Target Aspal Buton Tahun 2034 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Jokowi

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Senin, 28 Juni 2021 06:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Target Aspal Buton Tahun 2034

    Mengapa aspal Buton sudah berusia hampir 100 tahun atau 1 abad, tetapi masih belum juga mampu menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia? Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena pemerintah masih merasa sangat nyaman berada di dalam “comfort zone” dengan terus mengimpor aspal minyak. Bagaimana daya dan upaya kita untuk mampu mengsubstitusi aspal minyak impor tersebut dengan aspal Buton? C

    Dibaca : 845 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengapa masalah aspal Buton ini selalu menarik untuk kita bicarakan dan kita diskusikan ? Karena potensi aspal Buton ini sangat dahsyat untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi mirisnya, mengapa seolah-olah kita tidak berdaya sama sekali untuk menggapainya ? Mengapa sudah hampir 1 abad usia aspal Buton, dan kini kita seolah-olah masih saja berjalan di tempat ? Apakah kita sudah kehilangan arah kemana tujuan kita akan melangkah ?  Mengapa kita masih harus juga terus mengimpor aspal minyak ? Jumlahnya tidak kurang dari 1 juta ton per tahun, atau senilai US$ 500 juta per tahun. Dan sedihnya, kita sudah mengimpor aspal minyak ini lebih dari 40 tahun. Lalu sampai kapankah kita masih harus terus menerus bergantung kepada aspal minyak impor? Apalagi sekarang ini harga minyak mentah dunia sedang naik dari harga US$ 40 per barrel ke harga US$ 70 per barrel. Dan tentu saja harga aspal minyak impor pun akan ikut melonjak. Sekarang ini apa daya dan upaya kita ?

    Mari kita cari tahu apa saja yang selama ini sudah pemerintah lakukan untuk aspal Buton. Mengutip berita dari maritim.go.id tertanggal 1 Februari 2021, dengan judul “Kemenko Marves Tinjau Kesiapan Infrastruktur Industri Aspal Buton”, disebutkan bahwa apabila hingga tahun 2025 akan terjadi peningkatan kapasitas aspal Buton sebesar 33%, maka aspal Buton akan mampu memenuhi kebutuhan aspal nasional sebesar 49,36%. Sisanya, sebesar 37,08% kebutuhan aspal akan diisi oleh aspal minyak Pertamina, dan 13,61% akan diisi oleh aspal minyak impor. Guna mencapai target tersebut, penggunaan aspal Buton perlu memperoleh dukungan untuk menjadi prioritas utama, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, agar dapat digunakan dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan-jalan nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan desa di seluruh Indonesia.  

    Sejatinya yang harus rakyat ketahui adalah bagaimana proses pembuatan “Target” untuk mencapai angka 13,61% ini, dimana Indonesia pada tahun 2025 nanti akan masih harus mengimpor aspal minyak. Kalau kita asumsikan bahwa pada saat ini rata-rata Indonesia masih mengimpor aspal minyak sebesar 1 juta ton per tahun, maka pada tahun 2025, kita hanya akan tinggal mengimpor 136.100 ton per tahun saja. Mengapa target kita tidak fokus kepada 0% impor aspal minyak di tahun 2026 atau 2027 ? Mungkin masalah ini disebabkan hanya karena adanya perbedaan persepsi dalam hal kita memandang apakah target yang kita inginkan sesungguhnya itu adalah berdasarkan “waktu” atau “jumlah” impor, atau kedua-duanya ?.  

    Dalam menetapkan target, rencana dan tujuan alangkah bijaknya kalau kita menggunakan metode SMART Goals. SMART merupakan kependekan dari Specific (khusus), Measureable (terukur), Achievable (dapat tercapai), Relevant/Realistic (sesuai/realistis), dan Timebound (batas waktu). Dengan menggunakan metoda SMART Goals ini, maka target akan dapat lebih mudah dipahami dan dicerna oleh setiap orang. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah target tersebut harus juga dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh para calon Investor yang berminat serius untuk berinvestasi di bidang Industri Aspal Buton ini. Jangan lupa bahwa tanpa adanya dukungan finansial yang kuat dari para Investor, ambisi besar pemerintah untuk mengembangkan Industri Aspal Buton guna menggantikan aspal minyak impor hanya akan merupakan “Fatamorgana” belaka.

    Mungkin yang harus kita pahami bersama terlebih dahulu adalah bahwa ada beberapa produk aspal Buton yang dapat menggantikan aspal minyak impor; yaitu aspal Buton granular, aspal Buton ekstraksi, dan aspal Hibrida. Jadi pertama-tama kita harus dapat menghitung dan memperkirakan berapa jumlah dari masing-masing produk tersebut yang akan dapat diproduksi setiap tahunnya. Dengan demikian target yang akan ditentukan nanti harus dibuat secara bertahap, sebagai berikut:

    Target Tahap I: Berapa jumlah masing-masing produk aspal Buton granular, aspal Buton ekstraksi, dan aspal Hibrida yang akan dapat diproduksi pada tahun 2024 ?. Mengapa harus tahun 2024 ? Karena pada tahun 2024 ini adalah masa berakhirnya pemerintahan Pak Jokowi. Dan juga sekaligus tahun memperingati “1 Abad Aspal Buton”. Jadi momentum ini harus dapat kita manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk memotivasi dan mendorong pemerintah untuk segera membuat “Target” dan “Road Map” yang berkualitas dengan menggunakan metode SMART Goal (khusus, terukur, sesuai/realistis, dapat dicapai, dan batas waktu) secara lebih profesional dan bertanggung jawab. Nama baik Pak Jokowi akan dipertaruhkan dalam pencapaian Target Tahap I ini. Karena keberhasilan Target Tahap I ini akan terjadi di dalam kurun waktu dari akhir masa pemerintahan Pak Jokowi. Disamping itu momentum untuk memperingati 1 abad aspal Buton ini pun juga tak kalah pentingnya. Karena pada tahun 2024 ini akan dijadikan sebagai “Momentum” dari awal kebangkitan Industri Aspal Buton yang sudah sangat lama sekali diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Apabila kita mampu mencapai Target Tahap I ini dengan baik, maka Target-target Tahap II dan Tahap III berikutnya akan lebih mudah dapat tercapai. Diharapkan Target Tahap I ini aspal Buton akan sudah mampu menggantikan aspal minyak impor sebesar minimal 30%.

    Target Tahap II: Sama halnya dengan proses untuk pencapaian Target Tahap I. Tetapi untuk Target Tahap II ini waktunya adalah untuk masa 5 tahun ke depan. Jadi dapat ditegaskan di sini bahwa Target Tahap II ini nantinya akan menjadi peranan penting dan tanggung jawab penuh dari pemerintahan dan Presiden baru, setelah pemerintahan Pak Jokowi berakhir. Dengan demikian, apabila “Road Map” sudah dibuat dengan sebaik mungkin dan berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang telah terjadi selama masa pencapaian Target Tahap I, maka tentunya pencapaian hasil dari Target Tahap II ini akan lebih baik lagi dari hasil Target Tahap I. Diharapkan Target Tahap II ini aspal Buton akan sudah mampu menggantikan aspal minyak impor sebesar minimal 70%.

    Target Tahap III: Sama halnya dengan proses untuk pencapaian Target Tahap II. Yaitu untuk masa 5 tahun ke depan. Dan akan menjadi peranan penting dan tanggung jawab penuh dari pemerintahan dan Presiden baru berikutnya. Dengan demikian akan ada proses “estafet” dari satu target ke target berikutnya yang akan berdampak signifikan terhadap terjadinya perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan dan terukur. Jadi ada kemungkinan pencapaiannya nanti akan bisa melebihi dan melampaui dari target yang sudah ditentukan sebelumnya. Diharapkan Target Tahap III ini Indonesia akan sudah mampu mandiri untuk menggantikan aspal minyak impor sebesar 100%. Dan sekaligus Indonesia akan sudah mampu juga mengekspor aspal alam Buton ini ke negara-negara lain.

    Dengan menggunakan metode SMART Goal diharapkan setiap insan yang akan berperan dan bertanggung jawab dalam proses pembuatan “Target” dan “Road Map” ini harus mampu memahami dan menghayati benar-benar apa yang telah dipikirkan, diucapkan, dituliskan, dilaksanakan, dan dievaluasi kembali hasilnya. Mulai dari tingkat Presiden hingga ke tingkat operator. Semua orang harus mempunyai target atau arah tujuan kinerja yang sama. Tidak boleh berbeda. Dan setiap orang yang akan terlibat nanti harus berupaya keras dengan sekuat tenaga untuk mencapai target tersebut sesuai dengan peranan dan tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan yang sudah tercantum di dalam “Road Map” tersebut.

    Target Tahap I, Target Tahap II, hingga Target Tahap III akan selesai pada tahun 2034. Di harapkan pada tahun 2034 nanti, Indonesia bukan lagi sebagai negara pengimpor aspal minyak. Melainkan sudah menjadi negara pengekspor aspal alam Buton. Indonesia akan menjadi satu-satunya negara pengekspor aspal alam di dunia. Mungkin pada saat itu kita yang tua-tua ini sudah tidak akan dapat menikmati lagi masa jaya-jayanya aspal Buton. Tetapi itu tidak penting. Yang paling penting adalah siapapun nanti generasi muda penerus Bangsa yang akan berkiprah, berperan, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan Industri Aspal Buton, mohon kiranya antara perkataan dan perbuatan mereka harus selalu selaras, sejalan, dan seirama. Dengan demikian potensi aspal Buton yang sangat dahsyat untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia itu in sya Allah akan dapat terwujud nyata sesuai dengan target yang telah ditentukan.

    Satu hal lagi yang harus kita ingat baik-baik bahwa pada saat ini kebutuhan aspal nasional adalah sebesar 1,5 juta ton per tahun. Dan 1 juta ton per tahun aspal minyak masih harus diimpor. Pada tahun 2034 nanti, kebutuhan aspal nasional mungkin sudah akan meningkat mencapai 2,5 juta ton per tahun atau lebih. Ini berarti agar Indonesia tidak perlu mengimpor aspal minyak lagi, maka Indonesia harus sudah mampu memproduksi minimal 2 juta ton per tahun aspal Buton. Mampukah Indonesia memproduksi minimal 2 juta ton per tahun aspal Buton pada tahun 2034 ? Ah.... biarkanlah pemerintah dan Presiden yang sedang berkuasa pada tahun 2029 nanti saja yang akan menjawab tantangan ini. Tetapi untuk saat ini, pemerintah yang sekarang sedang berkuasa dan Presiden Joko Widodo yang harus mampu menjawab tantangan pencapaian Target Tahap I di tahun 2024. Yaitu, aspal Buton harus sudah mampu menggantikan aspal minyak impor sebesar minimal 30%.

    Pak Jokowi..., let’s make history. Not stories. Please ......

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.