Pecah Menganyam Pulang - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 2 Agustus 2022 07:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pecah Menganyam Pulang

    Bagaimana cara untuk pulang setelah mengelilingi tanah-tanah kering dari balik bingkai air mata selain memilih diam menyusuri kematian dan kematian, menatap nisan-nisan, terhuyung di bawah gemerlap neon nekropolis. Ini penggalan linimasa seorang performance artist dalam mencari rumah di tanah kelahirannya yang senyata fantasi.

    Dibaca : 349 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tiada terasa perjalanan kembali menuntun lembar baru di Augustus. Namun, peristiwa pagi hari ini, berbagi mendung yang pecah di antara kejatuhan air mata. Sawel pun membawa lamun lain tentang bagaimana memalut satu per satu selubung pendar dengan penuh hati-hati sebelum meredam payah yang masih setengah. Namun, dalam linimasa ini, dengung pikiran, pun berbisik, kembali memohon empedu atas "baca" tentang pengalaman dan pengetahuan. Degup bergerak dalam intensitasnya dan seganda pendulum yang pesat, bahkan seringkali koma, mengukir gurat begitu dalam di aorta.

    Baca, telah merangkum suatu pola aktivitas dan menjabarkan pemahaman makna kata, bagi masing-masing peristiwa budaya. Tentunya, terciptanya kosakata baca ini menjadi suatu rekam jejak sejarah bahasa literasi atas peristiwa aktivitas personal individu, suatu proses yang berbeda dengan makna peristiwa pada kosakata "interpretasi", yang lebih menyirat suatu peristiwa aktivitas komunal. Pada yang komunal, apakah yang individual akan dilupakan jamaknya sebagai peristitwa anatomi tubuh saat Limbus masih mengais tajam sewujud cakar Bima? Mungkin, “idol/idola/berhala/dewa”, dapat dikatakan cukup tepat sebagai telisik bahasa literasi dalam mengemas estafet ingatan.

    Bagi saya personal, “baca”, menjadi "metamorfosa" anatomi tubuh, yang bersifat privasi.

     

    Jove's eagle, wounded by a serpent's bite,

    In his strong talons caught the writhing snake,

    And with his goring beak tortured his foe

    And slaked his vengeance in his blood. At last

    He let the venemous reptile from on high

    Fall in the whelming flood, then wing'd his flight

    To the far east. Marius beheld, and mark'd

    The augury divine, and inly smiled

    To view the presage of his coming fame;

    Meanwhile the thunder sounded on the left,

    And thus confirm'd the omen.

    [On Divination, by Marcus Tullius Cicero]

     

    Di abad yang terlampau jauh, linimasa duaribu duapuluh dua ini terasa demikian terasing, Augustus masih tetap menyimpan kesetiaan yang begitu kerapuhan, yang paling ilustrasi, yang dikecoh dalam kehendak kemerdekaan beserta perdamain. Tidak akan pernah ada kemerdekaan tanpa peperangan sekaligus sialnya kelahiran para martir, tetapi, “perdamaian hanya menjadi milik kepemilikan”. Ada awal pagi yang terlampau bancuh dalam “utopian society, bahkan bagi seorang John Dewey. Gema yang riskan diabaikan.

    Terlintas sekilas dari balik desain teralis, imajinasi mengunci mimpi yang fraktal, manakala angkasa perlahan menuruni bilangan digit untuk menjemput sekelompok jangrik berbatang besi. Namun ada hendak yang berulangkali tersampaikan, bahwa matahari tetaplah runtuh di belahan barat. Begitu pula agungnya corpus atas Gaius Octavius, rapuh telah menjadi satu-satunya kata pasti yang bersifat anatomi manusia, yang lahir ke dunia untuk mati. Dan, pada Augustus, tercatat pengulangan tentang tenangnya amuk gelombang di kedalaman anima libera.

    Saya terlalu rapuh menatap satu-satunya panji yang bersiap dikibarkan pada bulan ini, di kota ini. 

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.