Mendengarkan Suara Hati, Menemukan Potensi Diri - Analisis - www.indonesiana.id
x

image: Earth.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 22 Juni 2022 20:34 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mendengarkan Suara Hati, Menemukan Potensi Diri

    Potensi anak sudah ada di dalam dirinya. Sebaiknya upaya pengembangan didasarkan pada potensi tersebut. Namun sayangnya kadang anak dan orang ua tidak mengenalinya. Bagaimana mengatasinya? Sila baca terus.

    Dibaca : 556 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mendengarkan Suara Hati, Menemukan Potensi Diri

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Parenting  adalah sebuah ketrampilan yang dibutuhkan oleh semua orang tua. Sayangnya tidak ada sekolahnya. Maka sebaiknya orang tua belajar parenting dari bacaan seperti ini dan diskusi. Salah satu skill spesifik yang harus dikuasai oleh orang tua adalah menemukan dan mengembangkan potensi anak anaknya.  Pertanyaannya bagaimana cara nya menemukan dan mengembangkan potensi anak?

    Saya teringat sebuah quote dari Maulana Jalaludin Rumi.   There is a voice that doesn’t use words. ListenAda suara yang tidak memakai kata kata.  Dengarlah.   Saya merasakan kalimat Maulana Jalaludin Rumi ini sangat indah.   Saking indahnya sampai tak terlupakan.  Seorang sastrawan sejati itu mampu menyampaikan gagasannya dengan indah dan mengandung  metafora.   Mari kita otak atik kalimat mutiaranya. 

    Petunjuk Allah swt

    Rumi tidak sedang berbicara tentang musik intrumentalia yang sangat cocok dipakai sebagai pengiring orang bekerja atau menulis.  Saya yakin apa yang dia maksud adalah petunjuk dari Allah swt untuk manusia yang merupakan jawaban atas doanya.  Petunjuk atau bimbingan dari Allah swt itu berupa kenyataan yang dihadapi.  Tanpa kata.  Maka manusia harus ‘membaca’ dengan mata nalar, mata raga, dan mata hati.   Saya menyebutnya dengan trinetra yang artinya tiga mata.  Manusia memang dikarunia tiga macam mata tersebut.    

    Mendengarkan Suara Hati

    Kemungkinan lain apa yang dimaksud dengan ‘suara tanpa kata’ itu adalah krenteging ati dalam bahasa Jawa.   Dalam bahasa Indonesia artinya kira kira minat yang kuat pada sesuatu sehingga menjadi niat. Misalnya orang yang diberi karunia bermain musik dan bernyanyi dengan baik.  Dia setiap hari bermain musik dan beryanyi sehingga kemampuannya semakin hari semakin baik.  Kemudian bakat dan minatnya itu makin menguat sehingga akhirnya dia punya krenteg untuk menjadi penyanyi.  Jadi tidak ada suara yang dia terima tapi dia merasakan krenteg itu di dalam dirinya.  Rumi menyarankan agar ‘suara tanpa kata’ itu didengarkan dan diikuti.

    Menuruti minat anak

    Meskipun demikian hal ini kadang menjadi persoalan ketika terjadi perbedaan pendapat dengan orang tua.  Bisa dipahami kalau orang tua menghendaki anaknya hidup layak.  Ini wajar saja dan bahkan wajib mendoakan dan mengupayakan agar anaknya hidup bahagia dan sejahtera.  Tapi tidak sedikit orang tua yang menilai krenteg  anaknya ini dengan kriteria uang semata.  Orang tua mempertanyakan prospek keuangannya.  Misalnya profesi yang ingin digeluti anaknya berbeda dengan profesi orang tuanya, atau banyak orang yang menjalani profesi tertentu tersebut secara keuangan belum berlimpah, maka kadang terjadi perbedaan pendapat antara anak dengan orang tua.  Orang tua lantas berupaya mencegah lantaran kuatir dengan masa depan keuangan anaknya.  Sedangkan anaknya tidak bisa menjawab dengan gamblang dan pasti karena jalan ke depan memang belum jelas.

    Hal ini pernah saya bahas dalam artikel terdahulu di Indonesiana:

    https://www.indonesiana.id/read/153855/mengikuti-minat-anak

     

    Dalam situasi demikian memang diharapkan orang tua memahami keadaan anaknya.  Biarkan saja anak anak berkembang maksimal dengan bakat dan minatnya sendiri.  Bukankah seseorang bisa bekerja maksimal dan berprestasi manakala dia bekerja dengan sepenuh hati?  Jika dia bekerja dengan setengah hati di bidang yang tidak diminati bisa dipastikan hasilnya tidak akan bagus.  Tidak ada prestasi yang dicapai dengan bekerja asal asalan. Dia tidak menikmati pekerjaannya dan orang lain yang menjadi mitra kerjanya juga akan terbebani. 

    Tut Wuri Handayani

    Dulu Ki Hajar Dewantoro merumuskan dengan apik prinsip pendidikan yang baik, dalam bahasa Jawa Tut wuri handayani,  artinya mengikuti dari belakang sambil mengawasi.  Saya yakin maksudnya biarkan anak anak memutuskan sendiri sekolah apa yang diminati, profesi apa yang dijalani dsb.  Sejak awal anak anak perlu dilatih mengambil keputusan. Mulai dari keputusan kecil sampai akhirnya dia mampu mengambil keputusan penting untuk kehidupannya kelak.

    Menemukan dan mengembangkan potensi

    Mendengarkan suara hati akan menghasilkan kejelasan bakat dan minat anak.  Mungkin sejak SMP atau bahkan sejak SD potensinya sudah kelihatan.  Mata pelajaran apa yang dia minati mesyinay sudah terlihat. Birkan dia memilih sendiri. Setelah dia menemukan potensinya orang tua tinggal mendukung dengan doa, dana dan upaya.

    Orang tua tidak perlu mendikte anak mau kuliah dan kerja di mana. Serahkan saja keputusan itu kepada anak.  Naum orang tua perlu memberi keterangan lengkap dan memimbing anaknya mengambil keputusan dengan baik.

    Keterangan lengkap tentang dunia perguruan tinggi dan dunia kerja adalah modal penting.  Disertai dengan pertimbangan matang insya Allah orang tua akan   bisa membantu anaknya mengambil keputusan baik.

    Itulah pokok pikiran utama kita tentang parenting kali ini.

    Dengarkan suara hati, kenali potensi anak anak. Dukung mereka mengembangkan segenap potensinya.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.