x

Iklan

Wahyu Umattulloh AL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Maret 2022

Jumat, 3 Juni 2022 05:45 WIB

Tabiat Sosialisme di Hamparan Manusia Moderen

Artikel ini membahas mengenai zaman Modernitas menjadi sebuah zaman peradaban yang serba maju hingga membuat siapapun untuk takut tidak mencapai sesuatu. Bahkan di zaman modern ini mampu menutupi tabi’at-tabi’at bersosial tanpa tendesi material atau fisik apapun

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

TABI’AT SOSIALISME
DIHAMPARAN MANUSIA MODERN

Modern menjadi zaman peradaban yang serba maju
hingga membuat siapapun untuk takut tidak mencapai sesuatu. Bahkan
di zaman modern ini menutupi tabi’at-tabi’at bersosial
tanpa tendesi material atau fisik apapun”.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

       Tendensi untuk mampu melebur di zaman yang serba modern ini membuat manusia melakukan segalanya meskipun harus mendzholimi dirinya sendiri, kemurnian diri, dan lebih-lebih mendzholimi manusia lainnya. Perilaku tersebut menjadi dasar fundamental terciptanya demoralitas dalam bersosial dan berinteraksi maupun bertadabbur antara ruang lingkup masyarakat luas. Tadabur untuk memberikan tabi’at kemurnian diri kepada apapun yang telah melanda kita untuk menggenggam kebersamaan dan juga kesamaan antara satu dengan lainnya, antara identitas satu dengan identitas lainnya, serta antar kita sebagai manusia yang disingkirkan oleh stakeholders ( pemangku kepentingan) melalui sistem-sistem modernitas dalam kehidupan kita maupun dalam kenegaraan.

           Sistem modernitas secara umum muncul melalui masyarakat Eropa Barat di abad 17 dan 18 yang lebih spesifiknya di wilayah Amerika Serikat. Alasan tersebut saya tulis sebab modernisasi dimulai dari kawasan Eropa Barat karena dari bagian belahan bumi tersebutlah terjadi asal muasal berkembangnya komersialisasi industri dan revlolusi nasional. Revolusi dan komersialisasi tersebut menjadikan semua bangsa di Dunia untuk berkiblat menuju negara-negara Eropa Barat, mulai dari ekonomi, budaya, politik, bahkan ranah paling primer di dalam kehidupan kita, yakni gaya hidup. Modernitas memiliki 4 unsur atau rangkaian yang saling terkait. Unsur tersebut adalah pengawasan, industrialisme, kapitalisme, dan sarana-sarana dehumanity ( pendangkalan manusia).

             Keempat unsur tersebut selama ini berjalan secara abstrak, seperti unsur pengawasan yang bertugas untuk memberikan monitoring secara disiplin tanpa kompromi terhadap berjalannya pra industrial dan industrial serta pasca industrial. Pengawasan yang dimaksud adalah tanpa adanya pengaruh negatif sama sekali terhadap industri itu sendiri atau luaran dari adanya industri tersebut. Unsur industri tidak hanya memproduksi hak barang produksi, tetapi seharusnya menghasilkan komponen manusia yang bermoral secara kemanusiaan dan bermoral secara lingkungan tanpa tendensi apapun. Unsur kapital tidak hanya fokus mengenai pengadaan barang dan pengadaan alat-alat produksi, melainkan seharusnya berimbang dengan fokus terhadap sisi humanity bukan pendangkalan manusia melalui sarana-sarana dehumanity seperti mengurung buruh dengan birokrasi secara parsial, tidak memberikan hak kemanusiaan terhadap buruh, tidak menjerembapkan mereka hanya terhadap skala materi “Uang”.

              Unsur–unsur seperti itulah yang kini melanda menjadi ombak lautan yang menyapu bersih kemurnian manusia atau kefitrahan manusia sebagai manusia adil dan saling mengkasihi satu sama lain. Tidak untuk barang atau tidak untuk perkasa dengan memenjarakan mereka di dalam kehebatan diri sendiri, sehingga menganggap mereka hanya seonggok debu-debu tak berarti. Itulah zaman modern, zaman dianggap maju dan indah melebihi apapun bahkan melebihi sisi sosial !.

           Sisi sosial memang harus mendarah daging di setiap peristiwa, fenomena, ataupun keblingeran terhadap pencapaian diri sendiri. Pencapaian-pencapaian di era modern saat ini ditafsirkan mampu menggores ataubahkan mengusir sisi sosial yang sudah menjadi budaya kultur di era pramodernitas. Semua telah terprogram dengan arti perbandingan atau maksud saya adalah membanding-bandingkan atas semua kepemilikan dalam diri. Kepemilikan tersebut mengarah dan terpolarisasi melalui material”uang”yang sudah menjadi puncak keistimewaan kaum-kaum modernitas, dengan material mereka mampu mengusir secara perlahan dan secara tidak sadar merampas sisi kemurnian sosial sekalipun kita berusaha memungkirinya, namun keblingeran membanding-bandingkan itu akan terjadi secara masif.

