x

Iklan

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Senin, 25 Juli 2022 05:43 WIB

Menghitung Peluang Duet Puan-Anies

Perjodohan dua figur ini tak akan semulus laju kereta cepat. Banyak aspek yang harus dihitung. Mulai dari berapa jumlah gerbong yang dibawa, berapa banyak stasiun yang disinggahi, dimana pemberhentian kereta cepat, hingga fasilitas yang ditawarkan. Tetapi dalam politik tidak ada yang tak mungkin.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Politik serba mungkin dan dinamis. Saripati dari narasi politik menyebut jika tak ada lawan dan kawan yang abadi, agaknya menjadi implementasi dalam politik semua mungkin terjadi. Pun atas gonjang-ganjing duet calon presiden dan wakil presiden, ini kembali mempertegas, segalanya masih bersifat prediksi. Bisa saja yang diunggulkan di lembaga survei layak menempati posisi capres dari partai tertentu, bisa berbalik menjadi cawapres atau bahkan tidak menduduki keduanya.

Yang tengah menarik perhatian wacana duet pasangan Puan Maharani dan Anies Baswedan. Jika melihat historinya, kedua figur ini berangkat dari pola asuh yang berbeda. Puan bersama PDI Perjuangan sedangkan Anies banyak didukung oleh kelompok Islam moderat. Mestinya saat duet ini terwujud, para pendukung bergegas menyusun tagline pasangan Nasionalis-Religius. Slogan yang dinilai bakal selalu dekat dengan denyut nadi rakyat.

Meski begitu, perjodohan kedua figur ini tak akan semulus laju kereta cepat. Banyak aspek yang membuat keduanya terpaksa menghitung berapa jumlah gerbong yang dibawa, fasilitas apa yang ditawarkan, secanggih apa komposisi rangkaian gerbong dan berapa banyak stasiun yang disinggahi, dimana pemberhentian kereta cepat ini kita ilustrasikan sebagai momentum silih berganti penumpang apakah mereka terpikat akan fasilitas yang ditawarkan.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam kesempatan interview di salah satu televisi nasional menyebutkan, dalam politik tidak ada yang tidak mungkin. Politik adalah seni memainkan ketidakmungkinan. Hanya masalahnya seberapa mungkin itu terjadi sesuai hitung-hitungan yang rasional.

"Pertama berdasarkan hitung-hitungan kalkulasi pendukung Capres dari sudut partai yang cukup kursinya. Yang kedua adalah elektabilitas. Nah kalau berdasarkan elektabilitas setahu saya belum ada lembaga survei yang menempatkan Puan di posisi nomor satu dan Anies di nomor dua," kata Burhanuddin.

Ia juga menegaskan, seberapa mungkin duet ini bisa dijodohkan di 2024, juga bergantung pada seberapa menariknya duet ini. Antara Puan-Anies atau Anies-Puan, partai politik akan melihat mana yang lebih menarik. Apalagi menurut konstitusi hanya partai politik yang bisa mencapreskan pasangan. Nah, nama Anies Baswedan sudah muncul di Rakernas Nasdem. Satu dari tiga nama yang disebut oleh partai Nasdem adalah Anies Baswedan sebagai calon Presiden.

"Tapi Nasdem sendiri itu tidak cukup kursinya untuk mencapreskan Anies," imbuhnya.

Satu-satunya yang bisa menominasikan partai adalah PDI Perjuangan. Tetapi partai berlambang banteng itu tak tergantung pada Puan melainkan pada Ibu Mega. Jika dalam hitung-hitungan berdasarkan partai yang mengusungkan, tentu PDI Perjuangan punya keleluasaan dengan asumsi Ibu Mega mencapreskan Puan. Sebaliknya, jika hitung-hitungannya aspek lain, misalnya Anies Baswedan lebih kompetitif maka hitung-hitungannya Anies lebih berpeluang menjadi nomor satu (Capres).

Ya, bicara Puan bicara anak bos partai, si anak kesayangan Ibu Mega yang acapkali membuat netizen gemes atas tingkahnya. Misal ketika mematikan mikrofon Irwan Fecho, anggota dewan Fraksi Demokrat saat interupsi perihal penolakan pengesahan UU Cipta Kerja di Gedung Parlemen Senayan. Ramai di jagat maya jika Puan dianggap membungkam suara rakyat. Ada pula komentar kalau ulahnya menghilangkan hak-hak rakyat kecil.

Ditarik mundur lagi saat Puan menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) pada 2019. Ia melontarkan wacana impor guru asing untuk mengajar di Indonesia. Ada aksi muncul reaksi, masyarakat menghujani kritikan atas wacana itu, terutama profesi guru. Setelah gaduh beberapa hari, barulah Puan meralat wacana itu.

Meletakkan Puan menjadi Capres 2024 adalah mungkin jika itu hasil diskusi elit. Sebaliknya, mendudukan Puan sebagai nahkoda rangkaian gerbong kereta cepat, nampaknya penumpang lebih memilih alternatif moda transportasi lainnya. Kontroversi Puan tak bisa lepas dari pantauan publik dalam menyeleksi siapa penerus kepemimpinan Presiden Jokowi. Meski kontroversi itu mungkin bagian dari intrik dinamika politik, tetapi aksi itu cukup jadi bekal awal publik untuk bersikap apakah figur tersebut peka terhadap kerisauan wong cilik.

Duet Puan-Anies perlu hitung-hitungan cermat. Alih-alih upaya preventif redam politik identitas, justeru bisa makin memanas. Barisan simpatisan Anies di Pilgub DKI 2017 silam praktis tak sepenuhnya legowo jika duet itu paripurna. Simpatisan lebih menunggu pasangan lainnya yang dinilai mampu melanjutkan aspirasi mereka ketimbang harus melebur ke kubu Puan yang notabene adalah partai pengusung rival Anies pada Pilgub DKI.

Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler