x

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 2 April 2022 10:53 WIB

Petunjuk Lewat Kalbu dan Akal

Petunjuk dari Allah swt ada dua. Ada petunjuk melalui kalbu dan ada juga petunjuk yang melalui akal manusia. Mari kita bahas keduanya dalam artikel ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Semua orang sejatinya membutuhkan panduan dari Allah swt untuk menjalani kehidupan ini.  Ada dua macam panduan yaitu panduan lewat kalbu dan panduan lewat akal.  Mari kita perhatikan apa kata Maulana Jalaludin Rumi, sang empu sufi dan sastra dari Konya, Turki pada abad ketigabelas.

 

The soul has been given its own ears to hear things the mind does not understand. (Maulana Jalaludin Rumi)  Jiwa sudah diberi telinganya sendiri untuk mendengarkan hal hal yang tidak dipahami oleh pikiran.  Indah sekali kalimat Rumi di atas.  Makanya tidak heran kalau dia tidak dilupakan orang.  Sudah ratusan tahun berlalu namun karyanya masih tetap dikagumi orang.  Barangkali anda sudah bisa memiliki tafsiran atas kalimat Rumi di atas.  Mari kita bahas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Barangkali Rumi ingin mengatakan bahwa qalbu manusia memiliki kemampuan untuk mendapatkan atau menerima petunjuk dari Allah swt dengan cara yang berbeda dengan cara pikiran menerima petunjuk.  Dalam dugaan saya Rumi mengatakan bahwa ada “hidayatul qalbu” alias petunjuk dari Allah dengan melalui qalbu manusia.  Di sisi lain ada juga hidayatul aqli atau petunjuk lewat akal manusia.  Keduanya memiliki karakteristiknya masing masing.  Petunjuk lewat qalbu ini yang tertinggi adalah wahyu yang diterima oleh para nabi. 

 

Rumi mengatakan bahwa apa yang diterima jiwa ini tidak dipahami oleh pikiran.  Mungkin inilah sebabnya sampai sekarang masih terjadi dikotomi antara agama dan sains.  Namun saya menduga bahwa semakin lama semakin banyak titik temu antara keduanya bersama dengan semangkin majunya sains.  Dugaan saya ini berdasarkan sejarah keduanya.  Dalam Islam misalnya, sebelum abad ke 19 Muslim masih susah memahami ayat tentang Fir’aun.  Setelah sains menemukan dan meneliti bukti arkeologis di Mesir seak abad ke 19, barulah pemahaman Muslim tentang kisah Fir’aun ini semangkin lengkap.  Jadi ada konvergensi atara iman dengan ilmu.  Demikian juga ayat tentang gunung api.  Dulu orang Muslim hanya percaya saja bahwa gunung api seperti paku besar buat daratan.  Baru di abad keduapuluh menemukan buktinya.  Demikan juga ayat tentang penciptaan manusia dan alam semesta.  Ketika ilmu semangkin maju pemahaman Muslim kepada kitan suci Al Qur’an juga semangkin baik.   Cerita ini terjadi di banyak bidang ilmu.  Karena itu saya yakin suatu saat kelak akan ada titik temu yang komplit antara keduanya.

 

Kalau melihat sejarah tersebut qalbu memang menerima petunjuk lebih dulu, lebih awal dan lebih cepat daripada akal.   Tidak heran kalau Rumi mengatakan bahwa akal tidak sepenuhnya memahami apa yang diterima jiwa.   Panduan lewat qalbu itu harus dipelajari dan dikembangkan agar bisa dipahami dengan sepenuhnya.  Jadi apa yang belum bisa dipahami belum tentu bertentangan dengan sains tapi sains yang dimiliki manusia yang belum tuntas mengungkapkannya.

 

Cara mendapatkannya juga berbeda.  Panduan lewat qalbu diterima melalui olah batin seperti solat, puasa, zakat, sedekah dll.  Nabi Muhammad saw menyepi di gua Hira ketika menerima wahyu pertamanya.  Sedangkan petunjuk lewat akal didapatkan melalui tindakan olah pikir seperti belajar, diskusi, merenung, menganalisis, meneliti dan membaca.   

 

Maka sebaiknya muslim melakukan keduanya baik olah batin maupun olah pikir.  Idealnya keduanya dilakukan secara berimbang.  Kalau seorang Muslim mampu menyeimbangkan keduanya dan mencapai taraf tinggi dalam keduanya maka dia akan mencapai tataran ulul albab.  Kita akan membahas topik ulul albab ini di artikel berikutnya, lain kali. Saya juga akan membahas topik ini dalam buku saya berikut.  

 

Apakah orang biasa bisa mendapatkan petunjuk lewat qalbu?  Saya yakin bisa.  Tentu saja mereka yang memenuhi syarat setelah melakukan olah batin.   Artinya tidak semua orang.  Hanya mereka yang memenuhi syarat. Lagipula kelasnya manusia biasa  masih di bawah para nabi jadi yang didapat hanyalah ilham.  Meskipun demikian ilham itu sudah cukup untuk menyelesaikan masalahnya atau bahkan masalah komunitasnya atau masalah bangsanya.

 

Saya yakin Sukarno dulu mendapat ilham untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Itulah sebabnya beliau sangat gigih berjuang meskipun ancaman, tantangan, hambatan, gangguan yang dihadapinya sangat berat.   Kalau menurut perhitungan pikiran semata, apa yang dilakukan beliau saat itu adalah kurang masuk akal karena mencari masalah sedangkan dengan pendidikannnya yang tinggi beliau dengan mudah bisa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi dari Belanda.  Konon salah seorang aktivis kemerdekaan pernah mengatakan kepada beliau bahwa pada tahun 1945 itu kita belum siap merdeka karena belum memiliki tentara profesional, belum punya birokrasi profesional, belum punya kelas menengah yang kuat, belum banyak orang terpelajar, sebagian besar rakyat masih miskin, berpendikan rendah dan ekonominya lemah.  Semua data itu benar tapi kesimpulan yang ditarik oleh akal, bahwa kita belum siap merdeka,  terbukti salah.  Jadi akal tidak memahami petunjuk yang diterima oleh qalbu, bahwa mereka harus memperjuangkan kemerdekaan.  Itulah bukti, dalam konteks kita, bahwa jiwa memiliki telinganya sendiri untuk mendengarkan hal hal yang tidak dipahami oleh pikiran. 

 

Monggo melakukan olah batin dan olah pikir. Jangan lupa ajak keluarga Anda. Tujuannya agar Anda menjadi ulul albab yang mampu memecahkan banyak masalah.  Idealnya tidak hanya masalah pribadi dan kaum tapi juga masalah bangsa dan negara bahkan masalah internasional.

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan