x

ilustr: Great People Inside

Iklan

Liliek Purwanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Mei 2022

Selasa, 24 Mei 2022 19:07 WIB

Bekerja Tidak Sesuai Passion, Harus Bagaimana?

Ketika kita harus menjalani pekerjaan yang tidak sesuai passion, tak berarti kiamat hadir lebih cepat. Ada jurus-jurus tertentu untuk mengatasinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika kita harus menjalani pekerjaan yang tidak sesuai passion, tak berarti kiamat hadir lebih cepat. Ada jurus-jurus tertentu untuk mengatasinya.

Umumnya, manusia menghabiskan cukup banyak waktu untuk bekerja. Katakanlah, kita mengikuti anggapan umum bahwa waktu tidur ideal adalah 8 jam dan waktu kerja standar 8 jam juga. Maka, jam kerja kita telah mengambil setengah dari jatah waktu melek kita.

Oleh karena itu, suasana hati selama bekerja bakal memengaruhi seluruh waktu yang kita miliki. Hal ini menjadi alasan demikian pentingnya mengupayakan suasana kerja yang menyenangkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan hati berpeluang besar memunculkan kejenuhan. Tak heran bila banyak orang selalu merindukan hari Minggu yang bikin hepi dan acap gelagapan menjelang hari Senin tiba.

Kondisi demikian menjadi mula maraknya tagar “hapsun” dan “besok Senin”. Tagar-tagar serupa itu hampir tiap pekan viral di media sosial.

Untuk bisa mengerjakan tugas-tugas dengan hati gembira, memilih jenis pekerjaan yang sesuai renjana bakal sangat membantu mewujudkannya. Maka, beruntunglah orang yang dapat merealisasikan angan-angan itu.

Namun, kita sangat memahami bahwa kondisi persaingan tenaga kerja amat ketat dewasa ini. Jadi, menapis pekerjaan bukan merupakan kesempatan yang bisa didapat semua orang.

Lantas, bagaimana kita bisa bekerja dengan riang bila kita bukan bagian dari golongan manusia beruntung yang bisa bekerja sesuai passion atau renjana mereka?

Saya mengingat seorang bijak pernah mengatakan, “Jika kita tidak mampu menemukan pekerjaan yang kita cintai, maka cintailah pekerjaan yang kita hadapi.”

Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa mencintai suatu pekerjaan jika pekerjaan itu bukan jenis yang kita inginkan?

Sesuatu yang kita dapatkan dengan terpaksa, tentu saja menjadi sulit bagi kita untuk menyukainya. Hal yang sama berlaku bagi sebuah pekerjaan.

Dampak Buruk Bekerja Tak Sesuai Renjana

Namun, jika kita mau berpikir dan bertindak kreatif, peluang untuk menyukai pekerjaan yang (awalnya) tidak kita kehendaki bakal terbuka. Kita pun bisa mulai mengintip ke dalamnya dan mencoba mempraktikkan rahasia yang tersimpan di sana.

Mempercantik pekerjaan dengan pernak-pernik yang kita sukai bisa menjadi salah satu solusi di antara pelbagai kiat lainnya. Saya akan membuka tema bahasan ini dengan sebuah ilustrasi.

Fitri bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penyedia internet. Selama empat bulan pertama berkarier di sana, ia ditempatkan sebagai tenaga pemasaran.

Menilik latar belakang pendidikan dan, terutama, tabiatnya yang cenderung menutup diri, jenis pekerjaan ini tidak cocok bagi dirinya. Setidaknya suara itulah yang selalu bergema dalam hatinya.

Sudah tentu ia mengalami berbagai kesulitan yang mengantarnya menjadi sedikit depresi. Seusai menimbang-nimbang sekian lama, ia pun berencana mengundurkan diri.

“Mumpung belum lama saya berada di sini,” begitu alasan yang diembuskan rasa ciut yang bermukim dalam hatinya. Ia tentu tak harus menanggung rasa kehilangan yang berarti lantaran hatinya belum tertambat dengan suasana kantor dan kedekatan dengan rekan-rekan kerjanya.

Sebagai seorang wanita muda usia dengan tingkat pendidikan lumayan tinggi, ia merasa tak kan terlalu sulit mencari pengganti pekerjaan yang akan ditinggalkannya.

“Menawarkan jasa ke sana kemari, bertemu dan bicara dengan banyak orang, itu pekerjaan yang sungguh berat bagi seorang introver seperti diriku.”

Begitulah kata hati Fitri. Sebenarnya, inilah alasan utama ia memantapkan hati untuk segera angkat kaki.

Maka, Jumat sore itu, alih-alih menyiapkan laporan mingguan seperti biasanya, sesaat ia berdiam diri di kubikel-nya. Sejurus kemudian, ia mulai mengetik surat pengunduran diri sembari sembunyi-sembunyi.

Menyisipkan Kesenangan dalam Pekerjaan

Di tengah kegalauannya memilih kalimat-kalimat yang diharapkan tak menimbulkan masalah kemudian hari, mendadak terbayang sesuatu dalam ingatannya. Dan, sesuatu yang tak sengaja menghampirinya itu memunculkan sepercik gagasan.

Saat kuliah, ia gemar mengutak-atik data. Secara otodidak--setelah mendapatkan materi dasar ilmu Statistik di perkuliahan--ia mendalami teknik-teknik mengolah dan menyajikan data yang menarik.

Lantas timbul pikiran cerdas dalam benaknya.

“Mungkin akan menyenangkan kalau kusisipkan grafik yang cantik dalam laporan yang kubikin. Bukankah mengolah dan menampilkan data yang cakep merupakan hiburan yang asyik?”

Nah, bayangan yang datang sekilas itu telah menjelma sebagai sumber motivasi yang tak terduga. Ia segera menutup program MS Word berisi konsep surat pengunduran dirinya yang belum kelar.

Segera saja ia mengganti tampilan monitor di hadapannya dengan program-program Excel dan Power Point yang amat diakrabinya. Sesekali ia membuka peramban internet guna mengunduh materi pendukung untuk mempercantik laporannya.

Excel dan Power Point ternyata mampu mengubah bentuk wajahnya. Bibirnya yang semula melengkung ke bawah berangsur-angsur menyunggingkan senyuman. Kedua bola matanya pun tampak berkilat mewakili hatinya yang mendadak berpengharapan.

Begitulah. Akhirnya ia menyisipkan hasil karyanya berupa infografik data pemasaran yang ciamik ke dalam laporan hasil kerja mingguannya. Ia berencana menyampaikan laporan yang biasanya datar-datar saja dan kini penuh warna itu kepada Bos Pemasaran dalam rapat mingguan Senin depan.

Wajah ceria atasannya memberi tambahan energi baginya untuk kembali bekerja. Ternyata, pada Senin pagi itu, Manajer Pemasaran di kantornya suka melihat tampilan laporan yang sedap dipandang mata.

Memang tugas pemasaran yang dijalankan Fitri tidak lantas menjadi ringan hanya karena senyuman. Namun gagasan untuk memermak laporan dengan olahan data yang menjadi kegemarannya hadir sebagai pelipur lara.

Belum lagi jika kelak sang Dewi Fortuna terus berpihak kepadanya. Pak Manajer yang kesengsem sama kemampuan olah datanya, bisa saja merekomendasikan dirinya untuk rotasi ke Departemen Laporan atau yang semacamnya.

Kreatif Mengelola Pekerjaan

Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh ide kreatif di tempat kerja, dengan “mengakali” ketidaksukaannya terhadap pekerjaan yang digelutinya. Tentu saja banyak cara lain yang bisa diupayakan.

Dalam kisah itu, Fitri berhasil mengurangi beratnya beban menjalankan tugas yang tidak sesuai dengan passion-nya. Secara cerdik, ia melibatkan kegiatan yang disukainya sehingga membikin hatinya gembira.

Cara menyisipkan kesenangan dalam pekerjaan bisa bermacam-macam wujudnya, bergantung pada jenis pekerjaan yang tengah kita lakoni. Diperlukan kemauan dan kreativitas untuk bisa menemukan dan mengaplikasikan cara-cara semacam ini dengan tepat.

Jadi, sepertinya kita perlu kembali merenungi seuntai kata mutiara yang entah dari mana bermula. “Jika Anda tidak mampu menemukan pekerjaan yang Anda cintai, maka cintailah pekerjaan yang Anda miliki.”

Cara mencintai pekerjaan bisa bermacam-macam. Salah satunya dengan melibatkan hal-hal yang kita sukai ke dalam pekerjaan kita.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mempunyai cara-cara kreatif untuk mengatasi kejemuan karena pekerjaan tidak sesuai dengan passion?

Ikuti tulisan menarik Liliek Purwanto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler