Ayo Buktikan, Timnas U-23 Bukan Bumi dan Langit dengan Timnas U-23 Australia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

bola Indonesia Australia

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 17 Oktober 2021 08:39 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Ayo Buktikan, Timnas U-23 Bukan Bumi dan Langit dengan Timnas U-23 Australia

    Kita tunggu, apakah anggapan bumi dan langit itu benar-benar akan terbukti? Atau sebaliknya, pasukan Garuda akan memberi bukti kepada publik sepak bola nasional bahwa mereka dan Australia sama-sama tim dari bumi dan Indonesia bisa membalikkan prediksi?

    Dibaca : 777 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apakah Timnas Indonesia U-23 dan Timnas U-23 Australia perbedaannya bagaikan bumi dan langit? Pasalnya ada media massa Indonesia yang sampai menulis judul menyoal bentrok pasukan Garuda di Kualifikasi Piala Asia U-23 2022.

    Bila dianalisis secara data dan fakta, anggapan tentang perbedaan bumi dan langit itu, jawabannya bisa saja, ya. Namun, bisa juga tidak.

    Untuk melihat fakta dan data mengapa sampai dianggap bumi dan langit, berikut coba kita simak siapa timnas U-23 Australia itu? Dan, bagaimana kondisi timnas U-23 Indonesia.

    Timnas U-23 Australia

    Kendati kursi pelatih kepala timnas U-23 Australia masih kosong dan Australia hingga kini belum melakukan persiapan, namun timnas Australia adalah tim yang sudah jadi dan tentu saja dihuni oleh pemain-pemain dengan level dunia.

    Cikal bakal timnas Australia tentu tim yang sudah tampil di Olimpiade Tokyo 2020. Bahkan tim ini pun berhasil menggilas Argentina dua gol tanpa balas di Tokyo, meski berikutnya harus kalah dua kali.= Berkat duduk di urutan ketiga pada Piala Asia U-23 2020 hingga menjadi satu dari tiga wakil Asia di Olimpiade Tokyo 2020, tim yang tadinya diasuh Graham Arnold, kini jabatan pelatih kepala sementara dialihkan kepada sang asisten, Gary van Egmond.

    Karenanya, komposisi pemain timnas U-23 Australia diprediksi tidak akan berbeda jauh dengan yang dibawa pada Olimpiade Tokyo 2020 lalu, meski sempat menekuk Argentina dengan skor 2-0, namun kalah oleh Spanyol dan Mesir pada fase grup.

    Bila cikal bakal yang akan turun meladeni Indonesia adalah tim yang tak berbeda dengan yang turun di Olimpiade Tokyo, maka bisa benar, anggapan tentang bumi dan langit itu.

    Berdasarkan data pemain yang turun di Olimpiade Tokyo 2020, tercatat ada empat pemain Timnas Australia U-23 yang merumput bersama klub-klub Liga Inggris. Mereka ialah Jay Rich-Baghuelou (Crystal Palace), Harry Souttar (Stoke City), Riley McGree (Birmingham City) dan Caleb Watts (Southampton).

    Bahkan Caleb Watts mentas di kasta teratas Liga Inggris, Premier League, biasa bermain sebagai gelandang, dan lebih diandalkan untuk tim Southampton U-23 yang turun di Premier League 2.

    Di luar pemain yang merumput di Liga Inggris, juga ada yang berkiprah di Liga Jepang bersama Urawa Red Diamonds. Sosok yang dimaksud adalah Thomas Deng.

    Dengan memperhatikan data, fakta, dan keberadaan timnas Australia di luar ranking FIFA, jelas Astralia U-23 adalah tim kelas dunia. Urutan 3 di Asia, mentas di Olimpiade Tokyo 2020, dan dihuni pemain-pemain yang berlaga di kompetisi mentereng di luar pemain yang juga mentas di kompetisi domestik Australia, maka bisa dibilang, timnas Garuda U-23 tidak selevel dengan timnas Australia U-23. Benar, ibarat bumi dan langit.

    Fakta timnas U-23

    Timnas U-23 Indonesia belum pernah sekalipun menembus Piala Asia U-23. Indonesia selalu gagal di babak kualifikasi sebelum menyentuh ke babak utama alias putaran final. Dalam edisi terakhir di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, timnas U-23 Indonesia yang masuk Grup K bersama tiga negara sesama ASEAN yakni Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam, digelar di Vietnam pada 22-26 Maret 2019, timnas U-23 Indonesia yang dinakodai oleh Indra Sjafri langsung tumbang 0-4 di tangan Thailand. Juga takluk 0-1 dari tuan rumah Vietnam pada laga kedua.

    Meski di laga ketiga menumbangkan Brunei Darussalam dengan skor tipis, 2-1, tetap tak mampu menolong timnas U-23 Indonesia untuk lolos ke babak selanjutnya.

    Di ajang itu, Thailand dan Vietnam yang lolos ke babak berikutnya pun terhenti. Dan, calon lawan timnas U-23 sskarang malah menjadi juara 3 dan lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.= Kini, saat timnas U-23 dengan siapa pun pelatihnya, dan meski juga mereka belum melakukan persiapan seperti pasukan Shin Tae-yong (STy) yang malah sudah TC dan akan melakukan uji coba di Tajikistan, tetap saja, timnas Australia adalah tim yang sudah siap tempur.

    Terlebih, pasukan STY juga dalam kondisi pincang karena tidak akan diperkuat beberapa pemain andalan Indonesia yang merumput di luar negeri. Di perkuat oleh seluruh pemain yang diandalkan saja, kekuatan Indonesia diprediksi tetap tak selevel dengan Australia. Apalagi kini dalam kondisi pincang. Jadi, memang anggapan bumi dan langit itu masuk akal, logis.

    Tetap berjuang

    Dengan kondisi tim yang pincang, adanya anggapan bak bumi dan langit, serta fakta belum pernah lolos dari babak Kualifikasi sekalipun, padahal lawannya terakhir masih Thailand dan Vietnam, di depan mata, kini lawannya Australia.

    Untuk itu, ini menjadi kesempatan pertama bagi Indonesia, apakah di tangan STy dengan kondisi pemain yang pincang, justru akan mampu mencatatkan sejarah bahwa timnas Indonesia akan mampu mengalahkan Australia yang levelnya dunia, bukan Asia?

    Kesempatan itu pun justru harus satu lawan satu, atau berlaga dalam dua leg meladeni Australia, karena dua tim di Grup ini mundur.

    Kita tunggu, apakah anggapan bumi dan langit itu benar-benar akan terbukti? Atau sebaliknya, pasukan Garuda akan memberi bukti kepada publik sepak bola nasional bahwa mereka dan Australia sama-sama tim dari bumi dan Indonesia bisa membalikkan prediksi?

    Kita lihat buktinya pada Rabu, 27 Oktober 2021 pukul 19.00 WIB dan Sabtu, 30 Oktober 2021 pukul 19.00 WIB tatkala pasukan yang dibilang bumi dan langit itu bentrok.

    Ayo Garuda, kalian juga bisa menjadi langit seperti pasukan Australia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.078 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.