam, namun kita hanya memiliki lima kapal selam untuk mengawasi wilayah perairan kita seluas 650 ribu kilometer persegi. Bahkan, sepeninggal Nanggala 402, kita hanya punya empat buah kapal selam: Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405, KRI Cakra-401—kapal ini sama tuanya dengan Nanggala 402 dan tengah masuk bengkel. Kita kalah jumlah dibandingkan bahkan dengan negara seluas Singapura saja, yang memiliki 20 kapal selam. Vietnam mempunya 6 kapal selam, sedangkan Cina memiliki 79 kapal selam.

    Negara-negara asing yang memiliki ambisi menjadi kekuatan global mengetahui benar kelemahan kita dalam hal pertahanan laut dan udara. Sungguh mengherankan bila para elite politik yang duduk di pemerintahan maupun parlemen serta partai sibuk mengurusi perkara jalan, gedung, kereta cepat, istana, maupun pabrik-pabrik, namun terlihat santai-santai saja mengurusi pertahanan. Tragedi Nanggala 402 semestinya membangunkan kesadaran para elite untuk memberi perhatian sangat serius pada penguatan pertahanan, termasuk kehidupan para prajurit dan perwira maupun berbagai instrumen pertahanan.

    Mestikah rakyat patungan dan menghimpun sumbangan agar negeri ini mau dan mampu membeli pesawat tempur dan kapal selam maupun non-selam mutakhir seperti dulu rakyat Aceh mengumpulkan sumbangan untuk membeli pesawat terbang demi menyokong perjuangan kemerdekaan Republik ini? Dakota RI-001 Seulawah merupakan pesawat angkut pertama yang dimiliki Republik Indonesia serta menjadi cikal bakal armada Garuda Indonesia. Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 dibeli dengan uang hasil sumbangan rakyat Aceh yang nilainya waktu itu setara dengan 20 kg emas. Dakota ini sangat berjasa dalam mengirim bantuan logistik ke berbagai wilayah di Sumatra, khususnya.

    Di Jogjakarta, dengan diprakarsai aktivis Masjid Jogokariyan, Seruan dan ajakan kepada rakyat untuk ramai-ramai berpatungan membeli kapal selam mulai bergema, tampaknya karena rakyat melihat bahwa para elite negeri ini kurang memberi prioritas pada penguatan pertahanan. Bila pertahanan lemah, infrastruktur ekonomi apapun—termasuk ibukota baru—akan menjadi sasaran yang mudah ditembus oleh negara lain yang memiliki ambisi besar untuk meluaskan sayap pengaruhnya.

    Jika para elite tetap tidak tergerak oleh tragedi Nanggala 402, rakyat memang harus menyisingkan lengan. Sekalipun ini merupakan masa sulit karena pandemi belum lagi usai, rakyat dapat beramai-ramai merogoh saku dan menyumbangkan berapa saja semampunya. Harga sebuah kapal selam buatan Korea Selatan kabarnya sekitar 4-5 trilyun rupiah. Syukur-syukur jika PAL di Surabaya mampu membuat kapal selam sendiri dengan teknologi maju, uang sumbangan rakyat tak perlu mengalir ke luar negeri. Angka sebesar itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai awal proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sebesar 66,775 trilyun rupiah, sedangkan menurut media massa anggarannya diperkirakan membengkak hingga 23% atau menjadi 80-an trilyun rupiah.

    Kita harus bertekad punya pengganti Nanggala 402 yang lebih modern, lebih canggih. Kita juga harus bertekad punya jet-jet tempur yang siap memburu pesawat asing yang seenaknya memasuki wilayah udara kita. Rakyat bisa patungan, nyumbang semampunya, tidak usah menunggu elite politik memutuskan perkara ini. Ajakan patungan yang mulai bergema, antara lain di Jogjakarta, sesungguhnya merupakan wujud keprihatinan rakyat terhadap kemampuan pertahanan negeri ini dan sikap elite yang kurang responsif terhadap isu strategis di balik tragedi Nanggala 402. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.