Su... - Fiksi - www.indonesiana.id
x

S Prasnowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Senin, 29 November 2021 10:20 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Su...

    Cerita pendek tentang hubungan keluarga.

    Dibaca : 199 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Su...

     

    Seteko teh melati tersaji pagi ini...

    Kepulan uap panasnya menyeruak lambat dari air tanpa riak;

    mewangi di selisip rongga indera...

    Satrio membiarkan aromanya memenuhi seisi rumah: di setiap ruang kamar,

    bahkan sampai setiap relung hati penghuninya yang samar...

     

    Pagi ini, di penghujung bulan Oktober, Satrio melangkah menuju pool bus antarkota dan provinsi yang ada di dekat rumahnya. Wajahnya segar sehabis dibasuh air dan sabun wajah beraroma jeruk nipis. Tidak lama melangkah, ia telah sampai di tempat tujuannya itu.

    Setelah bertanya kepada si empunya pool bus, Satrio menunggu di bibir pintu gerbang tempat itu. Sesekali ia menatap jauh ke jalan raya. Untuk membunuh waktu ketika menunggu itu, ia menyulut sebatang gulungan tembakau. Di antara waktu itu, ia ketikkan beberapa kalimat untuk merespon pertanyaan teman-teman di ponsel pintarnya.

    Tetiba Satrio terdiam. Kepulan asap dan jemari tangan pun seolah beku dalam padang salju waktu. Saat itu, ia membaca sebaris kalimat yang masuk dalam layar.

    "Bis ke bandaranya udah dateng, Mas?"

    ***

    Satrio masih ingat betul aroma kota asal ayah-ibunya. Siang ini, pagi tadi, petang atau malam nanti; baginya aroma kota itu terasa sama. Gemerisik angin yang menyentuh dedaunan di tepi jalan adalah latar suara perjalanannya menuju kampung halaman ayah-ibunya. Derap putaran roda dan sesekali bunyi langkah sepatu kuda adalah simponi pengirngnya. Semuanya itu membuatnya selalu lupa akan waktu, yang dengan seksama meredam putaran jarum waktu hingga nyaris tanpa suara.

    Setibanya di sana, ia segera membeli dua keranjang bunga setaman. Kemudian, ia menaburkannya segenggam demi segenggam dalam khidmat ke atas pusara ayah-ibunya juga kakek-nenek serta buyutnya. Ia juga selalu berdoa setelahnya. Namun demikian, sudah beberapa kali ia di sana, air mata tak lagi turun dari kedua kelopak matanya. Hanya napasnya saja yang  sesekali terdengar seperti tersekat ketika ia memanjatkan doa.

    Pada malam harinya, ia bergegas menuju sebuah rumah besar yang halamannya dipenuhi rangkaian mebel kayu jati dan beberapa bongkahan batu kali. Satrio pun disambut hangat oleh si empunya rumah. Mereka pun berbincang dalam remang rembulan malam. Segelas teh panas pun disuguhkan. Satrio tersentak oleh aromanya. Dalam gelap warnanya tersibak bongkahan gula batu yang tenggelam di dasar gelas itu.

    Setelah dirasa cukup, Satrio menyodorkan sebuah amplop kepada si empunya rumah.

    "Silakan dihitung dulu, Bu Koti," katanya perlahan.

    "Sudah... Saya percaya, kok, sama Nak Rio. Besok, pagi-pagi kijingnya sudah diantar ke makam, lalu dipasang sekalian, ya Nak."

    "Iya, Bu. Jam 8 pagi insyaAllah saya juga sudah di sana, Bu."

    "Silakan, diminum dulu tehnya, Nak Rio.

    Enak loh ini tehnya, melatinya pas dan manis gula batunya juga bikin semangat."

    Entah karena perasaan rindu atau rasa gugup dalam hatinya. Satrio menyeruput teh tersebut dengan penuh perasaan nikmat. Sampai-sampai, ia lupa akan tata krama di kampung halaman ayah-ibunya itu. Dihabiskannya teh di gelas itu sampai tetes terakhir. Bahkan, terdengar kecapannya di bibir gelas itu; seperti kecupan seorang pria pada kekasihnya yang telah lama ia tinggalkan. Selepas itu, Satrio bergegas pamit.

    ***

    Usai waktu subuh, Satrio menyempatkan diri berjalan menyusuri kali. Batu-batu besar yang teronggok kaku di sana adalah prasasti baginya. Di matanya, batu-batu itu bertuliskan catatan kenangannya bersama sang ayah semasa jemari kecilnya menyibakkan air kali disertai tawa riangnya. Batu-batu itu juga seperti bertuliskan narasi harapan-harapan sang ibunda kepadanya selepas kepergian sang ayah menghadap Gusti yang Maha Kuasa. Namun kini, batu-batu itu terlampau penuh untuk ditulisi lagi. Ia hanya mampu menghela napas panjang ketika memandanginya. Terakhir kali ia memandangi batu-batu itu, air matanya berjatuhan ke dalam kali. Tepat 1.000 hari yang lalu, ia menangis tersedu melarung rindu di hadapan bebatuan itu.

    ***

    Saat azan zuhur berkumandang, kijing batu ibundanya selesai terpasang. Para kerabat dan petugas makam pun beranjak pergi. Satrio segera menaburkan bunga ke atas makam ibunya.

    "Aku juga, ya..."

    Ucap lelaki itu seraya menjumput bunga di keranjang mengagetkannya. Namun, Satrio membiarkannya. Ia tahu betul bahwa kakak pertamanya itu memang seperti angin, datang dan pergi sesukanya. Ia ingat betul kekesalannya ketika sang kakak pamit meninggalkan ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit 4 tahun yang lalu. Ibunya dengan legawa memberi izin, tapi tidak dengan Satrio. Saat itu, hatinya seperti dihantam besi galangan kapal.

    “Besarkan hatimu, Su...” bisik Ibu lirih di telingaku saat itu.

    Hingga akhir hayatnya, hanya Ibu yang memanggilku dengan nama itu: Su.        Ya, ayah dan ibu memberiku nama Susatrio. Sebagaimana nama mereka yang diawali suku kata itu: Su, yang dalam bahasa Sansekerta berarti ‘baik, indah’. Namun, aku lebih memilih memenggal namaku hanya menjadi Satrio, tanpa diawali Su.

    Sama seperti kemarin, Satriop menaburkan bunga yang dibawanya ke atas pusara ayah-ibunya, kakek-neneknya, serta buyutnya. Setelah itu, ia beranjak pergi dari makam keluarga ayahnya itu.

    "Aku pulang duluan, Mas Yudis," kata Satrio berpamitan.

    Kakak pertamanya bergeming, diam seribu bahasa. Satrio hanya melihat mata kakaknya merah dan terus meneteskan air mata. Tangan kakaknya terlihat merangkul nisan batu ibunya seolah itu adalah tubuh renta ibu mereka. Satrio seperti berkaca, Seperti itukah aku beberapa tahun yang lalu di makam Ayah dan Ibu? Dia pun terus melangkah kembali menuju rumah pamannya, rumah warisan keluarga kakeknya.

    ***

    Tepat pukul 5 sore, Satrio berangkat ke stasiun. Tidak seperti saat datang, tas punggungnya kali ini terasa berat. Ibu Koti, pengrajin batu nisan, memberikannya 3 kilo gula batu dan beberapa bungkus teh melati sebagai oleh-pleh. Satrio tak kuasa menolaknya.

    Perjalanan malam di atas kereta api kali ini terasa melelahkan baginya. Apalagi, perjalanan ini tanpa ditemani anak dan istrinya. Sepuluh tahun terakhir ia merasakan beban hidupnya berkurang perlahan digerus celoteh anak dan istrinya dalam perjalanan pergi-pulang menziarahi makam ayah juga ibunya.

    Menjelang subuh, Satrio sudah tiba di rumah mungilnya. Istrinya segera membukakan pintu, lalu menyuguhkan minuman.

    "Kopi kamu habis, Mas. Minum teh aja, ya."

    Wangi melati dalam seteko teh menyembul keluar. Satrio langsung teringat akan gula batu yang dibawanya. Ia memasukkan sebongkah ke dalam cangkirnya, lalu menuang teh panas itu. Sejarah panjang teh melati yang berasal dari sisa-sisa hasil kebun teh milik Belanda yang menjadi komoditi ekspor pada masa kolonial di Nusantara pun bergulir dalam kepalanya. Karena berasal dari sisa-sisa teh, rasa teh itu kurang nikmat seperti teh yang diekspor Belanda. Maka, penduduk saat itu mengakalinya dengan menambahkan melati ke dalam racikan teh. Alhasil, teh di tanah kelahirannya ini adalah teh melati, yang kemudian diwarisi ayah-ibunya sebagai tradisi kepadanya setiap pagi sejak pertama kali duduk di bangku sekolah.

    Pikiran Satrio terhenti saat istrinya bertanya dari arah dapur.

    "Minggu depan kamu jadi pergi ke luar kota lagi, ya Mas?"

    "Ke luar kota lagi?" jawab Satrio dengan nada bingung.

    "Iya, kan kata kamu nanti tahlilan 40 hari Mas Yudis kamu bakal dateng.

    Datenglah, Mas... Waktu pemakamannya bulan lalu, kan, kamu gak dateng.

    Apa kata istri dan anak-anaknya nanti kalau kamu gak dateng lagi, Mas?"

    Aku tersedak. Teh melati yang aromanya kurasa nikmat kini terasa begitu menyakitkan tenggorokanku. Aku baru menyadari betapa lemahnya jiwaku sebagai seorang suami dan ayah. Ketika aku melihat Mas Yudis menangis di pusara ibu kemarin, aku benar-benar hanya merasa sebagai anak dan adik bungsu dalam keluargaku. Tak kuhiraukan ia menangis tersedu karena rasa kesal yang masih membelengguku. Kutinggalkan kakakku itu di atas pusara ibuku dalam hampa dan tiada lagi fana.

     

    Satrio meletakkkan cangkir tehnya dengan perlahan. Kedua matanya terpana menatap cangkir itu. Tulisan di cangkir itu membuatnya tenggelam dalam dunia tanya.

    Da steh ich nun, ich armer Tor,

    und bin so klug als wie zuvor.

    (Di sinilah aku, si dungu yang malang,

    tidak lebih bijak dari sebelumnya.)

    J. W. v Goethe

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.