Memaknai Perjalanan Tanpa Penyesalan - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Rabu, 5 Januari 2022 11:34 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Memaknai Perjalanan Tanpa Penyesalan

    Kami sepakat berangkat dengan motor tua akhir hayat itu dengan segala konsekuensi di perjalanan jika pun motornya mogok di tengah jalan. Mengingat kata Bob Sadino yang menggelegar, “Anak muda harus berani mencoba dengan cara-cara goblok”. Kami pun meneguhkan hati. Hari ini kami sadar Bob hanya pura-pura goblok, sementara kami.. ya sudahlah. Nekat, g*bl*k!!! Kami lekas melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Yang jelas rumusnya jika nanti motornya mogok lagi berarti mesinnya panas. Berangkat lagi, tidak ada penyesalan, jalani saja kawan.

    Dibaca : 507 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tak disangka pertemuanku dengan seorang pemuda sesama perantau asal Sumatera Utara di salah satu Gereja di Kota Malang telah membuahkan cerita unik. Tepatnya saat ibadah kami duduk bersebelahan. Seperti biasa jemaat saling bersalaman di akhir acara ibadah.

    Raut muka, tatapan, logat dan cara bersalaman kawan ini seperti berasal dari Sumatera Utara, begitu ucap dalam hati keduanya. Karena rasa penasaran, setelah ibadah kami saling menyapa lalu bercerita sebelum pulang. Benar saja, kami sama-sama perantau asal Sumut yang kuliah di Malang.

    “Marga apa lek, tanyaku”

    “Turnip lek. Kau?”

    “Tarigan lek, jawabku.”

    Senang rasanya bisa ketemu saudara di tanah rantau. Kami lalu bertukar kontak dan lekas meninggalkan gedung gereja. Sebelum berpisah kami bertukar kontak.

    Sejak saat itu, kami beberapa kali janjian ibadah bareng di tempat serupa. Sesekali juga kami berdiskusi di warung kopi. Senasib sepenangungan di tanah rantau yang melatari membuat kami nyambung ngobrol.

    Tiba suatu ketika liburan semester genap panjang. Menimbulkan kejenuhan. Terlebih teman-teman seperkuliahan pulang ke kampung masing-masing. Tidak ada kawan main. Tidak ada kawan bercerita. Kawan makan bareng pun tak ada. Huft..

    Perantau oh perantau pahit manis perjalanannmu. Begitulah kira-kira selama liburan tiga bulan ke depan, pikirku. Baru dijalani satu minggu saja sudah sangat menjenuhkan.

    Apa sekiranya dapat kulakukan mengisi waktu liburan panjang ini agar bermanfaat dan menyenangkan, pikirku sambil rebahan menjelang tidur.

    Pagi hari yang cerah nan penuh harapan, teringat ku dengan kawan sekampung yang sebulan lalu pernah berjumpa di gereja. Aku mencoba menghubungi, mana tau dia juga tidak pulang.

    “Halo kawan Turnip, apa kabar..!?”

    “Ehh kawannku kabar baik, gimana..gimana..!? timpanya.”

    “Aku juga waras kawan, lanjutku, oh ya ngomong-ngomong posisi di mana ini? Pulang ke kampung kah?”

    “Lalu dia menjawab, hahaha.. kita di Malang aja ini kawan, pantang pulang sebelum lulus hehehe..”

    “Ya ya ya menarikk.., perantau sejati emang pantang pulang sebelum menang yaa huahaaha..”

    “Dia lalu lanjut bertanya dengan logat Batak kentara, kenapa emang kawan, ada bisnis yang bisa kita garap? Ada acara? Apa ini kenapa ini? (beliau memang orang yang senang memulai bisnis, setelah memulai lalu memulai lagi, begitu seterusnya.. wkwkwk (canda).”

    “Bukan bukan sodara, ini, kamu liburan panjang ini ke mana? Ada kegiatan kah? Kalau nggak ayok kita budall dolan-dolan, kataku.”

    “Wahh.. menarik kawan, aku juga punya rencana jalan-jalan tapi belum tau ke mana, ujarnyanya..”

