Film The Killing Fields - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Sumber gambar dari viAdegan dadeo lam film The Killing Field

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Minggu, 7 Agustus 2022 16:49 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Film The Killing Fields

    Sebuah film mampu merangkum kisah dunia, imajiner, heroik, cinta, humanis, melankolis, epos, roman sejarah, di ranah realitas fakta empiris, bermanfaat sebagai pelajaran estetika sinematografi, bagi peminat, ingin belajar dunia seni film secara independen-autodidak. Semoga sabar-rajin menonton film, bermanfaat, sebagai sebuah pelajaran.

    Dibaca : 1.601 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    The Killing Fields, film box office 1984. Sejarah modern, rezim komunis-Khmer Merah (1975-1979) asuhan Pol Pot, manusia hipokrit, pimpinan tertinggi komune-isme, membaiat diri sebagai tuhan baru keyakinan ideologi komunis, kekuasaannya. Genosida, tak lekang dari Pol Pot, serta isme-komunis, pada dirinya.

    Adegan pertemuan komune-isme di film itu, ada gambar sketsa anakanak dengan kapur tulis, menggambarkan pola hubungan sepasang orang dewasa-orang tua dengan dua anak, keempatnya saling bergandengan tangan erat, gambar tertera di papan tulis hitam kusam, lantas sang doktrin ideologi komunis versi Pol Pot, bagai menghipnotis seorang anak usia belia, maju ke depan papan tulis, tanpa ragu, memberi tanda silang di bagian gambar dua orang dewasa-orang tua.

    Apa maksud dari pola informasi visual, adegan penting itu ‘clue’ dari film menggugah humanitas dunia. Apa maksud dari pola simbol tergambar.

    Apakah pola itu tanda-doktrin, memutus hubungan orang dewasa-orang tua, dengan, dua anaknya, oleh ketentuan doktrin ideologis komune-isme, komunis versi Pol Pot. Lantas dari mana seorang bayi lahir, ada, di planet bumi.

    Ya, Tuhan Yang Maha Rahman, pemilik Bimasakti. Ibu melahirkan anandanya. Kedua orang tua memberi bimbingan sepenuh jiwa raga.
    ***

    The Killing Fields, film ketika itu, menggugat dunia, disadarkan oleh kisah Dith Pran, (1942-2008) wafat pada usia 65 tahun di New Jersey-AS, setelah tiga bulan sebelumnya didiagnosis mengidap kanker pankreas-korban selamat dari genosida kamp tahanan neraka komunis Pol Pot, Khmer Merah-Kamboja. 

    Dith, jurnalis tangguh di negerinya, diperankan cemerlang oleh seni akting, Haing S. Ngor (1940-1996), sebagai rekan sejawat jurnalis Sydney Schanberg, meliput konflik di Kamboja, saat itu, di perankan dengan sangat apik pula oleh aktor Sam Waterston. 

    Dari ‘News’ dua jurnalis itu, tercipta kisah film tentang kesesatan seorang Pol Pot, terhadap hakikat kemanusiaan-melalui ideologi kekuasaan komunis versi Pol Pot. Mencoba melawan arus kendali makrifat kemanusiaan-filosofi kekuasaan Pol Pot, mencipta pedih-perih melukai sesama di Kamboja, salah satunya, Dith Pran. 

    Dith bersama Schanberg, keduanya tokoh jurnalis kemanusiaan, memberi terang pada dunia, melalui ‘berita untuk dunia’ sebagaimana profesi mereka-bahwa humanisme, ada, senantiasa, entitas cinta kasih. Sang Pencipta Semesta, menyelamatkan, Dith Pran, dari ladang pembantaian Pol Pot, akhirnya sampai di perbatasan Thailand, jerih payah, mengenaskan.

    The Killing Fields, puncak parodi politik, mencipta tragedi politik kedurjanaan ideologis, komunisme versi Pol Pot. Salah satu kisah dari negeri tropis Kamboja nan elok, masa itu.

    Luka-luka menganga darah, sembilu ideologi komunis-kehendak manusia, bernama Pol Pot, kekuasaannya terguling-1979, dia mati absurd, konon sakit. 

    Barangkali Pol Pot, gagal paham, ternyata manusia bisa mati, sekalipun telah menuhankan dirinya, mungkin dia lupa membeli jimat-anti mati, niskala kultus oknum manusia di planet bumi.
    ***

    The Killing Fields (1984), meraih segudang penghargaan, antara lain, Academy Awards ke-57, masuk dalam tujuh nominasi piala Oscar, termasuk best picture, memenangkan tiga piala Oscar, salah satunya untuk aktor pendukung terbaik Haing S. Ngor. Pada 1999, British Film Institute, memilih, The Killing Fields, sebagai film Inggris terbesar ke-100 abad ke-20, sangat dipujikan oleh kritikus film ketika itu, dalam sejarah film Inggris. 

    Sebuah film mampu merangkum kisah dunia, imajiner, heroik, cinta, humanis, melankolis, epos, roman sejarah, di ranah realitas fakta empiris, bermanfaat sebagai pelajaran estetika sinematografi, bagi peminat, ingin belajar dunia seni film secara independen-autodidak. Semoga sabar-rajin menonton film, bermanfaat, sebagai sebuah pelajaran.

    Tetap kreatif semangat beraktivitas, bagi peminat film bermanfaat, semoga mampu membuahkan karyakarya terbaik untuk negeri tercinta ini. Seperti pendahulu film Nasional bermanfaat, antara lain, November 1928-Teguh Karya. Tjoet Nja’ Dhien-Eros Djarot. Salam Indonesia kreatif saudaraku.
    ***

    Jabodetabek Indonesia, Agustus 07, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.