x

Iklan

riwis sadati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kreatifnya Sinetron Indonesia

Ketika mendengar kata ‘Sinetron’ bergaung, sudah pasti langsung muncul paradigm-paradigma jelek kan. Tapi bagaimana jika paradigma buruk itu terlahir dari kekreatifitasan yang teramat besar?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata ‘Sinetron’? Mungkinkah sebuah adegan penuh dengan zoom out-in, musik yang cukup mengganggu saat dialog, karakter yang selalu berteriak atau drama yang panjangnya melebihi jalur pantura? Ya, tidak beda jauh dari apa yang saya pikirkan juga ketika mendengar kata sinetron terucap tanpa sengaja. Banyak yang bahkan menghindari membahas sinetron karena dianggap terlalu norak.

Degradasi Pamor Sinetron

Padahal pada jaman dahulu kala, sebut saja antara 1998-2000, sinetron menjadi salah satu tayangan andalan yang tak akan dilewatkan. Apapun update terbarunya bisa jadi bahan obrolan seru dengan teman-teman sejawat, sembari minum kopi atau saat nongkrong menunggu jemputan.

Atau mungkin hanya saya saja yang mengalami perubahan kurang menariknya sinetron di Indonesia ini? Yang saya cermati, makin ke sini acara ini memiliki tema yang seragam. Mungking pada 10 episode awal menarik, seolah membawa kita berucap “keren ini yang diangkat jadi cerita beda”. Namun sejalan dengan waktu, jumlah episode yang muncul makin lama akan makin panjang dan mulai ditinggalkan karena alur cerita yang sudah tidak terarah. Kalau bagi saya, tanda dimulai dari mulai lambatnya sebuah cerita, dari satu episode intinya hanya menuju atau menghadiri satu acara saja bisa memakan waktu 2jam acara. Atau jika sudah ada tokoh yang mati dan hidup kembali atau hilang ingatan.

Saya pun beralih dari yang dahulu lumayan mengikuti acara sinetron menjadi berburu drama-drama negara lain, Jepang dan Korea Selatan terutama. Drama-drama ini selalu memberikan saya hiburan yang menyenangkan. Tak ada itu adegan bentak-bentakan yang intens, adegan dengan angle monoton, alur cerita yang ngglandrah dan episode sepanjang jalur pantura bolak-balik. Drama Korea Selatan dan Jepang selalu memiliki ide cerita serta alur yang jelas. Jarang sekali Anda akan menemui episode yang panjang, Jepang rata-rata hanya 10-15 episode sedang Korea Selatan sekitar 20-25 episode. Hal ini membuat saya senang mencari referensi cerita lain yang beragam.

Tragedi Kreatifitas Indonesia

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beberapa waktu lalu, masih bulan Mei 2014, terdengar oleh saya (karena tersebar di internet terutama social media) jika salah satu sinetron di Indonesia itu tersandung masalah dengan negara lain. Tau apa yang saya ucapkan ketika membacanya? “AKHIRNYA!! Akhirnya ketahuan juga! Akhirnya kena batunya!”

Bukan maksud saya buruk terhadap sinetron Indonesia. Tapi sebagai penikmat drama Asia, saya merasa sangat jengkel dan kesal. Pasalnya orang-orang kreatif di belakang layar sinetron Indonesia ini banyak yang melakukan pelanggaran hukum. Mungkin saking kreatifnya, mereka melakukan penjiplakan cerita dari drama-drama Jepang-Korea Selatan-Taiwan, bahkan ada FTV yang menjiplak film Amerika dan dibuat versi Indonesia. Ini sudah rahasia umum, Anda bisa mencari di berbagai forum di Indonesia untuk mencari bukti kemiripan sinetron atau FTV di Indonesia.

Sebuah drama Jepang atau Korea Selatan jika diadaptasikan di negara lain, biasanya akan ada selembar artikel berita. Menginformasikan bahwa secara legal acara itu ditayangkan di negara lain. Nah kalau Indonesia, sangat jarang sekali stasiun televise atau rumah produksi yang mengantongi lisensinya.

Pada kasus baru-baru ini, sinetron terbaru Nikita Willy dan Morgan yang berjudul “Kau yang Berasal Dari Bintang”. Jadi sangat heboh dan jujur memalukan, karena menjiplak bahkan secara judul sudah mirip dengan drama Korea Selatan “You from Another Star”. Kabar ini dimulai dari laporan di forum internasional oleh penggemar drama Korea Selatan asal Indonesia yang tidak terima adanya copy paste tersebut. Lalu ramai diperbincangkan dan tersebar ke penggemar internasional hingga dilayangkan surat kepada SBS tentang plagiat drama mereka.

Kasus ini sudah berjalan, kabarnya pihak RCTI sebagai pemilik hak siar sinetron ala Indonesia sudah menemui pihak SBS yang memiliki hak tayang asli di Korea Selatan. Memang berakhir damai, bahkan kemungkinan adanya kerjasama adaptasi terbuka. Namun tercorengnya nama Indonesia sepertinya mulai membuat Korea Selatan akan lebih sering memantau lagi tayangan di negeri kita. Semoga saja tidak ada lagi jiplakan baru yang beredar sehingga tak perlu lagi ada kasus hukum mengenai hak cipta. Toh penulis scenario di Indonesia juga banyak yang memiliki ide orisinil, dengan jumlah episode panjang juga.

Ikuti tulisan menarik riwis sadati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler