Totalitas Pengabdian Seorang Mahasiswa untuk Peradaban Sesamanya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 20 November 2021 08:45 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Totalitas Pengabdian Seorang Mahasiswa untuk Peradaban Sesamanya

    Sebuah kisah nyata tapi langka yang pernah terjadi di negeri ini tentang seorang mahasiswa. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi Z khususnya sebagai penerus dari generasi tua dalam mengabdi dan berbakti kepada bangsa dan negaranya

    Dibaca : 829 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka, dan yang awalnya dianggap kisah fiksi belaka, tetapi nyata adanya.  Lantaran baru kali ini selama hidup saya menemukan kisah seperti ini. Tentang pergulatan total seorang anak muda yang mengabdi untuk meningkatkan peradaban sesamanya. 

     

    Tanpa disengaja memang saya menemukannya. Ketika suatu hari saya pergi ke kota. Sebagaimana biasanya setiap bepergian dari kampung ke kota, selain untuk mencari suasana baru, tidak lupa juga untuk singgah ke perpustakaan yang terletak di salah satu sudut kota Tasikmalaya. Ibaratnya pergi ke Makkah tanpa singgah ke Madinah,  sebagaimana pameo di kalangan umat Islam, kiranya yang saya lakukan setiap berkunjung ke kota terdekat dari kampung tempat tinggal saya. 

     

    Demikianlah. Saat saya berkeliling di sela-sela deretan rak yang berisi berbagai judul buku, tiba-tiba mata saya tersedot pada sebuah buku yang sampulnya seperti telah cukup lama diterbitkannya. Atau mungkin karena telah banyak orang yang membacanya? Aneh. Padahal sudah cukup lama saya menjadi anggota perpustakaan itu. Tapi kenapa baru saat itu saya menemukannya. 

     

    Sampul buku Seorang Lelaki di Waimital (Dok. Pribadi)

     

    Pikiran itu hanya sejenak saja menggerayang. Lantaran tergantikan oleh kekaguman, sekaligus haru-biru yang mendalam. Setelah selesai membacanya, tentu saja.  Betapa tidak. Sebab rasanya suatu yang mustahil terjadi di zaman sekarang ini. Anak-anak muda dari desa yang berlomba mencari ilmu pengetahuan setinggi langit pun, akhirnya kebanyakan dari mereka lebih memilih duduk di belakang meja dalam ruangan yang kental dengan kemewahan. Sama sekali enggan pulang, untuk mengamalkan ilmunya bagi kerabat maupun sesama di pelosok desa yang masih tertinggal. 

     

    Sebaliknya, seorang Muhammad Kasim Arifin, yang terdaftar sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), saat melaksanakan tugas kuliah kerja nyata (KKN), yang saat itu, tepatnya pada tahun 1964 dinamakan Program Pengerahan Mahasiswa, Kasim muda ditugaskan nun di sebuah desa terpencil bernama Waimital, yang terletak di pulau Seram, Maluku, tanpa sedikitpun keraguan dirinya bertekad untuk mengabdikan diri dengan seluruh ilmu yang telah didapatkannya di salah satu perguruan tinggi tertua di negeri ini. 

     

    Nurani anak muda yang satu ini langsung trenyuh, sekaligus tergetar melihat fakta di depan matanya saat bertemu dengan keluarga petani miskin yang merupakan pendatang melalui program transmigrasi. Seketika itu juga muncul panggilan dari jiwanya yang paling dalam. Kasim muda langsung menanggalkan segala atribut kota dan intelektual yang melekat pada dirinya. Dia melebur dalam kehidupan desa dengan pakaian yang lusuh dan sandal jepit sebagai tampilan barunya. Bersama para petani dia berjalan kaki menyusuri jalan yang terjal sepanjang 20 kilometer, pergi-pulang saban hari, untuk menggarap dan mengolah lahan dengan harapan bisa merubah keadaan. 

     

    Dengan mengedepankan prinsip kerja berdasarkan gotong-royong, tanpa sedikitpun mendapatkan bantuan dari pemerintah, mahasiswa Institut Pertanian Bogor itu membangun irigasi, membuka jalan desa, mencetak areal persawahan baru, dan mengamalkan seluruh ilmu pengetahuan yang telah diterimanya dari perguruan tinggi kepada para petani tempat dirinya ditugaskan. 

     

    Totalitas pengabdian Kasim muda terhadap para petani di Waimital, Seram, yang disertai rasa cinta dan kepedulian yang begitu besar, membuat dirinya pun dihargai, dan dicintai semua warga Waimital. Bahkan sampai diberi penghargaan gelar Antua, sebagai orang yang dihormati di tempat itu. 

     

    Sebagaimana ketentuan Program Pengerahan Mahasiswa saat itu yang pelaksanaannya hanya tiga bulan, ternyata bagi seorang Kasim dianggapnya belumlah cukup untuk dituntaskan. Ketika semua teman satu angkatannya sudah diwisuda pun, mahasiswa yang satu ini masih tetap asyik-masyuk bersama para petani di Waimital. Bahkan di saat teman-temannya telah lulus dan banyak yang menjadi pejabat, dia tetap bergeming untuk tetap bersama lumpur dan segenap tekadnya. 

     

    Tanpa terasa, Muhammad Kasim Arifin, mahasiswa Institut Pertanian Bogor, yang lahir di Langsa, Aceh, 18 April 1938 itu telah hidup selama 15 tahun bersama para petani di Waimital. Ia bagaikan seorang anak yang hilang. Meskipun orang tuanya di Aceh berulang kali memanggil pulang, begitu juga dengan Andi Hakim Nasution, Rektor IPB saat itu, turun tangan memintanya untuk kembali menyelesaikan kuliahnya yang lama ditinggal, sepertinya tetap tidak ia pedulikan. 

     

    Barulah kemudian setelah Andi Hakim Nasution mengutus Saleh Widodo, salah seorang teman kuliah Kasim untuk menjemputnya, akhirnya meskipun dengan perasaan setengah hati, Kasim pun bersedia memenuhi panggilan dari civitas akademikanya. 

     

    Hanya dengan mengenakan pakaian yang lusuh dan sandal jepit sebagai alas kakinya, hari itu, 22 September 1979 lelaki muda berkulit legam lantaran saban hari terbakar matahari, kembali berkumpul bersama teman-temannya. 

     

    Teman-temannya meminta Kasim untuk segera membuat skripsi, sebagai salah satu syarat kelulusan agar segera diwisuda menjadi seorang sarjana. Tetapi pemuda kelahiran Aceh itu menampiknya. Dirinya sudah merasa tak mampu untuk menulis banyak lagi. Sehingga akhirnya teman-temannya berinisiatif untuk membantu, dengan cara merekam seluruh kisahnya selama di Waimital. 28 jam Kasim terpaksa harus bertutur semuanya. 

     

    Setelah diwisuda menjadi seorang sarjana pertanian, Kasim tidak kembali ke rumah orang tuanya. Dia malah balik pulang kembali ke Waimital. Lantaran dirinya merasa masih banyak beban tugas yang belum diselesaikannya. 

     

    Barulah beberapa tahun kemudian dia menerima permintaan dari Universitas Syiah Kuala,Banda Aceh, untuk mengajar sebagai dosen di tanah kelahirannya hingga pensiun pada 1994 yang lalu 

     

    *** 

     

    Membaca buku yang ditulis Hanna Rambe, dan diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan ini, selain begitu mengharu-biru, juga timbul pertanyaan yang dibarengi harapan: Masih adakah generasi Z saat ini yang memiliki jiwa pejuang seperti Muhammad Kasim Arifin?***



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.