Resensi Novel Dayo - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Dayo \xd penulis usup

Tika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Agustus 2019

Senin, 31 Januari 2022 09:26 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Resensi Novel Dayo

    Novel Dayo, bergenre Drama Romantis dan persahabatan remaja. Novel ini menyasar pada pembaca dewasa muda. Keunikan tema yang mengambil tentang hutan lumut, di tuliskan begitu mendalam, sehingga pembaca terbawa pada suasana betapa indahnya hutan lumut yang ada di desa Long Bena, Kalimantan Timur. Usup, secara spesifik Dayo hanyalah seorang anak laki - laki remaja yang suka membaca buku. Dia suka membantu ayahnya di peternakan lebah untuk mengantarkan pesanan madu - madu asli ke konsumen yang ada di desa. Sampai suatu hari, Dayo menemukan hutan lumut, berdekatan dengan kaki gunung karts. Keindahan suasan hutan lumut membuatnya takjub sehingga Dayo menjadikan tempat itu wilayahnya pribadi, karena tidak ada orang yang pernah berkunjung kesana. Seiring waktu, Dayo harus berpisah kepada hutan lumut karena demi mengejar pendidikan di Bontang. Asal anda tahu, terkadang hutan lumut dapat menimbulkan sesuatu di luar nalar, atau tidak sampai otak, karena keajaiban yang terkadang membuat hutan itu terlihat lebih bersinar di malam hari, sampai warna lumut yang hijau tua, terpancar lebih hijau lagi. Belum lagi kunang - kunang ke-emasan bersatu padu bersama cahaya dari langit.

    Dibaca : 1.750 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebuah Novel Dayo

    Novel Dayo merupakan kakak dari Buku Cerita Rakyat Tuan - Borneo yang di tulis Ahmad Yusuf atau biasa di sapa Usup, Penulis asal Kalimantan Timur, Samarinda. Dayo rilis resmi di Gramedia Digital pada 10 Januari 2022. Yang awalnya terbit tepat pergantian tahun baru 31 Desember 2021, namun karena naskah tersebut belum siap, akhirnya menggeser ke beberapa hari maju berikutnya.

    https://ebooks.gramedia.com/id/buku/dayo

    Novel Dayo, bergenre Drama Romantis dan persahabatan remaja. Novel ini menyasar pada pembaca dewasa muda. Keunikan tema yang mengambil tentang hutan lumut, di tuliskan begitu mendalam, sehingga pembaca terbawa pada suasana betapa indahnya hutan lumut yang ada di desa Long Bena, Kalimantan Timur. Usup, secara spesifik mengutarakan pendapat dan kekhawatirannya yang maraknya pembukaan tambang ilegal maupun legal, belum lagi pembakaran hutan demi kepentingan komersil.

    Buku Dayo mengantarkan sebuah pesan sekaligus teguran, jika kita harus menjaga hutan dengan hati kita. Seperti Noya dan Dayo, kedua tokoh sepasang sahabat yang saling menyimpan rasa suka, harus berjuang melindungi hutan lumut yang mungkin sedang terancam.

     

    Rekaman awal pada musim ke - 1

    Dayo hanyalah seorang anak laki - laki remaja yang suka membaca buku. Dia suka membantu ayahnya di peternakan lebah untuk mengantarkan pesanan madu - madu asli ke konsumen yang ada di desa. Sampai suatu hari, Dayo menemukan hutan lumut, berdekatan dengan kaki gunung karts. Keindahan suasan hutan lumut membuatnya takjub sehingga Dayo menjadikan tempat itu wilayahnya pribadi, karena tidak ada orang yang pernah berkunjung kesana. Seiring waktu, Dayo harus berpisah kepada hutan lumut karena demi mengejar pendidikan di Bontang. Asal anda tahu, terkadang hutan lumut dapat menimbulkan sesuatu di luar nalar, atau tidak sampai otak, karena keajaiban yang terkadang membuat hutan itu terlihat lebih bersinar di malam hari, sampai warna lumut yang hijau tua, terpancar lebih hijau lagi. Belum lagi kunang - kunang ke-emasan bersatu padu bersama cahaya dari langit.

     

    Kehadiran Noya, pada potongan selanjutnya, di edisi buku utuh

    Noya datang kedalam hutan lumut tanpa sengaja. Saat itu dia hanyalah gadis kecil berusia sebelas tahun yang sedang menangis karena orang tuanya sudah tidak akan kembali lagi ke rumahnya. Setelah perceraian, sehingga Noya hanya di rawat oleh sang nenek. Noya juga takjub akan hutan lumut, keindahannya merasuk pada jiwanya, sehingga ia menjadi tenang. Seiring berjalannya waktu, dia mencintai hutan lumut dan menganggap bahwa hutan lumut adalah wilayahnya, namuun ada sebuah ukiran Nama Dayo di badan Pohon, membuatnya bertanya - tanya, siapakan Dayo?!

    Noya di bantu neneknya, seorang spritualis alam membuat pondok di dalam hutan lumut. Awalnya itu hanya sebuah pondok kayu yang mengerucut persegi panjang, tapi ketika malam hari, lumut menjalar dengan sendirinya, menyebar seperti air, hingga melapisi atap pondok yang terlihat seperti rumah lumut sejati. Keajaiban ini membuat Noya terkejut ketika keesokan harinya kembali, melihat pondoknya telah menjadi rumah lumut di dalam Hutan Lumut.

    Kisah ini sungguh menengangkan, Penulis Usup dapat menggambarkan suasana yang mejikal. Pembaca akan dibawa ke demensi yang luar biasa, fantasi yang melayang di kepala.

     

    Resensi by Tika

    Ikuti tulisan menarik Tika lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Bayu Lukmana

    Selasa, 8 November 2022 17:43 WIB

    Lagu Satu Jiwa Lambang Toleransi Keragaman

    Dibaca : 710 kali