Teman Sejati - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Joseph Redfield Nino dari Pixabay

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 23 April 2022 13:38 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Teman Sejati

    Mungkin Anda punya definisi sendiri tentang teman sejati. Teman sejati menurut Ali bin Abi Thalib ada juga. Mari kita elaborasi konsepnya tentang teman sejati.

    Dibaca : 818 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Ada banyak definisi teman sejati.  Menurut Ali bin Abi Thalib teman sejati adalah dia yang selalu memberi nasehat ketika melihat kesalahanmu dan dia yang mau membelamu di saat kamu tidak ada.

    Tidak mudah memberi nasehat kepada orang yang memiliki ego yang besar. Dia akan defensif. Dia akan melihat siapa orang yang memberi masukan, bukan apa intisari nasehatnya.  Jika dia menilai orang itu masih di bawahnya, dengan ukuran yang kebanyakan subyektif, maka dia akan menolak.  Kalau dia menilai si pemberi di atasnya barulah dia menerima.

    Jadi harus hati hati.  jangan sampai menyinggung egonya.

    Nasehat dan saran sejatinya adalah masukan berharga. Tapi orang yang egonya tingi merasakan itu sebagai serangan kepada pribadinya.  Dia merasa direndahkan atau dihina.  Jadi persepsinya sangat negatif.  Suatu kebaikan dia lihat sebagai ancaman. Apalagi kalau kritik tajam. Sudah pasti orang seperti itu akan marah dan membenci anda.

    Maka perlu pendekatan pribadi dulu.  Lalu  pakai kata kata yang halus, jangan memakai kata kata yang lugas, agar egonya tidak tersinggung. Itu saran untuk pemberi masukan.

    Saran untuk yang diberi masukan ada juga.  Coba geser fokus anda.  Fokuskan pada intisari masukan orang. Tidak perlu memandang si pemberi masukan.  Tidak perlu juga memandang orang dengan nilai nilai feodalisme.  Tinggalkan prinsip sopo siro sopo ingsun.  Siapa kamu siapa saya.  Peluk erat prinsip kesetaraan. Manusia adalah sederajat. Tidak ada yang lebih mulia daripada yang lain kecuali ketaqwaan. Hanya Allah saja yang bisa menilai ketaqwaan dengan akurat. Sesama manusia hanya bisa menduga saja.

    Jadi kepada pemberi masukan, hati hati.  pakai bahasa halus dan tersamar.  Memang resikonya dia tidak merasakan masukannya.  Kepada yang diberi masukan, belajarlah mengelola emosi. Kuasai diri. Andap asor dan lembah manah (rendah hati, bukan rendah diri).  Sehingga mampu mendapat masukan berharga dari teman. Tidak perlu defensif karena artinya menolak diberi ilmu. Rugi sendiri.

    Monggo menata hati agar mampu menerima masukan teman. Ingat kata kata Ali bin Abu Thalib bahwa teman sejati adalah orang yang memberi nasehat. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.