Gelombang Hallyu di Pesantren - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

BTS promosi Seoul City TVC 2020. Foto: Youtube

zie return

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:37 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Gelombang Hallyu di Pesantren

    gelombang hallyu sudah serupa wabah yang menjangkiti para kalangan muda. ia tidak mengenal status dan wilayah sebagaimana hallyu juga digandrungi oleh para anak muda pesantren (santri).

    Dibaca : 932 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Gelombang Hallyu di Pesantren

    Oleh: Ilfatur Roziqoh, mr

    Berbicara tentang K-Pop, mungkin langsung terbersit dalam benak kita sederet nama-nama artis-artis dan boyband-girlband korea selatan yang tengah banyak digandrungi oleh para muda-mudi saat ini. Sebut saja EXO, BTS, Black Pink, Song Jong Ki, Lee Min Ho, dan lain sebagainya. Serupa virus covid-19, pecinta K-Pop juga telah mewabah ke seluruh negara-negara di dunia dan banyak menyedot perhatian masyarakat dunia. Tercatat, sepanjang 2016 sampai 2017 penggemar hallyu atau “gelombang korea” mencapai 14 juta orang. Hingga saat ini angka itu naik sekitar 22 persen dengan total 89,19 juta penggemar secara global.

    Hallyu sendiri muncul pada pertengahan 1990-an setelah korea mengadakan hubungan diplomatik dengan tiongkok pada tahun 1992. Namun baru hadir di pasar global pada pertengahan tahun 2000-an dan langsung menarik banyak penggemar dari asia tenggara hingga menyebar ke Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Lalu, K-pop semakin mendunia sejaknya dirilisnya lagu Gangnam Style oleh PSY pada tahun 2012. Hingga saat ini pecinta k-pop terus menjadi hiburan yang banyak digandrungi, bukan hanya di kalangan anak muda, tetapi juga orang dewasa seperti halnya ibu rumah tangga.

    Dunia pesantren merupakan tempat yang tidak luput dari wabah hallyu tersebut dan berhasil menyerang para santri.  Bahkan tidak sedikit dari mereka sangat fanatik dengan segala hal berkaitan dengan negeri gingseng tersebut. Mulai dari mempelajari bahasa korea, mengumpulkan berbagai aksesoris artis Korea, hingga mempelajari kebudayaan mereka. Jika kita melihat dari perkembangan zaman yang semakin maju, tentu hal itu merupakan hal positif. Karena mengetahui bahasa baru merupakan tambahan pengetahuan. Selain itu, di era teknologi dan informasi yang serba canggih seperti saat ini, santri tidak lagi terkesan kolot dan terbelakang. Dari informasi yang didapat, santri dapat mengasah kreativitasnya dalam mengahsilkan karya.

    Namun, dari hal itu juga terdapat beberapa dampak negatif bagi santri. Salah satunya adalah hilangnya jiwa kesantrian berupa kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman yang seharusnya tertanam dalam jiwanya. Hal itu dapat kita lihat antusiasme mereka mulai dari menirukan gaya orang korea, histeris ketika melihat idolanya meski sebatas melihat foto, menonton video atau filmnya, bahkan mereka menangis dibuatnya. Kefanatikan terhadap k-pop juga menyebabkan mereka semakin minim dalam menyadari hakikat identitas mereka sebagai agen problem solver dalam masyarakat, sehingga mereka cenderung acuh dan awam terhadap problematika yang dihadapi masyarakat.

    Abu Al-‘Atahiyah dalam syairnya mengatakan bahwa ada tiga penyebab seseorang itu celaka; muda, waktu luang, dan harta. Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa waktu luang dan harta yang tidak bisa digunakan dengan baik dapat menyebabkan kita celaka. Seperti menghabiskan waktu dan uang untuk update perkembangan media sosial, fashion, dan k-pop, maka perhatian dan kepedulian kita pada sekitar akan semakin rendah. Lebih celaka lagi jika kecintaan kita pada Rasulullah, tokoh-tokoh Islam, para ulama, dan masyayikh tidak sebesar kecintaan kita pada sang idola.

    Oleh karena itu, dalam rangka mencegah dan menanggulangi dampak negatif arus tren sekarang dan masa yang akan datang, banyak cara dan kebijakan yang ditempuh pesantren, seperti larangan membawa gadged ke pondok, membatasi ruang gerak santri, penggunaan akses internet yang terbatas, dan menyibukkan mereka dengan berbagai kegiatan. Seperti perlombaan, organisasi, diskusi, dan lain sebagainya. Hal itu tidak lain untuk menempa santri menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi perkembangan zaman sekembalinya mereka ke kampung halaman masing-masing, mengukuhkan nilai-nilai dan prinsip Islam dalam diri mereka, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya dengan bekal ilmu yan telah diajarkan di pesantren.

    Diantara prinsip yang digunakan pesantren dalam menyikapi transformasi zaman modern ini adalah prinsip kemaslatan yang tertuang dalam dalam kaidah, “al-muhafadzatu ala al-qadiimi al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”. Artinya tetap memegang tradisi positif dan mengimbanginya dengan mengambil hal-hal baru yang lebih bermaslahat. Jadi, jika santri telah memahami dan mengimplementasikan kaidah ini, sekuat apapun arus tren yang menggodanya untuk terbawa, santri akan tetap mampu memilah dan memilih dengan bijak, mengambil manfaatnya dan membuatnya mudharatnya. Dan sejauh apapun ia tenggalam dalam arus kecanduan tren, pada akhirnya dia akan kembali pada apa yang digariskan oleh kyai dan guru di pesantren.

    *Pegiat Literasi di Istana Cinta Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura sekaligus Mahasiswa di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.