             Peralihan sisi sosialitas memang sudah terjadi secara perlahan hingga sosialitas nantinya hanyalah gincu omong kosong, hanyalah nonsens-nonsens belaka. Semestinya sosialisme agamis harus kita lirik sebagai ranah kontemplatif kita di dalam mengarungi hamparan-hamparan manusia modern. Perlu kita ketahui sosialisme agamis bukanlah komunisme yang seperti kita kenal saat ini atau seperti komunis yang menggores tinta merah di negara kita, Perbedaan tersebut akan coba saya uraikan dengan singkat.

            Komunisme merupakan peraturan atau stelsel yang lebih condong atau berfokus untuk kekuasaan, barang, dan material, agar dikuasai secara bersama serta dimiliki atau diakui kepunyaannya secara bersama-sama. Sosialisme agamis sendiri merupakan tujuan yang terpusat untuk mencapai mono-humanisme  ( persatuan segala manusia) lebih condong untuk menanamkan rasa persatuan kesamaan secara keluarga, batiniah, dan rohaniah tanpa mencampur adukan modernitas material serta bertumpu hanya kepada agama.

            Penjelasan perbedaan singkat diatas antara komunisme dan sosialisme agamis mungkin mampu menjadi refleksifitas dalam diri kita untuk mampu mereduksi atau mungkin memberikan kelonggaran terhadap manusia-manusia modernitas seperti saat ini. Sebab hari ini banyak dari kita semua enggan mencoba menengok ke samping kanan atau ke samping kiri. Kita hanya dipaksa untuk menatap ke depan dengan buta tanpa mampu membuka mata selebar-lebarnya bahwa modernitas yang dianggap kemajuan zaman perlahan-lahan mendzholimi kita. Menjadikan manusia sebagai objek kemakzulan untuk menggadaikan semua kesetaraan, persatuan kemanusiaan, hingga memberikan disintegrasi kepada saudara-saudara kita sesama manusia.

                Kemakzulan manusia sangat ditentang oleh setiap agama, jika dielaborasikan agama dengan sosialisme agamis yang bertendensi dengan perintah-perintah Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa arti sosialisme sesungguhnya tidak untuk mengejar material atau benda apapun, melainkan menjunjung dan membongkar apapun yang menyebabkan adanya ketidak adilan murni. Sosialisme akan menuju kesempurnaan apabila tiap-tiap manusia hendaklah berduyun-duyun bergotong-gotong untuk mengejar tujuan yang lebih tinggi dibanding kesetaraan benda atau material. Seperti yang diperintahkan oleh Tuhan bahwa manusia hanya berbakti dan melayani Alloh sepenuh hati tanpa ada maksud tujuan dunia apapun.

              Dunia saat ini hanya disesaki oleh nafsu-nafsu kasar ( materialistische wereld), kita hanya menjadi manusia robot, menjadi manusia pemabuk, menjadi manusia miskin kelaparan, di mana kita hanya dicekoki apapun yang dianggapnya unggul bahkan itu ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan kekayaan UANG. Hari ini juga bahkan detik ini juga di negara ini haus akan kedigdayaan untuk memenuhi nafsu perikebendaan, sehingga saat ini sangat langka untuk mengharapkan salah satu manusia ataupun syukur-syukur lebih dari satu manusia yang suka mengorbankan keperluannya sendiri untuk keperluaan kehidupan bersama meskipun ia menderita. Kita semua tutup mata dan dibungkam oleh dunia modern yang diidentikkan dengan individualisme benda, semua kepintaran, kecerdasan, kepandaian, dan semua yang bersifat keduniawian hanya sebagai alat untuk keperluan si hebat “ Kapital” guna untuk menindas kita si lemah.

           Penindasan demi penindasan harus kita lawan dengan tabi’at sosialisme agamis dengan menjunjung tinggi kemajuan rohaniah yang dipenuhi oleh kemulian-kemulian murni dari Alloh SWT, sebab kemajuan rohaniah mampu menggerakan manusia untuk mengusahakan budi luhur sebagai kekuatan super power. Kekuatan itu akan kita gerakan untuk menggeser zaman modern yang batil ini, mari kita jalan dengan dinaungi perintah-perintah Alloh SWT bahwa sosialisme berakar dari perintah Alloh untuk menuntut budi pekerti yang utama, untuk menuntut sistem berantai besi yang menghubungkan dan mempersatukan segenap rakyat secara murni dan secara arif. Sekalipun sangat sulit diterapkan namun dengan sosialisme agamis ini setidaknya memberikan kita gambaran bahwa sosialisme tidak pernah menyimpang dari perintah Alloh SWT demi menjunjung persaudaraan tanpa mengharapkan untuk tercapainya nafsu kasar kebendaan material !!!!!.

Mungkin teman-teman, atau saudara-saudara ku banyak yang tidak setuju dengan semua celotehan tulisan saya, ataubahkan menganggap hanya kata-kata tidak bermakna positif atau kata-kata tidak membangun kesadaran manusia. Saya memaklumi itu sebab kita manusia lebih suka melihat yang nampak berbinar-binar dari pada yang redup, samar-samar, ataubahkan yang murni.

Wahyu Umattulloh Al’Iman.
Jombang-Bareng, 31 Mei 22.  

Ikuti tulisan menarik Wahyu Umattulloh AL lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler