Polemik Mustafa Kemal Ataturk, antara Baik dan Buruk - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sumber: Wikipedia/tempo.co

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 22 Oktober 2021 17:51 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Polemik Mustafa Kemal Ataturk, antara Baik dan Buruk

    Nama tokoh nasionalis Turki, Mustafa Kemal Ataturk, sekarang ini menjadi sorotan publik lantaran pemerintah merencanakan untuk menyematkan namanya sebagai nama jalan di kawasan Menteng Jakarta Pusat

    Dibaca : 859 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Belakangan ini, khususnya di DKI Jakarta, tengah terjadi polemik terkait usulan penamaan jalan yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

    Hal itu muncul setelah Pemerintah Turki menganugerahkan nama jalan di depan kantor Kedutaan Besar RI Ankara yang baru dengan nama Jalan Ahmet Soekarno. Sehingga atas nama asas resiprokal (saling berbalas), pemerintah Indonesia pun berniat untuk menyematkan nama Mustafa Kemal Ataturk, tokoh nasionalis, dan dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat tersebut.

    Memang di mata politikus Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, Haji Lulung, atau Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas, menilai Mustafa merupakan sosok yang mengacak-acak ajaran Islam.

    Sebagaimana dikutip dari Tempo.co, lebih jauh Anwar Abbas mengatakan bahwa, Kemal Ataturk merupakan tokoh sekuler yang tak percaya agamanya dapat membawa Turki menjadi negara maju. Anwar menyebut dalam upaya meraih itu, Mustafa justru menjauhkan rakyat Turki dari ajaran agama Islam.

    Sementara menurut Fachri Hamzah, maupun Wakil Katib Suriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, Taufik Damas, justru berpendapat lain. Bahkan nama yang disebut belakangan, terkesan menantang publik untuk mencari tahu latar belakang kelompok masyarakat yang menolak nama Mustafa Kemal Ataturk untuk disematkan menjadi sebuah nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta tersebut.

    Dalam acara Apa Kabar Indonesia yang ditayangkan kanal YouTube tvOneNews (18 Oktober 2021), Taufik Dammas menegaskan, "Kalau ditanya (usulan nama jalan Mustafa Kemal Ataturk) menyakiti hati umat Islam, itu saya hanya bertanya, itu umat Islam yang mana? Karena umat Islam yang punya pengalaman langsung dengan Mustafa Kemal Ataturk ya umat Islam Turki." 

    Secara kasat mata, sesungguhnya polemik yang muncul terkait masalah tersebut muaranya tetap saja pada kepentingan politik masing-masing yang angkat bicara.

    Kubu pertama, yang menentang usulan tersebut, publik pun tanpa harus membuka arsip lagi mengetahui sepak-terjangnya di kancah politik maupun pandangan agama Islam yang diyakini mereka. 

    Demikian juga halnya dengan Taufik Dammas, dan Fachri Hamzah - terlepas dari perubahan drastis yang bersangkutan belakangan ini, yang memberikan sinyal dukungan untuk memberikan nama tokoh nasionalis Turki tersebut pada sebuah jalan di kawasan Menteng Jakarta Pusat itu.

    Akan tetapi terlepas dari pro dan kontra ihwal penamaan jalan di kawasan Menteng Jakarta Pusat dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, sudah saatnya bangsa Indonesia ini menyikapinya lebih dewasa lagi.  Paling tidak rasionalitas pemikiran yang berdasarkan pengembangan wawasan dan pengetahuan, baik dari aspek sain, maupun agama perlu untuk ditingkatkan lagi.

    Sebagaimana halnya dengan sosok Mustafa Kemal Ataturk yang menjadi polemik sekarang ini, bisa jadi kita dituntut untuk mengetahui sudah sejauh mana tentang tokoh bangsa Turki tersebut. Kita seyogyanya melakukan pemetaan pemikiran secara objektif, tidak hanya dari satu sudut belaka - dengan menggunakan kacamata kuda, misalnya.

    Dengan kata lain, meminjam kosakata agama Islam, pertimbangan manfaat dan mudharatnya itu perlu dikaji dari berbagai sumber keilmuan. Sebagaimana yang sering terdengar, jika Islam itu rahmatan lil alamin, sudah semestinya bukan sekedar diucapkan dengan berbuncah ludah di podium belaka.

    Sehingga jangan ngaku demokratis, apa lagi Pancasilais, jika masih sikut-sikutan, dan di baliknya ternyata hanya sebatas demi kepentingan pribadi dan kelompoknya saja, Bro! ***

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.