Sastrawan Era Reformasi Wiji Thukul - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Sri Yundiani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 April 2022

Rabu, 20 April 2022 19:00 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Sastrawan Era Reformasi Wiji Thukul

    tulisan ini membahas mengenai salah satu sastrawan yang masyhur pada era Reformasi yaitu Wiji Thukul yang dikenal sebagai penulis perjuangan/perlawanan

    Dibaca : 789 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seperti yang kita ketahui bersama bahwa era Reformasi merupakan era yang terjadi pasca kekuasaan Orde Baru berakhir. Era Reformasi ini dimulai pada tahun 1998, lebih tepatnya yaitu pada tanggal 21 Mei 1998 saat presiden ke-2 Indonesia, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari kursi kekuasaannya yang kemudian digantikan oleh wakilnya pada saat itu, B.J. Habibie. Periode ini dibangun oleh lingkungan politik sosial yang lebih terbuka.

    Pada era ini tentunya kesusastraan Indonesia pun ikut mengalami perkembangan masa. Kesusastraan Indonesia masuk pada Era reformasi dengan ditandai munculnya berbagai karya sastra baik berupa puisi, novel, atau cerpen yang bertemakan sosial politik, khususnya mengenai reformasi yang terjadi. Sastrawan pada era ini memenungkan keadaan sosial yang terjadi pada masa akhir tahun 1990-an pada karya-karya sastranya.

    Salah satu sastrawan yang masyhur pada era ini adalah Wiji Thukul. Wiji Thukul merupakan seorang seniman yang terjun ke dunia politik lalu menuangkan ide-ide, aspirasi, serta gagasannya ke dalam sebuah karya sastra berupa puisi. Puisi-puisi karya Wiji Thukul ditulis berdasarkan apa yang ia lihat dan rasakan sendiri, juga dari kumpulan pemikiran-pemikiran masyarakat pada era tersebut. Salah satu puisinya yang palin populer ada Peringatan (1986), Sajak Suara, Bunga dan Tembok, Penyair  (1988), Kemerdekaan (1988), dll.

    Wiji Thukul lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di Surakarta, Jawa Tengah dengan nama asli Wiji Widodo. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Thukul bukan lahir dari keluarga yang serba kecukupan, ia lahir pada keluarga yang sederhana dan tergolong miskin. Ayahnya hanya berprofesi sebagai tukang becak.

    Setelah lulus SMP pada tahun 1979, Thukul melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di Jurusan Tari. Namun sayang, pada akhirnya ia lebih memilih untuk berhenti sekolah dan bekerja agar adik-adiknya sajalah yang melanjutkan sekolah  (1982). Pada saat itu, pekerjaan pertama Thukul adalah menjadi loper koran. Lalu ia juga mencoba pekerjaan-pekerjaan lainnya seperti mejadi calo tiket bioskop, mengamen puisi dari kampung ke kampung, kota ke kota, serta ia juga pernah bekerja menjadi tukang pelitur fornitur di sebuah perusahaan mebel milik tetangganya. Kemudian setelah dewasa ia menikahi seorang perempuan bernama Siti Dyah Sujirah, atau yang gemar dipanggil Sipon, pada Oktober 1988. Dalam pernikahannya itu Thukul dan Istri tercintanya dikaruniai sepasang putra putri yang diberi nama Fajar Merah dan  Fitri Nganthi Wani.

    Wiji Thukul sudah mulai menulis puisi sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan berlanjut hingga ia dewasa. Bahkan, dua kumpulan puisinya, berjudul Darman dan lain-lain dan Puisi Pelo, diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta. Ia juga pernah diundang untuk membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1991, ia kembali tampil di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan oleh Erasmus Huis, di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. Dan pada tahun yang sama Thukul mendapatkan Wertheim Encourage Award yang diberikan oleh Wertheim Stichting di Belanda bersama W.S Rendra. Mereka menjadi penerima hadiah pertama sejak awal yayasan itu didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuan Belanda, W.F Wertheim.

    Wiji Thukul mencatat peristiwa penindasan dalam sejarah puisi-puisinya. Puisi-puisi Wiji Thukul masuk ke dalam golongan puisi berjenis pamflet. Puisi ini, merupakan puisi yang berisi kritikan-kritikan terhadap sebuah otoritas pemerintahan dan mampu mewakili suara rakyat. Sehingga ia dikenal sebagai seorang penulis perjuangan.

    Ketika Soeharto lengser dari kursi jabatannya pada Mei 1998, Thukul menghilang. Tapi masih banyak orang yang belum sadar akan hal itu. Mungkin karena masih riuh dalam suasana merayakan lengsernya Soeharto pada saat itu. Kabar tentang menghilangnya Thukul tidak jelas benar dapat ditangkap. Namun, dari waktu ke waktu kabar menghilangnya Thukul malah menjadi perdebatan. Beberapa pihak ada yang mengatakan bahwa Thukul bukan menghilang namun ia hanya sedang menenangkan diri dari riuhnya keadaan Nusantara, tapi menurut sebagian pihak lagi mengatakan bahwa Thukul benar menjadi korban langkah kasar kekuasaan militer, Thukul diculik. Begitu pun Sipon, Istri tercinta Thukul, ia yakin bahwa Thukul benar-benar telah diculik oleh alat-alat kekuasaan Soeharto.

    Panjang dan peliknya perjalanan misteri untuk mencari jawaban atas menghilangnya Thukul. Akhirnya setelah hampir dua tahun kemudian, ditemukanlah sebuah titik terang bahwa penghilangan ini dilakukan oleh alat-alat negara pada pertengahan Mei 1998, saat detik-detik kekuasaan Soeharto berakhir. Dan terjawab sudah semua misteri atas menghilangnya Thukul. Thukul melengkapi daftar orang hilang pada masa itu karena aktivitas politiknya dianggap telah mengusik ketenangan kekuasaan Orde Baru. Sejak dinyatakan benar-benar hilang, sampai saat ini keberadaan Thukul pun masih menjadi teka-teki apakah ia masih hidup atau mungkin sudah tiada.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.