Geger Ranggalawe - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 16:19 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Geger Ranggalawe

    Setelah kematian putranya, Ranggalawe, Aria Wiraraja menetap di Lamajang. Di samping itu Aria Wiraraja juga menyiapkan daerah-daerah penyangga ibukota yang berfungsi sebagai gerbang pertahanan Pajarakan (di Randuagung) dan daerah basis pertanian subur di sebelah selatan yang kini merupakan bagian dari Kecamatan Sukodono, Kecamatan Lumajang, dan Kecamatan Padang. Mengenai watak dan sifat dari Aria Wiraraja, dalam Pararaton disebutkan sebagai ahli siasat dan sangat ambisius. Dalam loyalitas kepada Majapahit sebenarnya ia sangat setia dan amat menghormati Raden Wijaya. Sejak awal anggota keluarganya banyak yang mengabdi dan turut mendirikan Majapahit, namun hanya menghasilkan kekecawaan yang mendalam.

    Dibaca : 505 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kitab Pararaton menyebut perlawanan Ranggalawe yang merupakan pemberontakan pertama di Majapahit terjadi pada tahun 1295, namun peristiwa tersebut dikisahkan berlangsung sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut Pararaton, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanagara naik tahta.

    Sedangkan menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309. Akibatnya, sebagian sejarawan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309, bukan 1295. Dengan begitu, seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun.

    Nagarakretagama juga mengisahkan bahwa pada 1295 Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di istana Daha. Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara. Dan, fakta lain juga menunjukkan, nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama terdapat dalam Prasasti Kudadu tahun 1294, namun kemudian keduanya sama-sama tidak terdapat lagi dalam Prasasti Sukamreta tahun 1296.

    Ini pertanda bahwa Arya Adikara alias Ranggalawe kemungkinan besar memang meninggal pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja diduga mengundurkan diri dari pemerintahan setelah kematian anaknya itu. Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 yang bertepatan dengan pengangkatan Jayanagara putra Raden Wijaya sebagai yuwaraja atau raja muda. Dalam hal ini pengarang Pararaton tidak melakukan kesalahan dalam menyebut tahun, hanya saja salah menempatkan pembahasan peristiwa tersebut.

    Sementara itu, Nagarakretagama yang dalam banyak hal memiliki data lebih akurat dibanding Pararaton, ternyata sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dipahami karena sifat dari naskah tersebut yang merupakan sastra pujian, sehingga penulisnya, Mpu Prapanca, merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib. Pararaton mengisahkan Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.

    Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan ketimbang Nambi. Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora.

    Tetapi Sora justru tidak menyetujui hal tersebut dan mendukung Nambi sebagai patih. Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe lebih memilih pulang ke Tuban. Oleh Mahapati, Nambi diberitahu bahwasannya Ranggalawe sedang menyusun kekuatan di Tuban. Maka, atas izin raja, Nambi yang juga didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang berangkat memimpin pasukan Majapahit untuk menghukum Ranggalawe.

    Setelah mengetahui kedatangan tentara Majapahit Ranggalawe pun menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang lebih unggul di air akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam. Maka, melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan dan membunuh Kebo Anabrang.

    Setelah peristiwa Ranggalawe, kemudian berturut-turut terjadi "pembersihan" terhadap Lembu Sora dan juga Nambi. Selain itu, terjadi pula pemberongakan Kuti yang sempat menyerang hingga ke dalam Kedaton Majapahit. Mengenai sosok Ranggalawe, Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan.

    Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani. Kedua naskah ini menyebut ayah Ranggalawe adalah Arya Wiraraja. Sementara itu, Pararaton menyebut Arya Wiraraja adalah ayah Nambi. Selain itu, Kidung Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra Wiraraja yang dikirim untuk membantu pembukaan Hutan Tarik adalah Nambi, sedangkan Ranggalawe adalah perwira Kerajaan Singhasari yang kemudian menjadi patih pertama Majapahit.

    Akan tetapi, uraian Kidung Harsawijaya terbukti keliru, karena berdasarkan Prasasti Sukamreta tahun 1296, diketahui nama patih pertama Majapahit bukanlah Ranggalawe, melainkan Nambi. Sedangkan nama ayah Nambi, menurut Kidung Sorandaka, adalah Pranaraja. Brandes, menganggap Pranaraja dan Wiraraja sebagai orang yang sama. Namun, menurut Slamet Muljana, keduanya sama-sama disebut dalam Prasasti Kudadu sebagai dua tokoh yang berbeda.

    Menurut Muljana, Nambi adalah putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai dengan kemunculan nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara dalam Prasasti Kudadu, dan keduanya sama-sama menghilang dalam prasasti Sukamreta. Nama besar Ranggalawe rupanya telah sangat melekat di dalam ingatan masyarakat Jawa.

    Penulis Serat Damarwulan atau Serat Kanda, mengenal adanya nama Ranggalawe namun tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kisah hidupnya. Maka, ia pun menempatkan tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan Damarwulan dan Menak Jinggo. Sedangkan Damarwulan sendiri merupakan tokoh fiksi, karena kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah dan tidak memiliki prasasti pendukung.

    Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe dikisahkan sebagai Adipati Tuban yang juga merangkap sebagai panglima angkatan perang Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Kencanawungu. Ketika Majapahit diserang oleh Menak Jinggo Adipati Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk menghadangnya.

    Dalam perang tersebut, Menak Jinggo tidak mampu membunuh Ranggalawe karena selalu terlindung oleh payung pusakanya. Maka, Menak Jinggo pun terlebih dulu membunuh abdi pemegang payung Ranggalawe yang bernama Wangsapati. Baru kemudian, Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak Jinggo. Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki dua orang putra, bernama Siralawe dan Buntarlawe, yang masing-masing disebutkan menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro.

    Di dalam kultur Jawa, nama Ranggalawe atau Ronggolawe tetap harum. Bahkan, hingga di masa pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Ranggalawe dipakai sebagai nama sebuah divisi. Pasukan Ronggolawe terkenal sebagai salah satu yang menjadi teror penebar maut bagi patroli-patroli Belanda.

    Zainollah Ahmad, yang menulis buku Tahta di Timur Jawa: Catatan Konflik dan Pergolakan Pada fibad Ke-13 sampai Ke-16, menyebut bahwasannya berdasarkan Perjanjian Songenep, Aria Wiraraja mendapatkan bagian sebelah timur Majapahit, yaitu Lamajang utara dan selatan, serta Tigang Juru, dengan Lumajang sebagai ibukotanya. Dan, setelah kematian putranya, Ranggalawe, Aria Wiraraja menetap di Lamajang.

    Di samping itu Aria Wiraraja juga menyiapkan daerah-daerah penyangga ibukota yang berfungsi sebagai gerbang pertahanan Pajarakan (di Randuagung) dan daerah basis pertanian subur di sebelah selatan yang kini merupakan bagian dari Kecamatan Sukodono, Kecamatan Lumajang, dan Kecamatan Padang. Mengenai watak dan sifat dari Aria Wiraraja, dalam Pararaton disebutkan sebagai ahli siasat dan sangat ambisius.

    Dalam loyalitas kepada Majapahit sebenarnya ia sangat setia dan amat menghormati Raden Wijaya. Sejak awal anggota keluarganya banyak yang mengabdi dan turut mendirikan Majapahit, namun hanya menghasilkan kekecawaan yang mendalam.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali