Kecerdikan dan Kompetensi Pedagogi Greysia dan Apriyani = Emas untuk HUT RI ke-76 - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Grasia Apriyani

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 2 Agustus 2021 19:05 WIB

  • Olah Raga
  • Topik Utama
  • Kecerdikan dan Kompetensi Pedagogi Greysia dan Apriyani = Emas untuk HUT RI ke-76

    Greysia dan Apriyani adalah wanita perkasa Indonesia yang memberi teladan bahwa dalam olahraga khususnya bulutangkis, kemampuan teknik dan fisik sebaik apa pun, tetap akan ditaklukkan oleh kecerdikan. Intelegensi dan personaliti serta pedagogi pemain tetap sangat menentukan.

    Dibaca : 1.171 kali

    Terima kasih Greysia Polii/Apriyani Rahayu, akhirnya lewat perjuangan kalian, Indonesia meraih 1 Emas di Olimpiade Tokyo 2020 dari cabang bulu tangkis.Meski lawan yang dihadapi memiliki rekor lebih baik, 6 kali menang dalam 9 pertemuan, namun kali ini, pasangan ganda putri China,  Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dapat kalian taklukkan dalam dua set langsung dengan skor 21-19, 21-15 dalam tempo 

    Terima kasih Greysia Polii/Apriyani Rahayu, akhirnya lewat perjuangan kalian, Indonesia meraih 1 Emas di Olimpiade Tokyo 2020 dari cabang bulu tangkis.Meski lawan yang dihadapi memiliki rekor lebih baik, 6 kali menang dalam 9 pertemuan, namun kali ini, pasangan ganda putri China,  Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dapat kalian taklukkan dalam dua set langsung dengan skor 21-19, 21-15 dalam tempo 55 menit.

    Kemenangan kalian adalah kado termanis bagi para pejuang kemerdekaan RI yang telah membikin Indonesia lepas dari penjajahan kolonialisme 76 tahun yang lalu.

    Kompeten TIPS dan mumpuni pedagogi

    Secara khusus, sejak dari babak penyisihan grup, meski kalian menjadi pasangan yang tak diunggulkan di Olimpiade Tokyo kali ini, namun kalian adalah pasangan yang sempurna dalam kompetensi teknik, intelegensi, personaliti, dan speed (TIPS) serta mumpuni dalam pedagogi, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan motorik.

    Dalam hal TIPS, mengapa kalian sampai bisa menggenggam emas Olimpiade, dari pengamatan khusus sepanjang kalian menjalani semua partai sejak fase grup, hal yang paling menonjol adalah semangat juang pantang menyerah ngotot, percaya diri yang terdeskripsi dalam cerdasnya kalian mengedalikan diri dari tekanan lawan. Begitu pun kalian sangat cerdas dalam mengendalikan lawan kecerdikan dan emosi lawan.

    Kata lainnya, kalian di setiap laga terus menunjukkan sebagai pasangan yang cerdas intelegensi (otak) dan sangat cerdas personaliti (emosi/mental). Sebab, bicara kompetensi teknik dan speed (fisik), semua pemain dan pasangan yang turun di cabang bulutangkis Olimipiade kali ini dari berbagai negara boleh dibilang seimbang.

    Namun, sepanjang laga yang kalian lalui, kalian sangat nampak cerdas otak dan cerdas emosi/mental. Sehingga terus mampu menunjukkan kecerdikan dalam bentuk strategi dalam menghadapi lawan secara situasional. Mampu terus konsentrasi mengontrol diri dan pasangan, mengontrol permainan, mengontrol dan menerapkan strategi dengan intrik dan taktik yang jitu, sehingga lawan terbawa arus permainan dan dapat terus ditekan.

    Kemampuan kecerdasan otak dan emosi/mental inilah  yang mengantarkan kalian terus mampu menundukkan lawan. Hal ini sama halnya bahwa secara pedagogi, kalian sangat mumpuni dalam kognitif, yaitu tahu bagaimana menerapkan teori dan praktik permainan sesuai taktik dan strategi yang dirancang. Kalian juga selalu bersikap saling mendukung, saling memberikan suport dan semangat, tak nampak ada sikap yang superior atau yunior dan senior meski usia terpaut 10 tahun. Sungguh, afektif kalian luar biasa.

    Selain itu, secara psikomotor, kalian juga tak ada nampak kekurangan sama sekali, karenanya, fisik kalian pun terus prima meski ada laga yang harus tempuh tiga set.

    Maaf, untuk pemain bulutangkis Indonesia lain yang sama-sama turun di Olimpiade Tokyo, tunggal putri, tunggal putra, ganda campuran, dan ganda putra, perjuangan kalian juga sangat hebat. Kalian juga membikin takut semua lawan dan menunjukkan dan membuktikan bahwa Indonesia masih tetap sebagai negara kuat di bulutangkis dunia.

    Namun, dalam semua laga yang kalian kalah, kalian tak menampakkan kecerdikan yang ditunjukkan oleh Greysia dan Apriyani. Di sinilah letak kegagalan kalian, kurang dalam kecakapan intelegensi dan personaliti.

    Untuk itu, khususnya bagi Federasi Bulutangkis Indonesia PBSI, catatan tentang kelemahan kecakapan intelegensi dan personaliti ini wajib menjadi prioritas evaluasi dan tindakan penanganan dan perbaikan, selain bicara regenerasi pemain. Sebab, bicara teknik dan fisik bulutangkis, negara lain juga berguru kepada Indonesia dengan banyaknya pelatih bulutangkis Indonesia yang dikontrak oleh negara lain.

    Jujur, saat tunggal putri, tunggal putra, ganda campuran, dan ganda putra Indonesia kalah dari lawan-lawannya, saya tak percaya bila intelegensi dan personaliti para pebulutangkis kita yang berlabel pemain dunia memperagakan hal yang seharusnya tak perlu dilakukan. Terlebih, penampilan mereka terus secara detail tersorot kamera.

    Terima kasih Greysia-Apriyani

    Bersyukur, ada Greysia-Apriyani yang kali ini juga turut serta tampil di Olimpiade Tokyo. Dari tangan merekalah akhirnya martabat bulutangkis Indonesia bisa dijaga meski sebelumnya tak terpikir merekalah yang akan meraih emas. Sebab, selama ini prestasi terbaik ganda putri Indonesia di kompetisi multicabang olahraga empat tahunan itu hanya perempat final, yaitu saat Olimpiade Rio 2016, Greysia Polii masih berpasangan dengan Nitya Krishinda.

    Kali ini Greysia berpasangan dengan Apriyani yang lebih muda 10 tahun. Namun, siapa sangka, pasangan ini justru mampu mendapatkan medali emas pertamanya di Olimpiade Tokyo 2020.

    Bukti kecerdikan

    Raihan emas Greysia dan Apriyani, adalah jerih dari kecerdikan mereka yang sangat cerdas intelegensi dan persinaliti plus mumpuni dalam pedagogi.

    Faktanya, dalam partai final, meski sempat kehilangan angka pertama, tetapi mereka berhasil membalikkan keadaan 2-1 usai dua drop shot Greysia jatuh ke bidang permainan lawan.
    Selain drop shot, Greysia/Apriyani juga pandai dalam menempatkan bola. Hal itu ditunjukkan Greysia/Apriyani saat menambah keunggulan menjadi 5-1. Inilah yang disebut kecerdikan.

    Greysia/Apriyani juga sempat kehilangan beberapa poin dan keunggulan mereka menyempit jadi satu poin saja pada kedudukan 8-7. Namun, Greysia/Apriyani berhasil mengatasinya dan menutup interval gim pertama dengan keunggulan 11-8.

    Bukti lain kecerdikan mereka,
    Chen/Jia dibikin banyak melakukan kesalahan.
    Setelah melalui pertarungan sengit, Greysia/Apriyani akhirnya memenangi gim pertama dengan skor 21-19.

    Di gim kedua, kecerdikan Greysia dan Apriyani juga terus dipertontonkan hingga akhirnya menutup perlawanan Chen-Jia dengan 21-15. Luar biasa, rangking boleh di bawah, teknik dan speed tak berbeda jauh, namun dengan kecerdikan intelegensi dan personaliti yang berujud mental pantang menyerah dengan semangat juang yang dilandasi kecerdasan otak dan emosi/mental, Greysia yang kini berusia 33 tahun dan adiknya Apriyani yang masih 23 tahun dan hanya ranking 6 dunia, mampu singkirkan Qing Chen Chen, 24 tahun, dan Yi Fan Jia, 24 tahun pasangan China yang menempati ranking ketiga dunia.

    Tanda-tanda, Greysia-Apriyani akan mampu menyabet emas, sejatinya sudah dimulai tatkala mereka mampu menumbangkan pasangan rangking 1 dunia dari Jepang, Yuki Fukushima dan Sayaka Hirota di fase grup, pun dengan kecerdikan.

    Dengan demikian, Greysia dan Apriyani adalah wanita perkasa Indonesia yang memberi teladan bahwa dalam olahraga khususnya bulutangkis, kemampuan teknik dan fisik sebaik apa pun, tetap akan ditaklukkan oleh kecerdikan. Intelegensi dan personaliti serta pedagogi pemain tetap sangat menentukan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.