Gaya Hidup Over Kapasitas - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Sabtu, 12 Februari 2022 08:08 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Gaya Hidup Over Kapasitas

    Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali melihat orang yang menjadi korban dari over kapasitas ini. Mereka membeli barang-barang yang melebihi garis kebutuhan mereka. Barang-barang yang sebenarnya tidak mereka perlukan, tapi tetap dibeli hanya demi gengsi.

    Dibaca : 711 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Istilah over kapasitas sering kali disalahartikan, baik dalam percakapan sehari-hari, maupun dalam wacana media resmi, cetak maupun online. Jika satu unit penjara memiliki penghuni yang melebihi daya tampung sel-sel dalam gedung penjara tersebut, maka, sering kali, gedung penjara itu disebut over kapasitas. Padahal arti yang sebenarnya justru kebalikan dari itu. Dengan kata lain, pengertian over kapasitas dalam hal ini adalah salah kaprah.

    Over kapasitas (overcapacity dalam Bahasa Inggris) menurut Kamus Meriam Webster adalah kapasitas produksi atau layanan yang berlebihan dibandingkan dengan jumlah permintaan. Jika sebuah perusahaan memroduksi barang sejumlah seribu sehari, sedangkan permintaan pasar hanya enam ratus, itu adalah over kapasitas. Jika satu unit pesawat terbang mampu menampung 300 penumpang, dan penumpang yang naik hanya 150, itu berarti pesawat terbang tersebut mengalami situasi yang disebut over kapasitas.

    Di sisi lain, gaya hidup kita juga juga sering kali over kapasitas karena kita sering kali mengonsumsi barang-barang yang memiliki kapasitas lebih dari yang kita butuhkan. Jika seseorang membeli satu unit skuter matic dengan kapasitas mesin besar dengan harga Rp30 juta rupiah, sedangkan kebutuhannya hanya untuk pergi dan pulang kerja dalam jarak kurang dari lima kilometer, itu artinya skuter tersebut over kapasitas. Karena kalau cuma untuk pulang-pergi ke tempat kerja, itu bisa dilakukan dengan skuter seharga Rp18 juta saja. Dan jika dia membeli skuter tersebut secara kredit, yang sering kali menyebabkan dia kesulitan membayar, hingga dikejar-kejar oeh debt collector, maka bisa dikatakan dia telah menjadi korban dari over kapasitas.

    Juga mereka yang membangun satu unit rumah besar dan luas, dan banyak ruangan di dalamnya tidak terpakai. Juga mereka yang membeli mobil dengan kapasitas mesin yang besar, bahkan hingga beberapa unit, dan mobil-mobil tersebut hanya digunakan sebagai kendaraan ke tempat kerja.

    Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali melihat orang yang menjadi korban dari over kapasitas ini. Mereka membeli barang-barang yang melebihi garis kebutuhan mereka, yang sebenarnya tidak mereka perlukan, hanya demi gengsi.

    Salah seorang teman saya yang bekerja sebagai PNS membeli satu unit mobil dengan cara mencicil. Padahal mobil tersebut nyaris tidak digunakan untuk apa-apa; hanya sekali-sekali dipakai untuk bersantai di sore hari. Berangkat kerja sehari-hari, dia hanya menggunakan sepeda motor. Praktis, mobil tersebut hanya digunakan sebagai pajangan; sebagai pameran untuk para tetangga bahwa dia mempunyai mobil, dan mampu membeli mobil.

    Salah seorang teman yang lain, yang juga bekerja sebagai PNS dengan status yang setingkat, hanya memilki satu unit sepeda motor tua, berusia lebih dari 20 tahun, yang dia gunakan sebagai kendaraan pulang pergi ke tempat kerja. Banyak yang meledek dia dan menyindir-nyindir agar dia mengganti sepeda motor tuanya itu dengan yang baru. Tapi dia bergeming, dan tetap mempertahankan sepeda motor tua itu. Dia merasa tidak memerlukan sepeda motor baru karena sepeda motor tuanya itu masih bisa dipakai.

    Gaya hidup sebagai korban over kapasitas di atas adalah pemborosan dan tidak ekonomis. Teman yang membeli mobil di atas tentu saja telah menyia-nyiakan potensi ekonomi yang dia miliki. Bayangkan, jika uang yang dia habiskan untuk membeli mobil itu digunakan sebagai modal usaha, maka ada kemungkinan akan berkembang, dan bisa menjadikan dirinya kaya. Meski ada kemungkinan juga usaha yang dia jalani dia akan bangkrut. Namun jika dibandingkan dengan membeli mobil, jelas lebih menguntungkan karena harga mobil itu praktis turun dari waktu ke waktu (tidak ada harga mobil bekas yang lebih mahal dari harganya ketika dibeli).

    Sebaliknya, teman yang mempertahankan sepeda motor tuanya itu telah melakukan tindakan ekonomis dan menguntungkan. Jika dia menjual sepeda motor tuanya itu, dan menggantinya dengan yang baru, tentu itu merupakan tindakan yang sia-sia karena tidak ada manfaatnya sama sekali secara ekonomi.

    Misal dia jual sepeda motor tuanya itu seharga Rp. 2,5 juta dan dia membeli sepeda motor baru seharga Rp. 18 juta, maka dia telah mengeluarkan uang sebesar Rp. 15, 5 juta untuk sesuatu yang sia-sia, dan tidak ada nilai ekonomis sama sekali.

    Namun, Tindakan sia-sia seperti ini banyak sekali dilakukan oleh masyarakat kita sehari-hari, bahkan oleh pegawai negeri dan pejabat yang seharusnya memberi contoh. Bahkan juga oleh guru PNS yang bersertifikat, yang telah mendapatkan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP).

    Ketika pertama kali TPP diberikan pada guru bersertifikat dahulu, banyak guru yang mengalami euforia, dan membelanjakan uang yang mereka dapat untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Misalnya, mereka membeli sepeda motor mewah dan mobil, dan lalu, menjalani gaya hidup bak seorang selebritis.

    Hal-hal di atas menunjukkan betapa kesenangan kita akan barang-barang yang over kapasitas, dan konsumerisme, telah menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Bayangkan, jika uang yang kita gunakan untuk membeli barang-barang yang over kapasitas tersebut kita tabung, tentu banyak di antara kita yang telah menjadi orang kaya. Juga tentu memiliki masa depan yang terjamin.

    Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal sebagai orang kaya, atau para konglomerat saat ini. Jika kita lihat kisah-kisah hidup mereka, terungkap bahwa mereka semua pada mulanya orang miskin, namun mereka tidak konsumtif dan menghindari mengonsumsi barang-barang yang over kapasitas.

    Sebaliknya, artis-artis yang kini bangkrut, dan menjalani kehidupan yang menderita secara ekonomi di masa tua mereka, justru pada mulanya adalah orang kaya yang begelimang harta, dan tidak kekurangan apa-apa, namun, mereka dahulu adalah para pemboros, konsumtif, dan suka membeli barang-barang yang over kapasitas.***

     

     

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.