Tabuik dalam Filsafat Minang - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Festival Tabuik Tahun 1939

Fajar Fikri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Desember 2021

Jumat, 31 Desember 2021 17:45 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Tabuik dalam Filsafat Minang

    Festival Keagamaan adalah hal yang penting bagi kegiatan budaya. Dalam artikel ini, saya akan membahas sedikit sejarah dan bagaimana kaitan festival tabuik dengan filsafat minang.

    Dibaca : 603 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Orang-orang dari pedalaman sumatera barat memiliki banyak cerita rakyat, kepercayaan mistis, dan tradisi sufi, salah satunya yaitu festival tabuik. Tabuik merupakan acara setahun sekali yang diadakan masyarakat pariaman, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Tabuik memperingati syahidnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam pertempuran Karbala pada tahun 680 M. Di seluruh dunia, cobaan berat Hussein kadang-kadang diingat oleh tindakan kemartiran yang tragis dan menyimpang serta melalui peragaan dan prosesi teatrikal.

    Di Padang Pariaman, penggambaran kembali penderitaan Husein di Karbala telah menjadi acara budaya tahunan yang dirayakan pada hari jadinya, hari kesepuluh Muharram. Acara ini mempromosikan kohesi sosial dan identitas daerah serta pariwisata dan perdagangan. Meskipun penduduk Pariaman dan sekitarnya sebagian besar adalah Muslim Sunni, mereka memiliki interpretasi yang ramah dari tradisi Syiah ini. Selama tidak bertentangan dengan aturan Islam, hukum Islam sangat menjunjung tinggi sistem hukum yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Ada aturan terkait adat ini yang berbunyi “alngaadatu mukhamatun” yang artinya “adat yang dapat dijadikan landasan hukum”.

    Tabuik mencerminkan mentalitas dan cara hidup masyarakat Pariaman. Pentingnya upacara tersebut menjadi panutan bagi masyarakat setempat. Inti cerita ini bersumber dari sejarah Islam, yaitu kisah kematian Shahid Husein Bin Abi Thalib (cucu Nabi Muhammad, yang dikenal sebagai Husein) dalam perjuangan melawan Raja Yaziz Bin Muawiyah di provinsi Syam, Padang Karbala, yang terjadi dalam Muharram tahun 61 H.

    Tabuik dapat mempromosikan pelestarian nilai-nilai tradisional Minangkabau di desa Padang Pariaman. Ritual Tabuik diperkirakan memiliki cita-cita implementasi, seperti "Adat basandi syara', syara'basandi kitabullah" (berpedoman pada prinsip-prinsip Islam, ajaran Islam berdasarkan kitab Allah, khususnya Alquran). Maksud dan tujuan (esensi) dalam melaksanakan amalan ini adalah untuk memohon keselamatan, kebahagiaan, dan berkah kepada Allah SWT, serta untuk mengungkapkan rasa syukur atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.