Saranghaeyo dan Resolusi untuk PSSI - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Desember 2021 12:08 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Saranghaeyo dan Resolusi untuk PSSI

    Keberhasilan Timnas Indonesia menembus babak final turnamen piala AFF 2020 yang dilaksanakan di penghujung tahun 2021 di Singapura, tidak lepas dari tangan dingin pengatur taktik asal negeri Ginseng, Korea Selatan. Publik pencinta sepak bola Indonesia meminta PSSI untuk memberikan kesempatan lebih lama lagi kepada Shin Tae-yong untuk merombak total penampilan Timnas Indonesia agar lebih baik lagi dan mampu berbicara di setiap event internasional

    Dibaca : 1.278 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nama Coach Timnas Indonesia asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, saat ini sedang menjadi buah bibir masyarakat pecinta sepak bola di Indonesia. 

    Hal itu lantaran mantan pelatih timnas Korea Selatan yang pernah menjungkalkan kesebelasan Der Panzer, Jerman di Piala 2018 Dunia di Rusia, itu telah berhasil membawa skuad Garuda menuju babak final turnamen piala AFF Suzuki cup 2020, yang digelar di penghujung tahun 2021 hingga jelang awal tahun 2022, di Singapura. 

    Atas keberhasilannya, masyarakat pecinta sepak bola di Indonesia tiba-tiba saja jadi banyak yang mengungkapkan kata-kata dalam bahasa Korea. 

    Antara lain yang penulis temukan di linimasa media sosial adalah ungkapan, "Saranghaeyo Mister Shin Tae-yong", atau juga "Kamsahamnida" yang ditujukan kepada pelatih Timnas Indonesia asal Korea Selatan ini, tentu saja.

    Bisa jadi masyarakat Indonesia yang mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea itu, setelah sebelumnya mendengar dari drakor yang seringkali ditontonnya di layar kaca, atau juga para generasi Z yang tergila-gila pada group band BTS. Hehehe... 

    Dua ungkapan di atas yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, 1. Saranghaeyo artinya saya mencintaimu, dan 2. Kamsahamnida maknanya adalah terimakasih, ditujukan kepada Shin Tae-yong tentunya. 

    Bagaimanapun ketika awal kedatangannya ke Indonesia, banyak masyarakat Indonesia yang kurang mempedulikannya. Karena belum mengetahui banyak latar belakang dirinya. 

    Saat itu, kita masih terhenyak dengan keputusan PSSI yang menendang Luis Mila, pelatih Timnas Indonesia sebelumnya. Lantaran pelatih asal negeri Matador itu pun adalah jebolan klub Barcelona FC yang pernah dihuni cukup lama oleh megabintang Lionel Messi. 

    Paling tidak ketika sebagian masyarakat masih tersihir nama besar Barcelona. Tentunya mereka berharap Luis Mila mampu membuat prestasi Timnas Indonesia seperti FC Barcelona, atau juga memunculkan salah satu pemain Timnas Indonesia sebagus Lionel Messi. 

    Namun lain kepala lain pula pendapatnya. Begitu juga dengan jajaran pengurus PSSI. Ternyata sosok yang pernah menukangi timnas Korea Selatan di World Cup 2018 Rusia juga yang menjadi pilihan mereka. 

    Dan tahukah dengan apa yang dilakukan Shin Tae-yong ketika mengawali tugas sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia? 

    Inilah yang sebelumnya jarang terjadi dilakukan oleh para pelatih yang pernah menukangi Timnas Indonesia. 

    Ketika itu, Mister Shin bersama asistennya yang juga ikut mendampingi Shin sebagai pelatih fisik Timnas Korsel di Piala Dunia Rusia, tahun 2018, yakni Lee Jae Hong, menjelaskan kelemahan fisik timnas Indonesia.  

    Dikutip dari status yang diunggah seorang teman, Yusran Darmawan, di beranda Facebooknya, duet Shin Tae-yong dan Lee, keduanya berkesimpulan, saat itu para pemain Indonesia terbukti hanya sanggup bermain selama satu babak. Di babak kedua, stamina mulai turun. Mental juang sudah hilang. Selain itu, timnas selalu kalah duel. Sekali disenggol, langsung tumbang.  

    Menurutnya, kecepatan pemain Indonesia dan Korea hampir sama. Yang membedakan adalah kekuatan (power), body balance, dan endurance (daya tahan). Indonesia lemah di banyak sisi.  

    Dia juga melihat mental. Menurutnya, pemain Indonesia terlalu baik dan pasrah. Dalam sepakbola, kebaikan itu tidak berguna. “Anda harus melihat setiap pertandingan seperti perang. Di situ, Anda harus punya semangat menang dan mengalahkan. Harus siap bertarung. Kalau perlu membunuh,” katanya.  

    Lee melihat secara holistik. Menurutnya, fisik dipengaruhi oleh tiga hal yakni gaya hidup pemain, budaya, serta pola hidup. Dia menyoroti pemain yang suka makan gorengan dan nasi. Menurutnya, budaya makan mempengaruhi fisik pemain. Untuk kuat dan berotot butuh makan protein yang banyak. 

    Begitulah, langkah awal yang dilakukan pelatih asal Korsel, ini dan hasilnya di turnamen piala AFF 2020 terbukti mampu menjawab keraguan banyak pihak. Baik keraguan yang muncul di dalam maupun dari luar negeri. 

    Seperti yang terlontar dari mulut Safe Sali, mantan pemain Timnas Malaysia yang sebelum meluluhlantakkan tim Harimau negeri Jiran Malaysia, mantan pemain Persib Bandung itu memandang rendah kekuatan Evan Dimas dkk. 

    Sehingga pembuktian kerja Shin Tae-yong yang telah membungkam Safe Sali, dan juga pihak lainnya, merupakan suatu catatan khusus yang patut menjadi perhatian jajaran pengurus PSSI. 

    Apa pun hasilnya - yang diharapkan sih menjadi juara, tentunya -  di dalam perebutan gelar juara di babak final nanti saat berhadapan dengan skuad Gajah Perang, Thailand, posisi Shin Tae-yong harus tetap dipertahankan. 

    Berilah pelatih yang satu ini kesempatan untuk beberapa waktu lagi membentuk Timnas Indonesia. Sebab turnamen piala AFF 2020 sekarang ini, boleh jadi baru menjadi langkah awalnya saja. 

    Bisa jadi dalam event internasional ke depannya, prestasi Timnas Indonesia akan lebih bagus lagi. ***

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.