Beda Politisi Dulu dan Kini - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Politisi. Karya Mustafa Kucuk dan V. Gruenewaldt dari Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 20 Agustus 2022 06:12 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Beda Politisi Dulu dan Kini

    Di masa sebelum kemerdekaan, para pejuang terjun ke politik dengan visi yang jelas. Mereka juga pemikir sekaligus negarawan. Sayang, jejak mereka tak mampu diikuti oleh politisi masa kini. Para politisi moderen itu kebanyakan oportunis.

    Dibaca : 1.265 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perayaan kemerdekaan seperti sekarang ini merupakan salah satu momen terbaik untuk merenungkan kembali berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi bangsa. Di antaranya ialah memikirkan ulang untuk apa para politisi kita terjun ke dunia politik. Sebagai pembanding, kita dapat menengok sejarah perintisan, perjuangan, hingga proklamasi kemerdekaan.

    Ketika para politisi kerap membidik lambung rakyat sebagai cara membujuk calon pemilih agar mau memberikan suaranya dalam pemilu, bagaimanakah pejuang masa lampau menjalankan aktivitas politik mereka? Terdapat sejumlah perbedaan mendasar pada nilai-nilai yang mereka terapkan dalam berpolitik, setidaknya ada lima perbedaan antara politisi zaman dulu dan politisi masa sekarang.

    Pertama, di masa perjuangan menuju kemerdekaan, para politisi berpikir ihwal bagaimana bangunan negara yang hendak didirikan, nilai-nilai apa yang jadi fondasinya, dan bagaimana mewujudkannya. Mereka berpikir dalam konteks kepentingan negara, bangsa, dan rakyat, jauh melampaui kepentingan kelompok, apa lagi kepentingan individu.

    Kedua, para pejuang pemikir masa lalu menjadikan lapangan politik sebagai sarana membawa masyarakat ke jenjang kemanusiaan yang lebih tinggi. Bukan saja sejahtera secara lahiriah, tapi juga lebih beradab, lebih adil, dan lebih spiritual. Mereka memiliki visi yang jelas mengenai sosok bangsa di dalam kerangka negara seperti apa.

    Ketiga, menjadikan politik sebagai sarana pengabdian kepada bangsa, dan bukan tempat mencari penghidupan. Mereka mendirikan organisasi dan melakukan aktivitas sosial politik, mendidik rakyat berorganisasi dan berpolitik, berani menyatakan pendapat, dan bergotong royong demi meraih kepentingan bersama.

    Keempat, menghindari konflik kepentingan pribadi dan kerabat. Para pemimpin masa itu memberi teladan tentang bagaimana sebagai pejabat negara mereka tidak mengambil keuntungan demi keluarganya. Jangankan berpikir untuk melakukan korupsi. Bung Hatta dan Pak Sjafruddin Prawiranegara pun tidak mau berbagi informasi rencana pemotongan nilai rupiah kepada isteri dan keluarga, meskipun itu berarti uang belanja mereka akan ikut terpangkas.

    Kelima, mereka bukan sekedar terjun ke dunia politik, menjalankan kegiatan kenegaraan, tapi juga menuangkan gagasan dan pemikiran dengan tangan sendiri. Mereka bukan tipe politisi yang mencari ketenaran dengan menyewa ghost writer. Keluasan bacaan mereka pada masa yang demikian sulit telah dibuktikan melalui tulisan-tulisan mereka. Mereka intelektual yang terjun ke dunia politik untuk memajukan bangsanya.

    Mereka telah mewariskan keteladanan, walau dalam praktik apa yang mereka wariskan tersebut kemudian tergerus oleh praktik kekuasaan yang menjauh dari cita-cita Proklamasi di masa-masa kemudian, bahkan hingga kini belum juga usai. Jejak kenegarawanan pejuang, pemikir, politisi masa lalu itu tidak mampu diikuti oleh politisi masa kini yang lebih sibuk memikirkan kelangsungan dinasti kekerabatannya. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.