Variasi Bulan Biru - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 3 Agustus 2022 17:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Variasi Bulan Biru

    Variasi Bulan Biru hanyalah suatu evolusi dalam fiksi sambil menikmati teh pala dan kayu manis sebelum sore hari. Sebuah kisah tentang rumitnya kesepakatan dan menjaga perkataan yang seringkali tidak memiliki makna apapun, selain buta dan sepi menjadi saksi gagalnya kalimat yang telah terucapkan.

    Dibaca : 358 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Diperintang-rintang pertemuan, percakapan menyimpul transaksi yang menuntut ulangan perjanjian linimasa hidup. Ada bilangan tertaburkan oleh penikmat porcelain retak retai. Senyum mengembang memuat puas dan bangga. Gema puji-pujian melintas di telinga, terekam pikiran, menjadi pahlawan uang. Aroma mawar putih beserta kenanga menggantungkan halusinasi di sekat pilar-pilar buatan. Suasana mengulum memudar tanpa corak rupa, biru memecah udara, nuansa meriak air di kolam.

    Namun, seringkali sumpah bukanlah tenteram ketika tahun-tahun berlalu. Selisih penuhi kegelapan mewarnai asa kesepakatan pertemuan pertama. Masih hadir kolam yang sama, nymphaca pubercens berapungan melikat hijau pada dalam yang mengerat lembab di lensa Iris. Tidak jarang glandula lacrimalis menghantam dan diam, terkadang menuntut harus berjalan.

     

    ada bayan kecil dimabuk jauh sela

    mungkin ada gembira di batas laut

    harapan bagai ranting ranting kecil

    terkadang berbagi; terkadang patah

    hanyasanya pasir rela tersapu habis

     

    Pada suatu kisahnya yang dibagikan pada altar-altar terakota, Kashmiri menciptakan jamak dengan tenunan benang-benang. Menyimpan peristiwa tersilam tentang perpecahan hingga peperangan, lalu luntuh bagai sutra mori pada setiap hulu yang ditemuinya. Anyaman pinus melaju sambil memeluk kosongnya samudra. Sementara parut-parut aksara berbuah acaram hingga di sudut-sudut desa bagai apsara mengisi dongeng manuskrip tua.

     

    Apakah “harus” menjadi kehadiran sebuah perintah?

     

    Tidak. Yang terlewat hanyalah tawaran untuk memilih...”

     

    Bagaimana jika tidak memilih?”

     

    Itu pun pilihan...”

     

    Mawar putih beserta kenanga berganti tragedi rubiaceae di perunggu yang berkarat, disentuh jemari yang memimpikan datangnya perrtemuan yang diperintang-rintang percakapan untuk penghabisan. Menyilam tenggelam sisa kikiran yang menjadi kekaguman para penikmat porcelain retak retai. Asa bagaikan pahlawan uang yang dibakar kesepakatan mazmur dan diwariskan di dalam gulungan Laut Mati hingga terpetik robanna dengan pengulangan yang runcing mengiris cerdas.

    Sebuah daratan menawarkan rayuan dari balik nyiur yang tegak. Sesekali melintas kawanan lelawa dari wadah-wadah yang membuka kaki-kaki pegunungan dan melupakan harapan tentang ulangan perjanjian linimasa hidup. Gema puji-pujian tidak lagi melintas, hanya ada kepicikan tanpa adanya suara yang bergetar selain biru membeku dingin datarnya ranjang besi. Tatapan hilang dalam kagum jagatrat dan di variasi bulan biru perlahan menutup tirainya di antara denyut-denyut yang tersengal dan putus.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.