Menganalisis Wujud ‘Ayah’ dalam Puisi Keluarga Khong Guan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Alfi Bahaviani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Juli 2022

Selasa, 5 Juli 2022 16:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menganalisis Wujud ‘Ayah’ dalam Puisi Keluarga Khong Guan

    Pertanyaan-pertanyaan kemana ayah dalam keluarga Khong Guan dijawab melalui puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

    Dibaca : 245 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mendengar kata Khong Guan, kita akan disuguhkan dengan bayangan tentang sebuah merek biskuit legendaris yang hampir selalu hadir saat hari raya. Sampai saat sekarang, siapa yang tidak tahu tentang merek biskuit ini? Biskuit yang dikemas dalam kaleng berwarna merah dan putih yang dihiasi dengan gambaran isi di dalam kaleng dibagian bawah kaleng. Di bagian atas kaleng dihiasi dengan potret keluarga yang sedang menikmati sajian yang tersaji dalam sebuah meja makan.

    Keberadaan Khong Guan sebagai merek yang populer, menimbulkan banyak pertanyaan yang timbul karena tidak menampilkan kehadiran seorang ayah dalam visualisasi yang ada dalam kalengnya. Pertanyaan tentang sosok ayah dalam masyarakat terbentuk karena visual kaleng Khong Guan yang tidak cocok dengan citra Khong Guan sebagai ‘Kue Hari Raya’ yang identik dengan berkumpul dengan keluarga.

    Pertanyaan tentang kehadiran sosok ayah dalam kaleng Khong Guan terus bergulir sekian lama sampai berhasil menjadi ide warganet untuk membuat berbagai karya mulai dari poster, puisi, sampai meme. Seperti salah satu penyair ternama, Joko Pinurbo atau biasa dikenal dengan Jokpin. Khong Guan menginspirasi salah satu buku kumpulan puisi miliknya yang berjudul Perjamuan Khong Guan. Dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan, terdapat sebuah puisi yang menceritakan gambaran dari keluarga yang ada dalam gambar kaleng Khong Guan, yaitu puisi dengan judul Keluarga Khong Guan.

    Keberadaan puisi pada saat ini bukan hanya sebagai sarana menyalurkan nasihat-nasihat lewat kalimat-kalimat yang indah. Saat ini, puisi dapat dinikmati dalam berbagai jenis media masa dan dengan mudah masuk ke dalam berbagai jenis masyarakat. Umumnya, puisi dinikmati sebagai karya yang dapat menyuarakan isi hati pembacanya. Pemilihan kata-kata yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari menjadikan puisi sebagai sebuah kumpulan kata yang indah.

    Seiring waktu puisi kemudian berkembang menjadi sebuah wadah yang dapat menyalurkan asprasi dan keresahan penyairnya. Seperti pada puisi Jokpin yang berjudul Keluarga Khong Guan, Jokpin menyampaikan keresahannya tentang jati diri seseorang. Puisi Keluarga Khong Guan seolah menjawab pertanyaan yang sering muncul tentang sosok ayah dalam keluarga Khong Guan.

    Pemilihan kata yang tidak biasa dalam menciptakan puisi akan memunculkan makna-makna tersembunyi sebagai sebuah tanda yang terkadang sulit dipahami oleh pembacanya. Tanda-tanda dalam puisi sejalan dengan peran Semiotika yang mengatakan bahwa setiap hal yang ada dalam bahasa merupakan sebuah tanda. Dalam hal ini, tanda didapatkan dari setiap bait dan kalimat yang ada pada puisi.

    Setiap penyair akan selalu menyispkan sebuah pesan dalam bait-bait puisinya. Joko Pinurbo, dalam puisinya yang berjudul Kelurga Khong Guan juga menyampaikan pesan tersirat tentang pencarian jati lewat gambaran keluarga Khong Guan.

    Banyak orang penasaran

    mengapa sosok ayah

    dalam keluarga Khong Guan

    tak pernah tampak di meja makan?

    Pada bait pertama puisi ini, menampakkan jelas rasa penasaran banyak orang tentang sosok ayah dalam keluarga Khong Guan. Pemotongan kalimat-kalimat seolah menekankan rasa penasaran banyak orang yang kemudian dibuktikan dengan tanda tanya di akhir kalimat perihal keberadaan sosok ayah tersebut.

    Kata anak laki-lakinya,

    Ayahku sedang

    menjadi bahasa Indonesia

    yang terlunta di antara

    bahasa asing dan bahasa jalanan

    Seolah menjawab segala pertanyaan dari setiap rasa penasaran orang-orang, anak laki-laki dalam keluarga Khong Guan menjawab pertanyaan soal ayahnya. Dalam bait tersebut ia menyatakan kalau ayahnya ‘… sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan’.
     
    Kalimat anak laki-laki dalam keluarga Khong Guan menyiratkan tentang keadaan masyarakat Indonesia yang saat ini mayoritas lebih banyak menggunakan bahasa asing karena dianggap lebih keren atau menggunakan bahasa jalanan yang lebih asyik dari bahasa Indonesia.
    Sama seperti sosok ayah dalam keluarga Khong Guan yang tidak tahu dimana eksistensinya, bahasa Indonesia juga mengalami hal yang sama. Semua orang tahu ada bahasa Indonesia, tapi tidak menghadirkannya dalam kegiatan berbahasa.

    anak perempuannya

    menyahut, “Ayahku

    sedang menjadi nasionalisme

    yang bingung dan bimbang.

    Tidak mau kalah dengan si anak laki-laki, anak perempuan dalam keluarga Khong Guan menyahut dalam bait selanjutnya. Dalam bait ini, si anak perempuan menyatakan ayahnya sedang dalam kebingungan dan kebimbangan. Berbanding terbalik dengan penggunaan kata nasionalisme yang seharusnya sudah mantap soal mencintai tanah air, sosok ayah ini justru kebingungan mencari jati dirinya terhadap negara.
    Seperti mayoritas masyarakat Indonesia yang kebingungan, apakah benar mencintai tanah air atau terbiasa dari lahir ada di negeri ini?

    Si ibu angkat bicara,

    Ayahmu sedang menjadi

    koran cetak yang kian

    ditinggalkan pembaca dan iklan.”

    Menyela setiap pendapat kedua anaknya, si ibu juga turut memberikan jawaban pada pertanyaan orang-orang dengan menyatakan bahwa ayahnya tengah menjadi koran cetak yang banyak ditinggalkan.
    Perubahan zaman yang membawa perubahan besar-besaran pada teknologi dan gaya hidup rupanya menjadi keresahan penyair. Koran cetak yang mulai banyak ditinggalkan membuat banyak sekali perusahaan yang tidak siap terpaksa gulung tikar.

    Semoga Ayah tetap

    terbit dari timur, ya, Bu” ujar

    kedua anak yang pintar itu.

    Dalam bait selanjutnya, kedua anak tersebut berharap sosok ayahnya akan selalu terbit dari timur. Melambangkan arah datangnya matahari yang menjadi poros kehidupan manusia. Dalam bait tersebut, dimanapun ayahnya, mereka berharap sosok ayahnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
    Pada akhirnya si ibu menutup dengan kalimat bodo amat dalam bait terakhir yang menyatakan ketidak peduliannya soal dari mana akan datang sosok ayah yang dipertanyakan semua orang itu.

    Bodo amat ayahmu

    mau terbit dari mana,” balas si ibu.

    yang penting bisa pulang

    dan makan bersama.

    (Jokpin, 2020: 106-107)

    Ketidak pedulian si ibu menggambarkan bahwa setiap orang berhak memiliki harapan, mimpi, keinginan, dan jalan pikiran sendiri tentang keberadaan ayahnya. Tetapi, dengan kalimat penutup yang manis, ‘yang penting bisa pulang dan makan bersama’ si ibu merangkum seluruh harapan keluarga, yaitu menantikan kehadiran ayah untuk dapat berkumpul dan makan bersama kembali.
     
    Melalui puisi Keluarga Khong Guan ini, mungkin saja sosok ayah yang hilang dari kaleng Khong Guan adalah kita yang melupakan jati diri kita sendiri. Kita yang kadang terlupa dari mana lahir dan besar atau bahkan lupa bahwa kita diciptakan untuk saling berguna bagi satu sama lain.
    Jika bukan ayah Khong Guan yang hilang, mungkin saja kita adalah kaleng Khong Guan yang kehilangan jati dirinya karena terisi oleh rengginan. Seperti kebanyakan orang yang harus mengikuti standar sosial.
     
    Selamat mencari ayah Khong Guan dalam diri sendiri. Atau munkin dalam hiruk pikuk kehidupan yang selalu meresahkan.

    Ikuti tulisan menarik Alfi Bahaviani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.