Karya Sastra Syair Periode Angkatan Pujangga Lama - Analisis - www.indonesiana.id
x

Sumber: Pixabay

Elsa Ratna Wulandari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Selasa, 21 Juni 2022 09:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Karya Sastra Syair Periode Angkatan Pujangga Lama

    Pujangga lama merupakan bentuk karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pujangga lama juga dikenal sebagai Budaya Melayu Klasik. Pada saat itu, karya sastra Melayu Klasik menggunakan bahasa daerah dan bahasa Melayu, alur ceritanya masih terfokus pada dongeng, cerita masyarakat, penghiburan, sejarah lama yang bersifat nasional. Salah satu karya sastra Angkatan Pujangga Lama adalah syair.

    Dibaca : 299 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pujangga lama merupakan bentuk karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pujangga lama juga dikenal sebagai budaya Melayu klasik. Pada saat itu, karya sastra Melayu klasik menggunakan bahasa daerah dan bahasa Melayu, alur ceritanya masih terfokus pada dongeng, cerita masyarakat, penghiburan, sejarah lama yang bersifat nasional. Salah satu karya sastra Angkatan Pujangga Lama adalah syair.

    Syair merupakan salah satu jenis puisi klasik yang memperoleh pengaruh kebudayaan Arab. Syair termasuk salah satu puisi lama yang berasal dari Persia dan dibawa ke dalam sastra Indonesia bersama dengan masuknya ajaran islam ke Indonesia. Syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati tentang suatu peristiwa, kejadian, seseorang, atau perasaan. Oleh sebab itu, bait-bait didalam syair sangat banyak. 

    Berikut beberapa karya sastra syair pada periode Angkatan Pujangga Lama:

    1. Syair Bidasari

    Syair Bidasari merupakan syair yang menceritkan tentang Bidasari, seorang putri raja yang sangat cantik. Syair ini diterbitkan dan dibahas oeh H. C. Klinkert di Leiden pada tahun 1886 dalam Drie Maleische Gedichten of Sjair Ken Tamboehan, Jatim Nestapa en Bidasari. Syair ini sempat populer di Eropa pada abad ke-19, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Ceritanya berisi bahwa Bidasari tidak tahu asal usulnya, dan kemudian diangkat anak oleh sepasang pedagang kaya. Ratu negeri yang cemburu akan kecantikannya kemudian bersekongkol untuk kemudian membuang Bidasari ke hutan. Di sana dia ditemukan oleh raja dan dinikahinya. 

    2. Syair Ken Tambuhan 

    Syair Ken Tambuhan adalah karya sastra yang disalin oleh Muhammad Bakir pada abad ke-19 tepatnya pada tahun 1897 di Pecenongan. Syair Ken Tambuhan terdiri dari 1.065 bait. Syair Ken Tambuhan menceritakan tentang puteri raja yang cantik, yang ditawan oleh raja Kuripan, dan dikurung dalam taman larangan istana. Putera raja yang bernama Raden Mentri kebetulan bertemu dengan Ken Tambuhan dan jatuh cinta padanya. Ibunya yang takut puteranya akan kawin dengan orang tidak sederajat kesudahan mengupah seseorang untuk membunuh Ken Tambuhan. Sang kaki tangan menyeret Ken Tambuhan ke luar kota, membunuhnya, dan meletaknya di atas getek untuk dihanyutkan di sungai. Raden Mentri yang menemukan jenazah Ken Tambuhan lalu bunuh diri. Para dewa yang mengetahui kisah ini merasa iba, dan menghidupkan mereka berdua.

    3. Syair Raja Mambang Jauhari

    Syair Mambang Jauhari atau disingkat SMJ adalah salah satu karya sastra Melayu tradisional, yang ditulis di Pelambang pada abad ke-19. SMJ tergolong syair romantis yang berciri sintetis, yaitu syair yang ciri-ciri sastra Timur Tengah dan Hindu Jawa tergabung di dalamnya SMJ menceritakan kehidupan makhluk halus, seperti mambang, peri, jin, dan dewa-dewa. Peristiwa-peristiwa dalam cerita  itu terjadi di  kayangan, yang bukan  dunia manusia biasa. Hal ini, oleh masyarakat modern,  yang menjunjung  tinggi  rasionalitas, SMJ tidak diapresiasi, sebab dianggap sebagai konsumsi  anak-anak. Akan tetapi, bagi masyarakat pendukung cerita tersebut, cerita dalam SMJ sangat berharga, dipercayai, dan berfungsi bagi kehidupannya. Jadi, ada sesuatu yang paradok antara alam pikiran masyarakat tradisional Melayu dengan alam pikiran masyarakat modern umumnya. SMJ dianggap memiliki daya magis oleh masyarakatnya. 

    Ikuti tulisan menarik Elsa Ratna Wulandari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali