Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu - Analisis - www.indonesiana.id
x

cover buku Sastra Cina Peranakan Dalam Bahasa Melayu

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 27 Desember 2021 14:26 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu

    Buku “Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu” karya Claudine Salmon yang diterjemahkan oleh Dede Oetomo ini adalah salah satu buku penting yang membahas tentang karya sastra yang masih dipinggirkan tersebut. Buku ini adalah bagian pendahuluan dari karya utuh Claudine Salmon yang berjudul “A Provisional Literature in Malay by the Chinese of Indonesia.” Buku aslinya memuat entrée karya-karya dari tahun 1870 sampai dengan akhir 1960-an.

    Dibaca : 2.518 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu

    Judul Asli: Literature in Malay by the Chinese of Indonesia – A Provisional Annotated Bibliography

    Penulis: Claudine Salmon

    Penterjemah: Dede Oetomo

    Tahun Terbit: 1985

    Penerbit: Balai Pustaka

    Tebal: xvii + 249

    ISBN:

    Kapankah sesungguhnya sastra modern lahir di Indonesia (Hindia Belanda)? Pada awalnya Pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa sastra modern lahir melalui Balai Pustaka. Contohnya Profesor Theeuw, 1967 menyatakan bahwa puisi modern dimulai dengan Muhammad Yamin dan novel modern dimulai dengan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (hal. xiii).

    Namun pendapat tersebut segera saja menimbulkan polemik. Sastra modern di Indonesia (Hindia Belanda) tentu tak lahir serta-merta. Pasti ada proses yang mengawalinya. Pramoedya Ananta Toer menyampaikan bahwa ada periode sastra asimilatif yang penulisnya adalah para peranakan Tionghoa. Njo Joe Lan juga menyampaikan bahwa akhir abad 19 sampai abad 20 telah berkembang produksi karya sastra yang ditulis oleh para penulis peranakan. Bahkan C.W. Watson menyebut kesusastraan cina dalam bahasa melayu sebagai pendahulu dari kesusastraaan Indonesia modern (hal. xiii).

    Ada upaya serius untuk melupakan kedudukan karya-karya tulisan para penulis peranakan dalam dunia sastra di Indonesia. Bahkan sampai saat ini, karya-karya yang jumlahnya sangat banyak itu – dalam buku ini Claudine Salmon menyebutkan setidaknya ada lebih dari 3000 karya, sering diabaikan begitu saja.

    Balai Pustakalah yang mula-mula membuat definisi karya yang dianggap sastrawi. Balai Pustaka menggunakan kriteria bahasa yang digunakan sebagai salah satu kriteria untuk menilai karya sastra. Karya-karya yang menggunakan bahasa Melayu Rendah dianggap tidak sastrawi. Menurut kriteria Balai Pustaka tersebut, karya-karya penulis peranakan tersebut dikategorikan sebagai karya liar. Sebenarnya bukan hanya karya-karya penulis peranakan yang dianggap karya liar. Karya-karya Semaun (Hikayat Kadiroen), Mas Marco (Studen Hidjo, Mata Gelap, Rasa Merdeka) dan penulis-penulis bumi putera lainnya juga dimasukkan ke kategori karya liar tersebut. Sebab karya-karya tersebut sering bersisi kritik sosial serta membangkitkan semangat perlawanan kepada penguasa.

    Padahal ada alasan lain dari Pemerintah Hindia Belandadalam mengkatogorikan karya tulisan tersebut; yaitu untuk memberangus penulis-penulis yang melakukan kritik sosial dan memunculkan rasa kebangsaan. Jadi sesungguhnya, upaya penyingkiran karya-karya penulis peranakan dan penulis di luar Balai Pustaka bukan murni alasan kesastraan saja.

    Buku “Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu” karya Claudine Salmon yang diterjemahkan oleh Dede Oetomo ini adalah salah satu buku penting yang membahas tentang karya sastra yang masih dipinggirkan tersebut. Buku ini adalah bagian pendahuluan dari karya utuh Claudine Salmon yang berjudul “A Provisional Literature in Malay by the Chinese of Indonesia.” Buku aslinya memuat entrée karya-karya dari tahun 1870 sampai dengan akhir 1960-an. Sayang bagian entrée ini tidak termasuk yang diterjemahkan.

    Buku ini dibagi dalam empat bab secara kronologis. Bab 1 memuat ringkasan tentang latar belakang dan karya-karya yang muncul dari abad 19 sampai dengan tahun 1910. Sebagian dari karya di periode ini ditulis dengan menggunakan huruf Arab, selain huruf latin.

    Bab kedua sampai dengan bab keempat, berisi tentang karya-karya yang secara berturut-turut terbit dalam periode 1911-1923 (bab 2), 1924-1942 (bab 3) dan 1945 – 1960-an (bab 4). Periodisasi dalam buku ini sepertinya mengcau pada peristiwa-peristiwa sosial politik yang terjadi di Hindia Belanda dan Indonesia. Periode 1911-1923 dipilih karena pada periode tersebut terjadi perubahan politik di Negeri Cina yang sangat mempengaruhi orang-orang peranakan yang ada di Hindia Belanda (hal. 51). Periode 1924-1942 adalah masa dimana para peranakan Tionghoa mempunyai 3 orientasi politik. Ketiga orientas politik tersebut adalah: (1) menganggap dirinya sebagai bagian dari Negara Tiongkok, (2) mempertahankan orientasi kepada Pemerintahan Belanda dan (3) munculnya benih-benih nasionalisme Indonesia. Periode 1945-1960-an ditandai dengan merdekanya Indonesia.

    Karya-karya peranakan Tionghoa dari sejak abad 19 terdiri dari karya-karya terjemakan, saduran dan karya asli. Karya-karya yang diterjemahkan dan disadur, bukan hanya karya-karya berbahasa Cina, tetapi juga karya-karya dari bahasa Arab dan barat. Sedangkan karya-karya asli tidak terbatas pada tema kehidupan sehari-hari orang Tionghoa. Tema-tema tentang budaya lokal, peristiwa-peristiwa sosial politik juga menjadi bahan bagi para penulis Tionghoa. “Gawok” karya Liem Khing Hoo adalah contoh karya asli dengan tema tradisi/budaya lokal Banyumas. Sedangkan buku-buku tentang Buven Digul adalah contoh karya asli yang mengambil tema peristiwa politik dan sosial di Hindia Belanda.

    Karya-karya asli para penulis peranakan yang bertema sosial politik inilah yang mungkin menjadi penyebab karya-karya penulis peranakan Tionghoa dianggap sebagai sastra liar oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sebab dalam karya-karya mereka terdapat pandangan kritis terhadap kebijakan pemerintah.

    Salmon mengelompokkan karya-karya di setiap periode berdasarkan jenis karya. Jenis-jenis karya yang dipakai untuk pengelompokan adalah: (1) novel dan cerpen karya asli, (2) karya-karya Terjemahan (Cina, Barat), (3) teater, (4) kritik sastra, (5) karya-karya yang bersifat sejarah, politk, filsafat dan pendidikan. Di setiap jenis diulas secara ringkas para pengarang dan karyanya. Karya-karya terjemahan pada umumnya adalah tentang cerita silat dari Negeri Tiongkok. Jenis karya ini mendominasi pada periode 1924-1942.

    Buku karya Claudine Salmon ini adalah bentuk nyata dari upaya untuk menempatkan kesusastraan peranakan Cina dalam Bahasa Melayu sebagai bagian tak terpisahkan dari kesusastraan modern Indonesia. Dede Oetomo – penterjemah, berharap bahwa penterjemahan karya Salmon ini bisa mendukung usaha pembauran orang-orang keturunan Cina ke dalam haribaan bangsa Indonesia (hal. xi).

    Sesungguhnya, setelah tahun 1960-an, karya-karya sastra yang ditulis oleh para penulis peranakan Tionghoa masih terus berlanjut. Perlu ada penelitian lebih lanjut tentang periode 1970-1997 dan periode 1998-sekarang. 641

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.