    Lantas dia mengajak diskusi di kosnya dekat kampus Universitas Muhammadiyah Malang.

    “Oke kawan siap, gass kan, sampai bertemu nanti sore, ujarku.”

    Sore hari, kami mengobrol rencana tujuan perjalanan sembari ngemil. Perbincangan santai itu menghasilkan kesepakatan, kami akan melakukan perjalanan ke Banyuwangi. Touring coy.. berangkat lewat jalur pantai utara (Pantura), pulang dari jalur pantai selatan. Begitu gambaran rencananya.

    Bayangan kami, banyuwangi itu punya Taman Nasional Baluran, Gunung Ijen, begitupun di perjalanan aka nada banyak persinggahan yang tak kalah menawan menyusuri garis pantai. Kebetulan saya baru saja menempah motor custom serupa CB 100 yang lagi ngetrend.

    Karena motornya baru saja dirakit, jadi sering rewel; kadang mati kadang hidup. Tapi ya namanya jiwa muda menggelora kebelet bertualang, kendala itu tak jadi persoalan berarti.

    Kami sepakat berangkat dengan motor tua akhir hayat itu dengan segala konsekuensi kalau-kalau di perjalanan motornya mogok.

    Yang lebih menantang lagi, duit duit yang kapi pegang hanya 300ribu. Dia punya hanya 100ribu ditambah duit saya 200ribu.

    Senyum tipis kami ragu tapi kebelet berangkat

    “Walah, buat hidup seminggu di Malang saja sudah pas-pasan bro, celetukku”

    Ya namanya jiwa muda berapi-api sudah kebelet.

    “Gampang wess.. nanti kita bisa cari duit dijalan, ujar Turnip.

    “Hehe bijak. Yokkk berangkattt..”

    Entah apa yang ada di pikiran kami saat itu hingga begitu nekat mempertaruhkan harkat dan martabatnya sebagai perantau misquenn.

    Mengingat kata Bob Sadino yang menggelegar, “Anak muda harus berani mencoba dengan cara-cara goblok”. Kami pun meneguhkan hati. Hari ini kami sadar Bob hanya pura-pura goblok, sementara kami.. ya sudahlah. Nekat, g*bl*k!!!

    Kurang lebih dua jam waktu kita siap-siap di kos masing-masing sebelum berangkat. Berbekal sepasang pakaian, tas kecil dan jaket legend, kami berangkat. Tidak lupa sebagai Kristen taat kami berdoa sebelum berangkat (jangan ragukan, biar gedung gereja sebagai saksi).

    Motor tua CB100 yang baru lahir baru pun kami tunggangi lalu melaju santai nan elegan meninggalkan Kota Malang.

    Saat tali gas motor ditarik penuh kira-kira kecepatan maksimal 60km/jam, agak lambat memang. Sulit menyalip kendaraan lain. Kami memilih menyusuri jalan dari pinggir agar tidak terlindas kendaraan lain yang kecepatannya jauh melebihi si tua. Tapi ya nikmati aja perjalanannya kawan.

    Tidak berselang jauh dari Kota Malang, kira-kira di jalan perbatasan Malang-Pasuruan, motor sudah mogok. Huaaa… kami pun menepi dan memeriksa motor. Tidak ada yang paham betul tentang permotoran. Sembari istirahat kami coba engkol dengan semangat agar perjalanan dilanjutkan. Tapi tak kunjung hipup hingga sudah setengah jam kami bergantian mengengkol membuat kaki pegal. Tidak ada tanda-tanda akan hidup. Ingin rasanya pulang saja ke Malang. Ya tapi mau gimana lagi, jika pun pulang ke Malang motornya harus hidup juga.

    Di tengah keputusasaan, kami istirahat sejenak. Mesin motor mulai dingin, dan ketika coba diengkol lagi ternyata hidup. Rupanya tadi mesinnya terlalu panas, karena motornya belum terbiasa melakukan perjalanan agak jauh.

    Niat balik ke Malang pun segera surut. Kami lekas melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Yang jelas rumusnya jika nanti motornya mogok lagi berarti mesinnya panas. Berangkat lagi, tidak ada penyesalan, jalani saja kawan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.