Memuat Tulisan yang Sama di Dua Laman Berbeda Tidakkah Termasuk Plagiarisme? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

sumber foto: sirclo.com

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Selasa, 11 Januari 2022 16:46 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Memuat Tulisan yang Sama di Dua Laman Berbeda Tidakkah Termasuk Plagiarisme?

    Tumbuhnya media online juga memancing kemunculan banyak penulis baru di media daring itu. Kualitas mereka tak kalah dari para penulis di media cetak. Tetapi, di sisi lain, penulis yang sembarangan, yang tidak memperhatikan kualitas, adab, dan etika, juga tidak sedikit. Banyak penulis di media online memuat tulisan yang sama di beberapa laman berbeda. Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari tindakan plagiarisme. Ini juga menjengkelkan pembaca.

    Dibaca : 1.037 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mudahnya memuat tulisan di media online seperti yang kita rasakan  sekarang ini membuat para penulis seperti mengalami euforia. Betapa tidak, sebelum ada media online, mereka tentu merasakan betapa sulitnya memublikasikan sebuah tulisan atau artikel. Halaman media cetak yang terbatas dan banyaknya penulis yang mengirimkan tulisan membuat persaingan dimuat sangat ketat. Tak jarang, sebuah tulisan baru bisa dimuat setelah dua-tiga bulan, atau bahkan setahun sejak dikirim ke redaksi.

    Tidak sedikit pula penulis yang harus gigit jari karena tulisan mereka tidak pernah dimuat. Ada yang sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali mengirim tulisan, ke berbagai surat kabar, tidak satu pun yang dimuat. Sekarang, di era internet , seorang penulis bisa dengan mudah memuat tulisannya di media online, baik itu blog pribadi, maupun laman jurnalisme publik yang kini banyak bermunculan. Jangkauan pembaca blog publik ini bahkan jauh lebih luas daripada media cetak pula.

    Tak heran jika sekarang banyak bermunculan penulis-penulis baru di media online dengan beraneka ragam tema. Hampir-hampir tak terbatas. Kualitas para penulis itu pun tak kalah dibanding penulis media cetak. Tetapi, di sisi lain, penulis yang sembarangan, yang tidak memperhatikan kualitas tulisan, adab dan etika menulis, juga tidak sedikit.

    Menulis di media cetak sekarang bukanlah lagi sebuah kebanggaan seperti hanya di masa sebelum internet dahulu. Dahulu, sebuah surat kabar nasional di Jakarta bisa mencapai tiras lebih dari 600 ribu sehari. Bayangkan, betapa kepuasan batin seorang penulis jika karyanya dimuat di situ. Kini dengan semakin banyaknya pengguna internet, surat kabar mungkin kesulitan menembus tiras 100 ribu eksemplar saja.

    Beberapa surat kabar dan majalah bahkan telah lama menerbitkan edisi terakhir mereka, dan mengucapkan selamat tinggal media cetak, lalu beralih ke media online.

    Tapi sayang, maraknya aktivitas kepenulisan di dunia maya tidak diikuti meningkatnya mutu tulisan, adab, dan etika menulis.  Masih banyak sekali kita temukan tulisan yang dimuat di portal online ternama menggunakan bahasa sembarangan. Banyak kosa kata dan tata bahasa yang tidak tepat. Bahkan itu termasuk laporan jurnalistik yang mestinya ditulis secara anggun dan berwibawa. Padahal di portal tersebut pasti ada editor yang bertugas meninjau penggunaan bahasa seluruh artikel.

    Berbeda, dengan blog Bersama, atau blog publik, dalam laman blog pribadi, orang bisa menulis sesuka hatinya, tanpa ada editor yang memeriksa tulisan sebelum diterbitkan. Tidak adanya editor inilah yang menyebabkan tulisan yang dimuat di blog pribadi tak terkontrol. Seseorang bisa menulis apa saja di blog pribadinya, dengan tata bahasa dan pilihan kata semaunya, tanpa ada yang mengoreksi.

