Perspicacious - Fiksi - www.indonesiana.id
x

mainan kayu

Sanggita Kanaya Seppa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 21:00 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perspicacious

    Pemikiran anak kecil memang polos, terkadang menohok. Bak kanvas putih nan belum ada setitik tinta pun. Amati, imitasi, lalu konstruksi karakterisasi. Butuh bimbingan cermat dan lugas dari tokoh maktabnya, yaitu orangtua dan guru. Jenis tulisan : cerpen Bahasa : Bahasa Indonesia semi formal

    Dibaca : 149 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Riuhan murid TK di masing-masing kelas menggema, meski sebagian kelas bersuasana sunyi dan fokus. Kelas B3 adalah salah satu diantara kelas heboh tersebut. Terdiri dari 15 anak-anak yang baru terlahir ke dunia sekitar 4-5 tahun silam, serta seorang guru sekaligus orangtua mereka di sekolah. Wajah mereka berseri, lantaran cahaya arunika serta angin pagi sentiasa semilir di kelas penuh warna tersebut.

    Angsana selaku guru TK berdendang dengan ceria, mengunjukkan rasa keibuannya, menceritakan dongeng dalam upaya membentuk moral yang lebih belia. "Kancil kabur sekencang-kencangnya dari si petani! Coba tebak, kancilnya bakal ketangkep, nggak? Umm, Yuna?"

    Yang ditunjuk berdiri dan terkekeh, menampakkan eye smile dan gigi susunya. Gadis itu berpikir dengan jari telunjuknya, "uh ... ndak?? Kancilna kabul telus sembuniii, hehehe."

    "Makasih buat jawabannya, Yunaa. Bener! Sekarang ayoo kita kumpul dan bikin lingkaran yang besaaar." Angsana memperagakan lingkaran menggunakan kedua tangannya.

    Semua anak berkumpul di depan sembari bernyanyi, "lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besaar."

    "Nah, kita bakalan main kejar-kejaran kancil dan petani, cara mainnya sama kayak kejar-kejaran kucing dan tikus! Kalian semua tau caranya, bukan?"

    "Iyaa, Bu Guruuu." Anak-anak kompak bersuara. "Ayo semua hompimpa dulu!"

    "Yang jadi kucing itu Hika, yang tikus Ali. Mana suaranyaa?"

    "Miaw!" Sahut Hika.

    Lain dengan Hika, Ali menggarukan kepalanya bingung. "Buu, suara tikus gimana?" 

    Bukannya menjawab, Angsana menggesekan rautan dan meja guru. "Kayak gini, Alii."

    "Ooh! Ciit, ciiiiiiiit."

    Saat sekelompok siswa tersebut hampir dimulai, Angsana menginterupsi, "pake lagu Si Kancil Nakal, yaa!"

    "Si Kancil anak nakal

    Suka mencuri timun

    Ayo lekas ditangkap

    Jangan diberi ampun~"

    Langkah kaki ribut juga gelak tawa menghiasi permainan itu selama puluhan menit, sebelum salah satu pihak menyatakan kemenangannya.

    "Hiyaaaa, Ali ketangkep sama Hikaa! Hika menangg!" Seru Hika sembari memeluk Ali yang keletihan.

    Angsana tergelak, "ayoo sekarang gantian!"

    "Si Kancil anak nakal

    Suka mencuri timun

    Ayo lekas ditangkap

    Jangan diberi ampun~"

    Permainan tersebut berlangsung sampai bel istirahat berbunyi.

    Anak-anak telah keluar kelas dengan tertib, lalu mereka memakan bekal mereka sembari bermain, mengobrol, maupun bernyanyi. Angsana telah merapihkan peralatan pelajaran, sebelum melihat satu anak laki-laki berdiam diri sembari menggerakan pensilnya di buku. Sesekali ia juga mendumel khas anak kecil.

    Wanita berusia 25 tahun itupun memperhatikan bocah itu dari meja guru, Angsana pikir, anak itu sedang menggambar entah objek apa. Ia dekati perlahan, tidak ingin kegiatan si anak terdistraksi secepat itu.

    Herlino, anak itu langsung menoleh pada Angsana lantaran mengenali aroma parfum gurunya. Parasnya bak kelinci dengan bulu mata lentik itu memiringkan kepalanya, pertanda bingung. "Kenapaa, Bu Guru Sana?"

    Yang ditanya tersenyum teduh, "Ino kenapa nggak makan, hm? Nanti Ino sakit, loh."

    Bocah itu memajukan bibirnya, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu dan merasa buntu, pikir Angsana.

    "Bu Guru, aku heran sama lagu kancil tadi." Herlino menunjukkan sketsa buatannya, "kata lagunya si kancil itu nggak boleh dikasih ampun."

    "Iyaa, bener." Celetuk Angsana, lalu duduk di kursi hadapan Herlino.

    "Nah, kata Bunda, kita nggak boleh sembarangan nyimpen dendam atau hal yang jelek ke orang. Tapi lagunya bilang yang beda." Herlino mengernyit dan memegang kepalanya. "Aku harus turutin yang mana?"

    Sejujurnya, Angsana sedikit terkejut dengan jalan berpikir Herlino. Kritis dan kreatif untuk anak seusianya. Syukurlah, Angsana pandai berpikir logis dan menyusun kata.

    "Ino keren banget, dari cara pikir sama gambarannya," apresiasi tulus Angsana torehkan. "Setelah Ibu pikir-pikir, Ino bener juga. Seharusnya sebagai manusia, kalo ada yang ngelakuin sesuatu yang ngerugiin kita dan orang lain, harus diapain?"

    "Diselesain santai!"

    "Kalo tetep nggak bisa?"

    "Dicari alesan dia ngelakuin itu dan gak boleh main hakim sendiri ...."

    "Ino pintar! Apa itu main hakim sendiri?"

    "Nuduh sembarangan atau sampai ngelukain orang yang salah itu."

    "Iyap! Big applause buat Ino!" Angsana bertepuk tangan, diikuti Herlino. "Ibu pikir, Ibu salah buat yang tadi. Ibu minta maaf sekaligus bilang makasih, ya! Besok Ibu bilang hasil obrolan kita, sekarang ayoo Ino makan dulu."

    Herlino tertawa bahagia, "okayy! Selamat makan, Bu Guruu."

    "Selamat makan juga, Inoo."

    Ikuti tulisan menarik Sanggita Kanaya Seppa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.