Pudarnya Teladan Baik dari Pemimpin - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi mencari pemimpin di TTS

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 21 Januari 2022 13:32 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pudarnya Teladan Baik dari Pemimpin

    Pemimpin yang baik akan berusaha mengetahui apa yang diinginkan rakyatnya, bukan bersikap sebaliknya meminta rakyat untuk memahami keinginannya dan bahkan menyetujui apa saja yang ia kehendaki.

    Dibaca : 1.958 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Salah satu persoalan serius dalam kepemimpinan kita ialah lemahnya persambungan antara yang memimpin dan yang dipimpin. Para pemimpin sibuk dengan agenda mereka, sementara rakyat hanya bisa menyaksikan dari jauh: tidak ditanya, tidak didengar, serta tidak diajak berbicara. Rakyat tidak ditanya: 'Saya mau bikin monumen yang monumental, apa pendapat kalian?'

    Pemimpin yang baik akan berusaha mengetahui apa yang diinginkan rakyatnya, bukan bersikap sebaliknya meminta rakyat untuk memahami keinginannya dan bahkan menyetujui apa saja yang ia kehendaki. Ia tidak patut bersikap acuh tak acuh terhadap rakyat—kehidupan mereka, pendapat mereka, serta impian mereka. Rakyat adalah sumber kepemimpinannya,  tanpa rakyat ia bukan pemimpin.

    Apabila pemimpin ingin mengajak rakyatnya menuju tujuan tertentu, yang menurut pemahamannya benar dan baik, semestinya ia berbicara lebih dulu dengan rakyat. Merupakan keharusan bagi pemimpin untuk menjelaskan kepada rakyat dari berbagai lapisan dan dari berbagai ragam, dalam bahasa yang mudah dipahami, hingga mereka mengerti apa yang ia inginkan. Dengan cara itulah, sebagai pemimpin ia menghargai asal-usul kepemimpinannya.

    Seorang pemimpin tidak patut merasa dirinya paling mengerti dan paling benar, apa lagi merasa dirinya selalu benar. Suara rakyat sangat layak didengar dan pemimpin harus bersikap jujur bila menemukan kebenaran pada suara rakyat dengan mengakuinya dan mengakomodasinya. Hanya karena rakyat tidak bersuara bukan berarti rakyat tidak memiliki pendapat. Hanya karena rakyat berdiam diri bukan bermakna rakyat tidak berpikir.

    Tak patut bagi pemimpin untuk memaksakan kehendaknya kepada rakyat, padahal ia dipilih oleh rakyat. Rakyatlah yang membuat ia terpilih untuk memimpin diri mereka, sehingga sungguh tidak elok bila kemudian ia berjalan membelakangi rakyat. Pemimpin tidak patut mengingkari dari mana ia berasal. Tanpa rakyat yang dipimpin, tidak ada pemimpin.

    Seorang pemimpin mesti tahu apa yang menjadi prioritas kebutuhan rakyatnya, dan bukan malah memprioritaskan keinginannya sendiri. Rakyat punya keinginan, tapi yang prioritas untuk dipenuhi terlebih dulu adalah kebutuhan mereka: pekerjaan yang layak dan berkelanjutan, beragam pangan dengan harga terjangkau dan stabil, layanan kesehatan dan pendidikan yang memungkinkan rakyat hidup dengan tenang.

    Rakyat memiliki kebutuhan tertentu yang mendesak untuk dipenuhi. Ada pula kebutuhan yang dapat ditunda dan ada yang dipersiapkan untuk masa depan. Apabila pemimpin menganggap rakyat tidak mengerti apa-apa, menjadi tugas pemimpin untuk mengajak rakyat berbicara; bukan meremehkannya, bukan mengabaikannya, bukan menganggap rakyat hanya akan merepotkan dan membikin lambat pekerjaan.

    Untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan rakyat, pemimpin harus sering terjun ke tengah-tengah rakyat. Penting bagi pemimpin untuk berbicara langsung dengan rakyat dan mendengarkan sendiri apa kesukaran hidup mereka, harapan dan keinginan mereka, impian mereka. Seorang pemimpin mesti curiga pada orang-orang yang selalu ingin menyenangkan hatinya dengan membenarkan apa saja pendapatnya dan memenuhi apa saja keinginannya.

    Orang-orang sekitar yang selalu mengiyakan keinginan seorang pemimpin pada umumnya adalah orang-orang yang ingin terus berada di lingkaran dekat pemimpin. Mereka khawatir akan dijauhkan bila menyampaikan pendapat yang berbeda maupun menyampaikan realitas yang sesungguhnya. Maka, mereka selalu menyuapi pemimpin dengan realitas palsu dan realitas manipulatif demi menyenangkan hati pemimpin. Pemimpin yang tidak pekan akan situasi akan merasa keadaan rakyatnya baik-baik saja, hingga ia keliru mengambil keputusan, ia keliru mendahulukan keinginannya ketimbang kebutuhan rakyatnya.

    Penting bagi pemimpin untuk mendahulukan kepentingan dan kebutuhan rakyat banyak ketimbang memenuhi hasrat sedikit orang, termasuk hasratnya sendiri untuk dapat dikenang sepanjang masa dan dicatat dalam sejarah. Pemimpin yang baik mengerti benar bahwa dirinya tidaklah penting dibandingkan tugas dan tanggung jawab yang ada di pundaknya. Pemimpin yang baik memahami benar bahwa kepemimpinannya berasal dari rakyat, dan kepada rakyatlah ia mesti mengabdikan dirinya. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.