Soekarno dan Gagasan Naisonalisme Serta Peran Generasi Muda dalam Mempertahankannya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Presiden Soekarno berpidati di depan delegasi Konperensi Asia Afrika di Bandung, 1955 (Lisa Larsen, THE LIFE Picture Collection, Getty Images)

Santi Susanti

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bergabung Sejak: 19 Juni 2022

Senin, 20 Juni 2022 13:24 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Soekarno dan Gagasan Naisonalisme Serta Peran Generasi Muda dalam Mempertahankannya

    Pidato Soekarno : Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 Aspek Nasionalisme

    Dibaca : 225 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Soekarno dilahirkan di Surabaya pada hari Kamis Pon tanggal 18 Sapar 1831 tahun Saka, bertepatan dengan tanggal 6 Juni 1901. Lahir ketika terbit fajar karena itu ia menyebut dirinya putra fajar. Ayahnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Ray yang berasal dari Bali, beragama Hindu. Ayahnya asli orang Jawa dan termasuk keturunan Sultan Kediri. Resminya ia beragama Islam, meskipun menjalankan ajaran Theosofi Jawa. Dia mempunyai saudara kandung, kakak perempuan yang bernama Soekarmini.

    Kata nasionalisme berasal dari bahasa Inggris “Nationalism”, perpaduan dari kata “national” dan “ism”. Nasional adalah kata sifat yang berarti “of anation or the nation” (berkenaan dengan bangsa) dan nation itu kata Inggris yang berasal dari bahasa Latin “natio, natus” yang berarti “to be born” (dilahirkan). Nation, artinya menjadi komunitas besar manusia (bangsa) yang hidup dalam kawasan tertentu dan dinaungi dalam satu pemerintahan. (Cowie, 1989 : 823)

    Gagasan soekarno tentang nasionalisme berpusat pada cinta tanah air dan persatuan Indonesia. Konsep nasionalisme yang digagas oleh Soekarno didasarkan pada keinginannya untuk menciptakan persatuan pada seluruh rakyat Indonesia. Rakyat yang bersatu padu itulah suatu bangsa. Bangsa, dalam pandangan Soekarno sebagaimana dikutip dari Ernest Renan, adalah suatu nyawa, suatu azas akal yang terjadi dari dua hal: rakyat harus bersama-sama dalam satu riwayat dan rakyat harus mempunyai kemauan dan keinginan untuk bersatu.

    “Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan ! Tidak dapat dipisahkan rakjat dari bumi jang ada di bawah kakinja. Ernest Renan memikirkan gemeinschaftnja dan perasaan orangnja Mereka hanja desir. Mereka hanja mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi jang didiami manusia itu. Apakah tempat itu ? tempat itu jaitu tanah air” ucap Soekarno dalam pidatonya.

    Dari ucapan tersebut, dapat diketahui bahwa bangsa yang berlatar belakang heterogen ini disatukan dalam satu wilayah yang mereka tempati bersama-sama. Wilayah itulah yang di sebut dengan tanah airnya. Salah satu wujud cinta tanah air adalah mencintai warganya dan bersatu padu, saling menghargai, dan gotong royong untuk memakmurkan wilayah atau negaranya.

    Soekarno memandang kecintaannya terhadap negara sebagaimana dulu telah melahirkan sosok seperti Gadjah Mada yang ingin mempersatukan nusantara. Soekarno berpendapat untuk menciptakan dan mempertahankan persatuan, harus memupuk rasa kecintaan terhadap tanah air, kesediaan yang tulus dalam mengabdikan diri kepada tanah air, dan rasa kesediaan diri untuk mengesampingkan kepentingan partai demi kecintaan terhadap tanah air.

    Soekarno juga berkata : “Kebangsaan jang kita andjurkan bukan kebangsaan jang menjendiri, bukan chauvisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, jang mengatakan “Deutschland uber Alles”, tidak ada jang setinggi Djermania, jang katanja bangsanja minuljo, berambut djagung dan bermata biru, “bangsa Aria”. Jang dianggapnja tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganja. Djangan kita berdiri di atas azas demikian, tuan-tuan, djangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah jang terbagus dan termulja, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menudju persatuan dunia, persaudaraan dunia”.

    Dari penegasan Soekarno tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa cinta tanah air memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :

    1. Berdasarkan pengetahuan atas sejarah bangsa ini, bukan untuk kesombongan dan bukan chauvisme (fanatisme buta).
    2. Berdasarkan rasa cinta pada manusia dan kemanusiaan, mencintai orang lain atau negara lain sebagaimana mencintai diri sendiri serta merekatkan tali persaudaraan dan persatuan dunia.
    3. Rasa cinta bangsa itu lebar dan luas, yakni memberikan peluang kepada orang lain untuk sama-sama mencapai tujuan dan cita-citanya.

    Nah, itulah gagasan Soekarno terhadap aspek nasionalisme dalam pidatonya. Akan tetapi, perlu diingat di era global ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengaruh budaya asing yang masuk ke negara Indonesia. Sehingga generasi muda Indonesia banyak yang melupakan budayanya sendiri karena menganggap budaya asing lebih modern daripada budaya sendiri. Sungguh, sangat ironis generasi muda Indonesia masa kini. Jika pada zaman dahulu nasionalisme dibangun untuk membentuk kesadaran demi memerdekakan diri dari kolonialisme, di era modern ini nasionalisme harus dibangun untuk membawa Indonesia menjadi negara yang maju dan berdaulat. Tentunya, peran generasi muda sangat dibutuhkan disini.

    Adapun beberapa cara untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda adalah sebagai berikut :

    1. Menguatkan kembali nasionalisme di level pendidikan formal. Misalnya dengan belajar PPKn.
    2. Mengenang dan merenungkan kembali perjuangan-perjuangan para pahlawan.
    3. Melestarikan budaya yang ada di Indonesia.
    4. Mencintai produk dari negara sendiri tanpa merendahkan produk dari negara lain.
    5. Menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia.

     

    Terima Kasih Kepada yang Sudah Membaca

    Semoga Bermanfaat

    Sumber :

    Cowie, A P ed.(1989).Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English.Oxford : Universty Press

    Wedyonongrat, R.(1947).Pidato Soekarno tentang Lahirnya Pantjasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Djakarta. TRIDAJA (Djakarta-Bandung-Semarang)

    Ikuti tulisan menarik Santi Susanti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali