Gadget dan Karya Seni Modern - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Temaziso Zebua

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Kamis, 2 Desember 2021 18:00 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Gadget dan Karya Seni Modern

    Gadget adalah karya seni modern dari sang penemu perangkat elektronik berteknologi tinggi, penting memahami fungsi perangkat ini, sebagai alat yang dapat menolong manusia dalam melakukan aktifitas, namun kesalahan dalam memanfaatkan waktu yang baik dan benar, akan mendatangkan pengaruh negatif terutama di usia anak-anak (usia sekolah)

    Dibaca : 225 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Berdasarkan pengamatan penulis lima tahun terakhir ini melalui media visual dan empiris fenomena penggunaan Gadget dikalangan pelajar dan anak-anak berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi yang menyebar keseluruh pelosok dan daerah di Indonesia. Hal ini sangat di dukungan dengan perluasan jaringan internet dan jangkauan daya beli masyarakat dalam memperoleh perangkat Gadget berbagai merek dan provider yang mudah di dapatkan dengan mudah.

               

    Daya pendukung lain yakni mewabahnya covid 19 membuat para orangtua dan kalangan pendidik memberikan peluang bagi anak dan peserta didik untuk memperoleh Gadget dan perangkat sejenis karena alasan pembelajaran jarak jauh atau yang biasa di kenal pembelajaran online. Perluasan waktu dan fasilitas perangkat yang dimiliki membuat anak mampu menjelajahi dunia maya tanpa kontrol orangtua secara penuh, sehingga sering sekali hali ini menciptakan masalah baru karena anak justru melalaikan tujuan utama penggunaan Gadget dan beralih kepada game online yang tidak berhubungan dengan dunia pendidikan secara formal.

     

                Dilematis, sebab anak-anak tidak punya pilihan lain untuk mengelola tugas belajarnya kecuali melalui Gadget atau perangkat sejenis, seperti laptop atau komputer, Dilema juga bagi orangtua termasuk penulis sebagai tenaga kependidikan, sebab sistem pembelajaran membutuhkan semua perangkat yang dimaksud, dilematis, paradoks dan ambigu, jika salah memahami konsep awal dan kerangka berpikir tentang pengelolaan dan manajemen komunikasi antara anak dan orangtua, antara guru dan peserta didik, dan menurut penulis sebetulnya hal ini ibarat “penyakit kronis yang mematikan secara perlahan-lahan” jika tidak ditangani secara secara dini, dengan kesepakatan dan kesadaran otoritas yang jelas dan bertanggung jawab.

     

                Apa masalah terbesarnya? GAP salah satu masalah yang pelik untuk menyelesaikan masalah ini, gap artinya : kesenjangan; jurang pemisah; perbedaan (https://kamuslengkap.com/kamus/kata-baku-bahasa-indonesia/arti-kata/gap) Solusi dan pengelolaan penggunanaan Gadget pada anak, akan suli dilakukan jika komunikasi dibatasi oleh “gap” dibutuhkan pemahaman dan waktu yang baik untuk membangun jembatan komunikasi kepada anak saat membuat kesepakatan dan aturan yang harus dipenuhi setiap anak, agar tujuan utama dan fungsi gadget bisa diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan. Teladan orangtua juga tidak kalah penting dalam pengelolaan pemahaman ini, kemampuan orangtua dalam membantu anak dalam pendidikan yang baik adalah keteladan yang dilakukan secara konsisten, dan kolaboratif dengan seluruhanggota keluarga. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung dan membangun pengelolaan fungsi Gadget yang solutif dan humanis sebagai berikut :

    1. Kesadaran orang tua dalam mendidik anak adalah mutlak tanggung jawab orangtua, guru dan tenaga kepedidikan di sekolah secara formal hanyalah alat dalam menumbuhkan inspirasi dan melatih anak dalam hal akademik, pendidikan yang sesungguhnya ada dilingkungan anak setiap harinya
    2. Menjaga otoritas orangtua akan sangat berpengaruh pada anak jika orangtua mampu memenuhi tanggung jawab orangtua baik secara emosional, maupun secara spiritual
    3. Kesepakatan perlu dibuat oleh orangtua untuk diterapkan dalam seluruh anggota keluarga, dengan diawali dengan memberi pemahaman, keuntungan jangka pendek dan keuntungan jangka panjang jika aturan kesepakatan dikerjakan dengan baik
    4. Kecintaan anak pada keluarga akan membuat anak mampu mendengarkan dan memahami keadaan keluarga, sehingga dengan rasa ini, orangtu sedikit lebih mudah menerapkan aturan pembatasan pertemanan pada lingkungan yang dapat membuat anak terpengaruh secara negatif.

     

    Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini, tentu sesuai dengan seni atau budaya komunikasi dalam keluarga masing-masing, tidak ada pakem yang sama tentang hal ini, namun bagi penulis nilai positif yang dibangun dengan benar akan menjadi poin penting dalam menyukseskan program pendidikan dalam kehidupan anak,  setidaknya dapat meminimalisir dampak negatif pada diri anak, karena penggunaan perangkat elektonik seperti Gadget tanpa kontrol.

     

                Solutif dan humanis, otoritas dan bukan otoriter, dapat menjadi pilihan pendidik utama dalam mendapatkan anak yang menggunakan Gadget dengan pengaruh positif dan bukan negatif, solutif dan humanis, otoritas dan bukan otoriter karena orangtua tidak menempuh jalur kekerasan melainkan dengan humanis dan rasional, sehingga gap tidak terbangun, komunikasi selalu berjalan dan tujuan utama tercapai. Kendali utama ada ditangan orangtua sebagai motor kehidupan anak, tenaga kependidikan di sekolah menjadi mentor kedua dalam membuat anak mendapatkan keabsahan aturan orangtua sebagai aman ungkapan berikut ini ; “satu teladan lebih baik dari seribu kata-kata” (kutipan dari Aba Love Ministry).

               

                Kesimpulan. Tata suria, dan seluruh alam semesta dipenuhi dengan aturan dan sistem untuk mengaturnya secara konsisten, maka manusia terutama dunia anak, sejatinya dilatih untuk memahami dan menerapkan hal semacam ini, agar mereka terbiasa melakukan aktifitas yang disertai dengan pengawasan terbatas, sehingga di kemuadian hari, anak akan menjadi pribadi yang sadar akan aturan dan otoritas, menghargai kesepakatan dan iklas menerima aturan tanpa disertai spirit pemberontakan. Penjelasan tentang dampak positif sangat perlu diberikan kepada anak agar anak fokus pada konsep positif dan tidak mengabaikan resiko negatif. Care, Love Control and Consistent menjadi kunci keberhasilan argument ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.