Pertunjukan Sandiwara di Panggung Politik Negeri Kita - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 17 Desember 2021 13:05 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pertunjukan Sandiwara di Panggung Politik Negeri Kita

    Perseteruan antara Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, dengan seorang politikus PPP, Haji Abraham Lunggana, alias Haji Lulung, ibarat sebuah pertunjukan sandiwara yang dramatis, penuh intrik, dan bisa juga disebut sebagai komedi yang endingnya membuat penonton terbahak-bahak menyaksikannya

    Dibaca : 4.043 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dunia ini panggung sandiwara

    Ceritanya mudah berubah... 

     

    Sepenggal syair lagu Panggung Sandiwara, gubahan sastrawan Taufik Ismail yang dinyanyikan rocker legendaris Achmad Albar bersama group band God Bless di atas, kiranya merupakan fakta yang faktual sepanjang zaman di dalam kehidupan di dunia yang fana ini. 

    Sebagai makhluk sosial, manusia memang tak pernah dapat lepas dari interaksi dengan sesamanya. Terlepas dari interaksi dan komunikasi itu lantaran satu dengan yang lainnya saling membutuhkan.  

    Sebagaimana juga dalam dunia politik. Sepak-terjang para pelakunya selalu saja menarik, dan layak untuk diperbincangkan. Paling tidak untuk mengingatkan kepada diri kita masing-masing.  

    Bahwa anggapan dunia politik itu kotor dan kejam, ternyata di balik itu semua sungguh-sungguh serupa pertunjukan di atas panggung. Terkadang dramatis, penuh intrik, tapi juga bagaikan komedi yang memiliki pesan yang mendalam. 

    Memang benar. Muara dari semua itu adalah suatu proses persaingan juga. Untuk berebut kekuasaan. Kursi empuk yang menjanjikan, tentu saja. 

    Seperti misalnya hubungan antara Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, alias BTP, yang saat ini menduduki jabatan Komisaris Utama PT Pertamina Tbk, dengan politisi Haji Abraham Lunggana, alias Haji Lulung yang beberapa hari lalu telah wafat, meninggalkan kita semua (Semoga amal ibadahnya diterima, dan segala dosanya diampuni Allah yang mahakuasa. Al Fatihah). 

    Semasa hidupnya, Haji Lulung dikenal sebagai salah satu politikus yang cukup vokal. Sederet kontroversi pun menghiasi karir politiknya. Dari karir politiknya yang dikenal sebagai kutu loncat, selain lama sebagai kader PPP, mendiang pun pernah menjadi kader Partai Bintang Reformasi (PBR), dan PAN, tapi akhirnya berlabuh kembali ke PPP hingga meninggal dunia. 

    Salah satu kontroversinya yang cukup menghebohkan, ialah tatkala Haji Lulung mengatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa, atau piskopat. 

    Tidak hanya sebatas itu saja, penulis mencatat beberapa "insiden" perseteruan politikus PPP yang satu ini dengan Ahok ketika masing-masing menduduki jabatan wakil ketua DPRD DKI Jakarta dan satunya lagi sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta, untuk menggantikan Jokowi yang terpilih sebagai Presiden dalam Pilpres 2014 yang lalu. 

    Misalnya saja ketika Pemerintah DKI Jakarta berencana menata Pasar Tanah Abang. Sementara Haji Lulung memang dikenal sebagai pengusaha yang menguasai lahan parkir di kawasan pasar yang disebut terbesar di kawasan Asia Tenggara itu. 

    Lulung murka ketika Ahok diberitakan sempat berujar bahwa sulitnya penertiban Tanah Abang disebabkan adanya preman yang menjadi beking para pedagang liar di sana. 

    Belakangan Ahok membantah pernah merilis pernyataan macam itu.  

    Tapi apapun penjelasan Ahok, sebagai penguasa informal di Tenabang, Lulung merasa disindir.  

    Apalagi ketika Ahok menuding Lulung tak pantas jadi anggota DPRD jika tak paham Peraturan Daerah Ketertiban Umum yang dirancang dan disahkannya sendiri. 

    Akibat perseteruannya dengan Ahok itu pula, ketika menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, Haji Lulung bahkan pernah berkonflik dengan PPP terkait arah dukungan pada saat Pilgub DKI Jakarta beberapa tahun lalu. 

    Seperti diketahui, DPP PPP kubu Djan Faridz saat itu berencana akan memecat Lulung dan sejumlah kader PPP lainnya karena membelot mendukung Anies-Sandi. 

    Sikap itu dipandang bertentangan dengan keputusan DPP PPP kubu Djan yang secara konsisten mendukung pasangan Basuki Tjahja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI Jakarta. 

    Perseteruan  dalam Politik Itu Tidak Ada yang Abadi 

    Memang benar. Apa lagi di dalam dunia politik. Permusuhan dan pertemanan sepertinya tidak ada yang abadi. Dan yang menjadi tujuan utama adalah kepentingan. Entah kepentingan pribadi, golongan, maupun bangsa itu sendiri. 

    Sebagaimana juga halnya dengan Ahok dan Haji Abraham Lunggana ini.  

    Suatu ketika di hadapan masyarakat Ibukota, Ahok menyatakan, Haji Lulung adalah salah satu temannya. Hal itu diungkapkan mantan Bupati Belitung Timur tersebut dalam acara Lebaran Betawi yang dihadiri banyak Ormas Betawi. Lulung sendiri hadir sebagai Wakil Ketua Umum Bamus Betawi. 

    Ahok menyampaikan, tidak selamanya ia dan Lulung berbeda paham. Bahkan dianggapnya Haji Lulung sebagai sparring partner ketika membangun DKI Jakarta, dalam posisi dan hubungannya sebagai Gubernur dengan wakil rakyatnya. 

    Bahkan ketika kemarin, politikus PPP itu meninggal dunia, Basuki Tjahaja Purnama mengirimkan ucapan belasungkawa, juga sebuah karangan bunga kepada keluarga mendiang Haji Abraham Lunggana. 

    Hal itu pertanda perseteruan antara keduanya merupakan bias di panggung politik semata. Tidak ada kebencian dan dendam yang melekat di dalam dadanya. 

    Sementara itu, kita sebagai masyarakat awam, ketika menyaksikan perseteruan antara elit politik, masih saja terbawa emosi. 

    Seringkali terjadi lantaran hal itu, menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan. Sebagaimana ekses dari Pemilukada DKI Jakarta, Pilpres 2014, dan juga Pilpres 2019. Sampai saat ini masih saja tercium aromanya.  

    Sebutan Cebong dan Kadrun masih juga terdengar, atau juga ditemukan di dalam linimasa suatu media sosial misalnya. 

    Padahal apa sih untungnya buat kita? Jangankan jadi anggota dewan, apa lagi jadi Bupati, Walikota, Gubernur, bahkan Presiden. 

    Paling banter dapat jatah nasi bungkus, atau kaos oblong murahan bergambar mereka, yang haus kekuasaan belaka. Sesudah terpilih, pernahkah pejabat itu datang menyapa dan menyambangi rumah kita? 

    Mereka ternyata faktanya cuma sekedar mempermainkan emosi kita saja. ***

    Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 605 kali