Generasi Milenial Butuh Hal Baru dari Politik dan Aktivisme Mahasiswa - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Aksi Mahasiswa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Ahmad Risani

Pegiat Pendidikan, Penulis buku Netizenokrasi:Sketsa Politik Generasi Milenial
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 5 Juli 2022 15:47 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Generasi Milenial Butuh Hal Baru dari Politik dan Aktivisme Mahasiswa

    Aspirasi apakah yang diinginkan generasi milenial dari sebuah gerakan politik dan aktivisme mahasiswa? Mereka membutuhkan nilai baru ketimbang politik citra dan gerakan semu yang tidak memberi dampak apa-apa.

    Dibaca : 543 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Banyak pengamat mengatakan kepercayaan publik pada parpol kian cekak. Akrobat politik yang dipertontonkan semakin membuat publik muak. Korupsi dan janji-janji palsu kian menumpuk di alam pikiran masyarakat. Impresi negatif pada parpol pun kian berkarat.

    Di ruang yang berbeda, pengamat bilang dunia pergerakan kian ditinggalkan mahasiswa. Ketimbang kritis, disinyalir anak muda lebih senang hura-hura. Zaman yang berubah bikin aktivis bingung cari panggung eksistensi. Sebutan sebagai kaum muda intelektual kian tak seksi.

    **

    Dua kondisi di atas sama-sama menggambarkan betapa pelaku politik kita telah kehilangan taji. Yang satu tak berdaya di parlemen, satu lagi tak berkutik di ekstra-parlemen. Tapi itu semua hanya di mata pengamat. Toh, meskipun politisi dan aktivis dinilai begitu, tetap saja perjalanan demokrasi kita membutuhkan mereka. Politisi di partai politik dan aktivis di organisasi gerakan.

    Ada banyak faktor yang barangkali bisa menjelaskan kondisi ini terjadi. Setidaknya, dua hal yang mesti di-perhatikan untuk memperkuat kembali sendi-sendi per-politikan dan pergerakan kita, yaitu political branding dan pemetaan pasar demografi. Mau tak-mau dunia politik bersentuhan langsung dengan dua variabel tersebut.

    Political branding diperlukan untuk memperbaharui citra negatif yang kadung di konsumsi publik. Begitu juga dengan pemetaan struktur demografi yang berubah, secara signifikan menciptakan masyarakat yang rasional, berkat kebijakan di bidang pendidikan.

    Secara demografis, piramida penduduk Indonesia dihuni oleh 34,45% penduduk usia 15-34 tahun yang terkoneksi melalui platform media sosial.[1] Mereka adalah generasi milenial dengan karakter yang tidak mudah loyal, tertarik dengan hal-hal baru dan trending, dan pandai mencerna informasi.

    Segmentasi politik yang beragam dan agenda perge-rakan yang menumpuk, tentu harus benar-benar on target. Political branding dilakukan untuk memperbaiki performa partai politik dan organisasi pergerakan di tengah-tengah masyarakat.

    Citra partai yang cenderung pragmatis dan hanya hadir ketika menjelang pemilihan mesti segera ditanggal-kan. Juga dengan dunia aktivisme yang cenderung keras dan elitis juga mesti disegarkan. Tentunya dengan citra yang berfondasi isi. Bukan sensasi. Atau sekedar gimmick belaka.

    Era media telah membuka ruang kompetisi pencitraan yang luas. Beragam komunitas sosial bermunculan dan dikenal lewat media. Kemampuan mereka dalam mem-bentuk brand dan membaca pasar menjadi kekuatan dalam menggaet partisipan, bahkan kader.

    Segmentasi politik sangat beragam, dibutuhkan pen-dekatan yang pas. Di antara segmentasi itu lebih banyak dipengaruhi politik identitas misalnya agama, suku, dan ikatan primordialisme lainnya. Selain itu juga didorong oleh motif ekonomi, pengalaman politik, pandangan ideologi, dan kondisi sosial-budaya. Masing-masing segmen tentu memerlukan pendekatan yang berbeda untuk menarik dukungan politik.

    Memahami segmentasi politik saja tidak cukup. Parpol dan organisasi pergerakan butuh sebuah wadah komunitas baru untuk mendekatkan mereka kepada target (masyarakat). Tentunya komunitas ini bukan semata sayap pergerakan. Tapi komunitas yang justru berasal dari keinginan masyarakat itu sendiri.[2] Sementara aktor politik atau pergerakan masuk melebur bersama mereka. Saat ini, pencitraan saja tidak cukup. Kita mengenal istilah value (nilai). Value menciptakan loyalis sejati.

    Buku Netizenokrasi

    Aktivisme dan Value

    Lantas, bagaimana dengan dunia pergerakan? Value yang perlu dibangun kembali adalah kehadiran organisasi-organisasi mahasiswa saat munculnya isu-isu yang berhubungan dengan masalah publik.

    Saat ini publik masih sangat membutuhkan gerakan mahasiswa sebagai penyambung aspirasi yang kritis dan memiliki daya gedor yang kuat. Namun, nilai ini perlahan hilang digempur korporasi media dan iklim pendidikan yang mematikan nalar kritis mahasiswa.

    Setiap organisasi memiliki segmentasi kerja yang berbeda-beda. Ada yang bergerak di bidang agraria, pegiat literasi, pegiat anti-korupsi, pegiat lingkungan, dan lain sebagainya. Value perlu dibangun berdasarkan segmentasi yang telah dipilih. Membangun value tentu dengan kualitas. Bukan sekedar pepesan kosong yang rapuh. Konsistensi sangat diperlukan di sini.

    Generasi milenial cenderung menjatuhkan pilihan berdasarkan minat dan bakatnya. Bukan pada pilihan ideologi politik. Generasi ini juga lebih memilih komunitas yang mewakili jiwa mereka yang enerjik, mobile, demo-kratis, dan kreatif.[]

     

    [1] Penelitian yang dilakukan oleh Alvara Strategic tentang generasi milenial, tantangan, dan peluang pemuda Indonesia (http://alvara-strategic.com)

    [2] Silih Agung Waseso dalam buku Political Branding memberikan pemaparan tentang bagaimana partai politik dan aktor politik memenangkan konstituen. Salah satunya dengan membentuk komunitas yang berasal dari keinginan masyarakat itu sendiri.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Ahmad Risani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.