Eksistensi dan Fungsi Sastra Dalam Pembangunan Karakter - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Sastra

Ruqyah Cirebon

Jurnalistik
Bergabung Sejak: 12 Juli 2021

Minggu, 28 November 2021 15:12 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Eksistensi dan Fungsi Sastra Dalam Pembangunan Karakter

    Sastra merupakan produk budaya yang eksotis. Eksotis di sini berarti sastra memiliki ciri khas atau daya tarik untuk menarik perhatian bagi sebagian orang.

    Dibaca : 1.396 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sastra merupakan produk budaya yang eksotis. Eksotis di sini berarti sastra memiliki ciri khas atau daya tarik untuk menarik perhatian bagi sebagian orang. Di dalam sastra terkandung kontemplasi kehidupan yang komplek dan mendalam tentang hal-hal yang nyata dan tak nyata; yang telah, sedang, dan akan terjadi; serta yang mungkin dan tidak mungkin terjadi. Keeksotisan yang dimiliki sastra karena dunia sastra adalah dunia dalam kata, dunia fiksi, dunia buatan, dan dunia kebebasan mencipta.

    Namun dalam kenyataanya, eksistensi atau keberadaan sastra bagi masyarakat Indonesia masih dipandang kurang penting, tidak sepenting bidang-bidang yang menghasilkan produk praktis. Tidak banyak orang yang membaca, menghayati dan menafsir sastra, apalagi menggunakan sastra sebagai sumber kebijaksanaan. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk para santri pondok pesantren Daar El-Qolam yang kita ketahui mereka lebih berfokus pada agama.

    Beberapa santri menyampaikan pendapatnya ketika saya bertanya kepada mereka melalui perantara saudari saya tentang seberapa penting dan manfaat mempelajari sastra di dalam pesantren,

    Salah satu santri berpendapat, “Menurut saya sastra berguna di dalam pondok, karena karya pesantren berkisar pada cerita rakyat dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam. Dengan adanya sastra bentuk umum dari sebagian besar pelajaran bahasa Indonesia dapat dipelajari, dengan begitu kita dapat mengetahui bagaimana cara berpuisi, berpidato, mendongeng, dan membuat kita percaya diri dalam berbicara

    Jas Pengantin Pria

    Dan santri yang lainnya pun berpendapat, “Bermanfaat karna dalam pondok ada kegiatan El-Markazi dan dapat membantu dalam tata cara membuat puisi agar menarik orang mendengarnya, dan juga dapat memotivasi para santri untuk membuat poster dan hiasan pada acara-acara dalam pondok seperti Dais dan Art show dengan ini dapat meningkatkan kreativitas santri”,

    Dari pendapat para santri tersebut dapat kita lihat kesimpulannya bahwa mereka senang, suka, butuh, dan ingin mempelajari sastra tetapi minimnya fasilitas seperti elektronik atau buku yang kurang, jadwal dan kegiatan yang padat, rencana belajar yang garis besarnya pada agama, dan minimnya bahan sastra membuat mereka tidak dapat mengeksplor sastra lebih jauh. Namun, mereka tetap mempertahankan keberadaan sastra di dalam pesantren. Salah satu keuntungan santri mempelajari sastra adalah pola bahasa santri dapat meningkat dan tidak monoton serta membantu santri dalam bersaing di dunia kesastraan, terlebih pondok pesantren selalu mengedepankan bahasa.

    Melalui sastra, para santri dapat meningkatkan kreativitas dalam bidang kesenian dan meningkatkan gagasan santri untuk lebih terbuka terhadap budaya dan nilai sastra. Serta menjadikan lingkungan pondok lebih indah dengan nilai-nilai sastra karena mengandung nilai pendidikan dan kebudayaan. Maka dari itu, masyarakat Indonesia harus lebih peka dan terbuka akan keberadaan sastra yang merupakan salah satu harta karun bangsa Indonesia. Masyarakat harusnya lebih banyak mengeluarkan pendapat, tafsiran, apresiasi, dan ekspresinya terhadap karya sastra karena kita tidak seperti para santri yang tertahan peraturan, fasilitas, kebebasan mendapatkan informasi, dan lainnya.

    Tinjauan Pustaka

    Manuaba, Ida Bagus Putera. Pidato: Eksotisme Sastra: Eksistensi dan Fungsi Sastra dalam Pembangunan Karakter dan Perubahan Sosial. Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sosiologi Sastra pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. 6 September 2014. Surabaya.

    Referensi : Jas Pengantin Pria

    Ikuti tulisan menarik Ruqyah Cirebon lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.