    Adab menulis di media online semestinya sama dengan adab menulis di media cetak. Kalau di media cetak harus menggunakan tata bahasa dan pilihan kata yang baik dan benar, begitu juga semestinya di media online.

    Kalau di media cetak, sebuah artikel tidak boleh diterbitkan kembar (tidak boleh ada dua artikel yang sama, oleh penulis yang sama, diterbitkan di dua media cetak yang berbeda) begitu pulalah seharusnya di media online. Ini adalah kode etik yang sudah berterima dan berlaku di dunia kepenulisan dalam media cetak.

    Akan tetapi, di media online, banyak sekali kita dapati tulisan kembar yang terbit di dua atau lebih laman berbeda.

    Karena para penulis di blog pribadi sering kali merasa tidak puas karena pembaca tulisan mereka hanya sedikit. Mereka lalu menerbitkan tulisan yang sama di beberapa laman blog publik. Harapannya karya itu akan lebih banyak mendapatkan pembaca. Tentu saja tulisan mereka mendapat lebih banyak pembaca ketika dimuat di blog publik karena blog publik mempunyai banyak sekali anggota yang siap membaca tulisan apa saja yang baru terbit. Akan tetapi, etiskah perbuatan tersebut?

    Saya pernah dengar bahwa memuat tulisan yang sama, dengan nama penulis yang sama pula, di dua media online berbeda, termasuk tindakan plagiarisme, alias mencontek. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan tersebut, yang pasti perbuatan tersebut tidak etis. Itu bukan merupakan perbuatan terpuji.

    Memuat dua atau tiga, atau lebih, tulisan yang sama di dua laman yang berbeda berarti mendiskreditkan, atau merendahkan, atau tidak menghargai, laman yang kedua, atau ketiga, dan seterusnya. Sekaligus ini merugikan pembaca.

    Sebuah laman, atau situs, media online (website) mestinya bersifat eksklusif. Apa saja yang dimuat di laman tersebut mestinya berbeda dengan laman-laman lainnya. Ini bukan berarti mereka tidak boleh memuat objek berita yang sama, melainkan mereka harus mempunyai sudut pandang yang berbeda, gaya penulisan yang berbeda, dan penulis yang berbeda pula akan sebuah berita yang sama. Dua portal yang berbeda tidak boleh memuat berita yang sama, dengan kalimat-kalimat yang persis sama, apalagi dengan penulis yang sama pula, dengan media lain.

    Sama dengan media, sebuah tulisan, artikel, semestinya juga bersifat eksklusif. Dia hanya boleh terdapat di satu media,  tidak boleh berada di dua media berbeda. Bahkan walaupun kedua media itu berbeda bentuk, yang satu media online, yang satu lagi media cetak, misalnya.

    Seorang penulis harus menghormati eksklusifitas sebuah media massa, dan eksklusifitas tulisannya sendiri, baik cetak maupun online.

    Dari segi pembaca, sebuah tulisan yang sama yang dimuat di beberapa media online berbeda jelas merugikan. Ketika seorang pembaca mengklik sebuah berita, dan menyadari bahwa dia pernah membaca tulisan tersebut di laman yang lain, tentu saja merasa rugi karena itu berarti dia telah membuang-buang waktu dan energi, dan uang. Karena mengklik sebuah tulisan memakan biaya walaupun sedikit. Itu belum termasuk kerugian psikologis karena timbul rasa jengkel dan sakit hati, misalnya.

    Mendapati dua tulisan yang sama di dua laman yang berbeda sungguh sebuah kerugian yang menjengkelkan.

    Penulis yang tahu adab pasti tidak akan memuat tulisannya di media lain jika tulisan tersebut sudah pernah dimuat oleh sebuah media sebelumnya, termasuk menerbitkannya sebagai buku cetak (printed book).

                                                             

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 614 kali