Puan Tanam Padi Sambil Hujan-hujanan, Demi Pencitraan? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 14 November 2021 16:40 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Puan Tanam Padi Sambil Hujan-hujanan, Demi Pencitraan?

    Puan Maharani terus berupaya mendongkarak elektabilitasnya yang saat ini masih berada di posisi buncit di antara para tokoh. Salah satunya dengan berkegiatan ikut menanam padi saat hujan. Bukannya mendapat sambutan positif, aksi itu justru menuai sindiran dan cibiran.

    Dibaca : 4.054 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Belakangan ini di jagat Twitter sedang menjadi trending tagar #PuanOverActing, usai menanam padi bareng petani sambil hujan-hujanan, di sebuah areal persawahan di kabupaten Sleman (11/10) lalu. 

    Tentunya publik pun terbelah menjadi dua melihat foto kegiatan anak kandung ketua umum DPP PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri yang satu ini. Selain ada yang mendukungnya - yang sudah bisa langsung ditebak kalau bukan dari jajaran internal PDI-P sendiri, ternyata lebih banyak pula yang berkomentar dengan nada menyindir dan mentertawakannya. 

    Bahkan seorang mantan Menteri KKP, Susi Pudjiastuti, dengan emotikon tangan menelungkup,  mencuit: "Biasanya petani menanam padi tidak hujan hujanan," tulis Susi di akun Twitter-nya. Tak lama kemudian, cuitan itu di- retweet anggota komisi I DPR RI, Fadli Zon,

    "Belum pencitraan 4.0?" tulisnya. 

    Cuitan Susi Pudjiastuti, sesungguhnyalah mewakili suara warga yang menganggap kegiatan Puan Maharan, selain sebagai sesuatu yang ujug-ujug, juga terkesan dipaksakan. 

    Betapa tidak. Sebagaimana sudah diketahui, elektabilitas Puan Maharani sebagai calon presiden yang digadang-gadang para petinggi PDI-P, persentasenya seolah masih tetap saja berkutat di posisi yang memprihatinkan. Sebagaimana misalnya hasil survei Litbang Kompas beberapa waktu lalu. Elektabilitas putri mendiang Taufik Kiemas ini kurang dari satu persen. 

    Begitu juga saat beberapa waktu lalu banyak tersebar baliho bergambar beberapa tokoh yang disebut akan maju sebagai capres, termasuk Puan, ternyata politik tebar pesona lewat kepak sayap kebhinekaan pun tak mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas mantan Menko PMK tersebut. 

    Ibarat Sedang Mendorong Mobil Mogok 

    Publik tak sedikit yang menganggap partai berlambang kepala banteng dengan moncong putih itu sedang berusaha mendorong sebuah mobil yang sedang mogok agar mampu berjalan kembali dengan normal, bahkan dapat ngebut  mengejar, dan mendahului mobil lain yang sudah jauh meninggalkannya di depan. 

    Lantaran ambisi yang berlebihan itu juga, mereka yang tengah berkutat mendorong mobil mogok... Eh, Puan Maharani, agar elektabilitasnya mampu diraup lebih besar lagi, bahkan kalau bisa bisa melewati Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan juga Ganjar Pranowo, segala daya dan upaya pun dilakukan. Termasuk nyinyir, seperti perempuan yang tidak mendapatkan uang belanja dari suaminya, kepada para pesaingnya - tentu saja. 

    Padahal, ya! Padahal andaikan Megawati berambisi untuk mendorong anak perempuannya itu menjadi pemimpin di negeri ini, sebagaimana kakeknya, Bung Karno, maupun ibunya sendiri, walau menjabat presiden cuma melanjutkan mendiang Gus Dur, dan tidak sampai satu periode sekalipun, idealnya sejak jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. 

    Selain untuk mengetahui dan mengenal, juga memahami lebih jauh lagi situasi dan kondisi  masyarakat Indonesia, juga di dalam sikap dan perilaku yang memiliki trade mark "merakyat" sebagai kata kuncinya, paling tidak mengikuti langkah pendahulunya yang merangkak dari bawah, yakni Joko Widodo, toh mampu merebut perhatian masyarakat banyak. 

    Andaikan, ya, andaikan saja skenario Megawati dalam mendukung Puan Maharani agar memiliki nilai jual yang tinggi, apabila dipersiapkan sejak Jokowi memenangkan Pilpres 2914 saja, dengan pencitraan yang merakyatnya, bisa jadi elektabilitasnya tidak jeblok seperti yang terjadi saat ini. 

    Sebab bagaimanapun juga jika hanya dalam tempo dua tahun saja merubah seorang Puan yang sebelumnya di mata warga sebagai seorang putri mahkota yang hidup di lingkup seputar kerajaan, dan secara ujug-ujug, atau dengan kata lain secara instan, terbukti sekarang ini. Bukannya disambut dengan euforia, sebaliknya justru malah mendapatkan sindiran dan cibiran. ***

    Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali