Pengembangan Media Film Pendek Ajisaka - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Devinta Agung Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 19:34 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Pengembangan Media Film Pendek Ajisaka

    Untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Kelas IV SD

    Dibaca : 1.821 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Film adalah hasil peradaban manusia yang dicipta melalui proses kreatif dengan melahirkan impian (imajinasi) melalui teknologi yang hasilnya bisa disaksikan semua orang. Proses kreatif yang berbantu teknologi inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu hiburan yang sangat representatif sebagai tontonan yang menghibur bagi penikmatnya. Efek senang atau sedih yang dapat ditimbulkan saat dan setelah menonton sebuah film adalah alasan yang paling utama kemenarikan sebuah film. Adapun keberadaan media pembelajaran sangat penting bagi pembelajaran karena dengan media pembelajaran dapat menjadikan siswa lebih giat dalam menumbuhkan rasa keingintahuan dan berpikir kritis serta aktif dalam pembelajaran. Sementara itu menurut F. Ahmadi, dkk (2017:129) menerangkan bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar yakni sebagai penyalur, penghubung atau penyampai. Dalam proses  pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Dari berbagai pendapat yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa fungsi utama media pembelajaran yaitu untuk menarik perhatian dan membangkitkan motivasi belajar siswa dalam mencapai tujuan belajar secara optimal.

    Dilihat dari substansi visi dan misi produk, penulis merancang sebuah film pendek berbasis kearifan lokal dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah yang berjudul “Ajisaka(Asal Muasal Aksara Jawa)”. Hasil rancangan ini digunakan sebagai sarana dan jalan kemudahan dalam menangkap makna sehingga diharapkan siswa dengan bimbingan guru selain menguasai kompetensi berbahasa juga sebagai sarana pembelajaran dan penanaman nilai-nilai karakter di jenjang Sekolah Dasar. Adapun  pembuatan film pendek ini meliputi beberapa tahapan. 

    Pra Produksi

    Pada tahap ini dilakukan sejumlah perancangan dan persiapan, di antaranya meliputi:

    1. Konsep ide cerita

    Ide-ide film diperoleh dari berbagai sumber, antara lain pengalaman pribadi penulis, wawancara dengan penduduk, pedagang, petani garam yang berada di sekitar objek wisata Bleduk Kuwu, buku cerita rakyat atau legenda masyarakat Kabupaten Grobogan, dialog dan wawancara dengan para seniman Ketoprak di Kabupaten Grobogan

    2. Menyusun Kru dan Jadwal

    Jadwal harus disusun secara rinci dan detail tentang kapan, di mana, siapa, biaya, peralatan apa saja yang diperlukan, serta batas waktunya. Adapun film pendek ini mengambil konsep kearifan lokal yang ada di sekitar tempat tinggal siswa dan siswa sendiri yang berperan dalam cerita. Sedangkan pemilihan pemeran dan konsep dialog, melibatkan 2 seniman lokal yang berasal dari Kabupaten Grobogan sendiri yaitu Yusuf Sutrisno dan Farel. Keduanya merupakan seniman ketoprak yang pada masa pandemi Covid-19 ini terdampak sepi tawaran pentas  akibat kebijakan PPKM yang berlaku di Jawa Tengah.

    3. Menyiapkan Skenario / scripwriting

    4. Hunting Lokasi

    Dalam memilih dan mencari lokasi pengambilan gambar menyesuaikan naskah. Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko seperti: akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber listrik, dan lain-lain.

    5. Menyiapkan kostum dan peralatan

    Produksi

    Tahapan produksi adalah tahapan yang paling utama karena pada tahapan ini memulai penerapan yang sudah direncanakan pada tahapan pra produksi. Tahap ini adalah tahap di mana kepiawaian sutradara, DOP, dan kru sangat menentukan. Teknik pengambilan gambar yang dilakukan untuk pengerjaan film menggunakan teknik sinematografi.

    Pasca Produksi

    Tahap ini dilakukan setelah tahap produksi film selesai dilakukan, yaitu meliputi: proses editing, review hasil editing, rendering dan mastering.

    Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Karya sastra yang demikian, oleh Abrams dalam Keraf (2015:5) disebut sebagai fiksi historis (historical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta sejarah, fiksi biografis (biographical fiction), jika yang mendasari dasar penulisan fakta biografis, dan fiksi sains (science fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta ilmu pengetahuan.

    Dasar penulisan cerita rakyat “Ajisaka (Asal Muasal Aksara Jawa)” bersumber dari beberapa fakta dan temuan sejarah di masa lampau. Sebagai contoh, penulis melaksanakan observasi secara langsung beberapa objek atau tempat di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. Beberapa lokasi seperti Objek wisata Bleduk Kuwu, sentra pembuatan garam di Desa Jono, dan Objek Wisata Geologi Kesongo. Selanjutnya penulis mengumpulkan dokumentasi  tentang temuan benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, seperti penemuan 140 kg koin kuno, lesung batu, peninjauan penemuan struktur batu bata oleh Balai arkeologi Yogyakarta, yoni, lumpang batu dan artefak. Beberapa benda tersebut hingga saat ini masih disimpan di rumah Bapak Ahmad Taufik Kepala Desa Banjarejo dan sebagian lagi telah dipindahtempatkan dan menjadi koleksi Museum Lokal Kabupaten Grobogan. Cerita rakyat “Ajisaka (Asal Muasal Aksara Jawa)” yang diangkat dalam penelitian ini termasuk cerita fiksi jenis legenda lokal. Keberadaan cerita rakyat ini sudah sering terdengar dan dikisahkan turun temurun oleh masyarakat Jawa khususnya masyarakat di Kabupaten Grobogan. Tokoh legenda Ajisaka  oleh masyarakat Jawa khususnya di Grobogan sering dikaitkan dengan asal mula beberapa tempat yang ada di Kabupaten Grobogan sendiri, misalnya saja Sentra pembuatan garam di Bleduk Kuwu dan Desa Jono serta Objek Wisata Geologi Kesongo yang terletak di Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Blora. Keberadaan tempat-tempat ini oleh masyarakat Kabupaten Grobogan dan Blora, seringkali dihubungkan dengan kisah atau legenda lain yaitu Legenda “Jaka Linglung” yang dalam suatu kisah diceritakan sebagai putera Prabu Ajisaka namun memiliki wujud ular raksasa. Konon, sumber mata air asin yang terletak di Bleduk Kuwu dan Desa Jono itu terbentuk akibat menyembulnya Jaka Linglung dari dalam bumi. Sumber mata air asin itu berhubungan dengan lubang jalan pulang Jaka Linglung dari laut selatan menuju Kerajaan Medang Kamulan setelah berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar.

    Pembelajaran bahasa bagi siswa di jenjang Sekolah Dasar saat ini kurang begitu diminati dan kurang berhasil diajarkan kepada siswa. Siswa sering mengalami kesulitan saat menuangkan ide yang dimiliki. Keterbatasan mediapun menjadi kendala utama bagi guru. Beberapa guru merasa kebingungan dalam memilih media yang tepat untuk pembelajaran bahasa khususnya menulis cerita. Acapkali dijumpai dalam pembelajaran menulis cerita, guru hanya berpedoman pada buku guru dan buku siswa saja. Saat pembelajaran menulis cerita, siswa diminta guru untuk mencari beberapa cerita baik melalui buku teks maupun dari internet saja. Selanjutnya dari hasil tersebut, siswa diminta untuk menuliskannya kembali dengan menggunakan bahasa sendiri. Padahal, jika guru melakukan pengembangan media yang inovatif lalu dimanfaatkan dengan baik, maka pembelajaran bahasa khususnya menulis cerita di jenjang Sekolah Dasar akan menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan salah satunya yaitu dengan memanfaatkan media film pendek berbasis kearifan lokal dari Kabupaten Grobogan.

    Adapun tautan Film Pendek “Ajisaka (Asal Muasal Aksara Jawa)” dapat diakses melalui link berikut: Klik di sini



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.