x

Tan Malaka. Foto: Wikipedia

Iklan

Ricko Blues

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Senin, 25 Juli 2022 11:57 WIB

Kematian Tan Malaka (Bagian 3-Selesai)

Setelah ditahan selama dua tahun karena tuduhan hendak mengkudeta pemerintahan Soekarno-Hatta, Tan Malaka bebas dan mendirikan Partai Murba. Partai Murba tetap bertahan bahkan ketika Tan Malaka dinyatakan hilang, sejak 1949. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Banyak yang menduga ia telah mati. Namun, kapan dan bagaimana ia mati tidak ada yang tahu pasti. Bahkan letak makamnya sekalipun. Seperti hidupnya, kematiannya pun penuh kontroversi. Selama bertahun-tahun ia diyakini ditembak di tepi sungai Brantas, Kediri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada 1 Januari 1946, Tan menggalang kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto untuk mengambil alih kekuasaan dari tentara sekutu. Pada 17 Maret 1946, Tan dan Soekarni ditangkap di Madiun karena Persatuan Perjuangan dituduh hendak mengkudeta pemerintahan Soekarno-Hatta. Penahanan Tan dan kawan-kawannya ini banyak diprotes masyarakat terutama dalam kalangan pers. Banyak tokoh juga tidak sepakat hingga mereka bertemu Soekarno dan menuntut pemerintah membebaskan Tan Malaka dan kawan-kawan seperjuangan.

Sejak itu, Tan dan Soekarni hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Juni 1948, keduanya dipindahkan ke penjara Magelang. Di sinilah Tan menulis buku otobiografinya sendiri berjudul Dari Penjara ke Penjara yang dipublikasikan sebanyak tiga jilid. Dari buku inilah banyak orang pun tahu perjuangan Tan Malaka sejak awal.

Pada 16 September 1948 keduanya dibebaskan dan segera mendirikan partai Murba di Yogyakarta pada 7 November 1948. Partai Murba tetap bertahan bahkan ketika Tan Malaka dinyatakan hilang. Banyak kalangan menilai hilangnya Tan Malaka telah melemahkan partai itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tan Malaka hilang jejak pada tahun 1949. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Banyak yang menduga ia telah mati. Namun, kapan dan bagaimana ia mati tidak ada yang tahu pasti. Bahkan letak makamnya sekalipun. Seperti hidupnya, kematiannya pun penuh kontroversi. Selama bertahun-tahun ia diyakini ditembak di tepi sungai Brantas, Kediri.

Partai Murba, yang didirikan Tan Malaka, termasuk yang percaya dengan pendapat ini. Ada yang menyebutkan Partai Komunis Indonesia adalah dalang di balik kematian sang Bapak Republik. Menurut Sayuti Melik, pasukan Perindo (PKI) membunuh Tan karena tak menginginkannya menggantikan Soekarno. Adam Malik menyebutkan Tan tewas ditembak pada 16 April 1949 di Kediri oleh ‘tangan-tangan tak bertanggungjawab’.

Tabir di balik tragedi hilangnya Tan Malaka akhirnya terkuak setelah Harry Poeze menemukan makam yang diyakini milik Tan Malaka di desa Selopanggung, sebuah desa di kaki gunung Wilis, Kediri.

Menurut penyelidikannya, Tentara Republik Indonesia Batalion Sikatan menangkap dan mengeksekusi Tan di desa Selopanggung pada 21 Februari 1949. Perintah penembakan ini diturunkan langsung oleh Soekotjo yang terakhir berpangkat Brigadir Jenderal dan pernah menjadi Walikota Surabaya. Belakangan diketahui perintah penembakan ini merupakan akibat ‘salah tafsir’ Soekotjo terhadap isi perintah Soengkono, Panglima yang menguasai pasukan se-Jawa Timur.

Isi perintah melalui radiogram itu juga tidak jelas; yang mengatakan bahwa aktivitas politik Tan Malaka berbahaya. Oleh karena itu, mereka harus dihentikan dan jika ada perlawanan bisa digunakan hukum militer. Soekotjo mungkin menafsirkan ‘hukum militer’ ini dengan tembak mati, menurut Poeze.

Pada saat itu Tentara Republik Indonesia sedang bergerilya menghentikan operasi agresi militer Belanda. Tan Malaka dan Jenderal Soedirman—yang bergerilya di Yogyakarta—juga sedang berjuang melawan agresi Belanda.

Tan Malaka di bawah jaminan Mayor Sabarudin mendirikan Rakyat Murba Terpendam di Kediri sebagai pusat penyebaran pamflet dan berpidato memproklamasikan diri sebagai pemegang tongkat revolusi karena Soekarno dan Hatta sedang ditawan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tindakan Tan Malaka ini bukan tanpa alasan. Testamen politik yang diberikan Soekarno terhadapnya menjadi rujukan Tan bisa mengambil alih kekuasaan. Inilah yang oleh para lawan politik, gerakan Tan Malaka dianggap membahayakan. Ia dicurigai akan mengkudeta kepemimpinan sah Soekarno-Hatta.

Pada tahun 1990-an, Harry Poeze mendatangi kampung Selopanggung untuk menemui seorang pria tua bernama Tolu. Ia bercerita bahwa sewaktu masih kecil ratusan tentara pernah datang ke kampungnya dan membawa seorang pria yang tangannya diikat di belakang. Pria itu kemudian ditawan bersama buku-bukunya di sebuah lumbung padi. Ia masih ingat suatu malam terdengar sebuah letusan keras dan pria itu tidak pernah terlihat lagi. Poeze sangat yakin pria yang dikisahkan Tolu itu adalah Tan Malaka. Inilah penemuan terbesar Poeze selama 40 tahun meneliti Tan Malaka. Misteri hilangnya Tan Malaka yang belum pernah terkuak selama kurang lebih 60 tahun akhirnya terpecahkan.

Pada tahun 2008, Poeze datang lagi ke desa Selopanggung bersama Zulfikar Kamaruddin, anak dari adik kandung Tan satu-satunya, Kamaruddin; dan Ibarsyah Ishak, suami cucu Tan dari garis ibu. Bersama Tolu, mereka menuju ke makam Tan Malaka yang dimakamkan berdampingan dengan seorang sesepuh di desa itu. Makam pun digali dan ditemukan tulang-belulang dengan posisi tangannya terikat ke belakang. Untuk memastikannya lagi telah dilakukan tes DNA dan sudah hampir bisa dipastikan kalau makam itu adalah makam Tan Malaka.

Atas peristiwa eksekusi terhadap Tan Malaka ini, Hatta kemudian memberhentikan Soengkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan Soerahmad sebagai Komandan Brigade. Pada 28 Maret 1963, Soekarno yang sejak dulu mengagumi sang Bapak Republik, mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Itulah akhir tragis dari seorang revolusioner sejati. Seumur hidupnya dibaktikan untuk merebut kemerdekaan Indonesia, ia pun harus mati di ujung bedil tentara bangsanya sendiri.

Revolusi tidak hanya membunuh anak kandung, tapi juga orangtuanya sendiri.

Selesai.

 

 

Ikuti tulisan menarik Ricko Blues lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu