x

Hati-hati berinternet agar tak ada kebocoran data pribadi (freepik.com)

Iklan

Achmad Humaidy

Seorang narablog yang menyalurkan hobi membaca dan menulisnya melalui INDONESIANA supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Kepoin blognya: https://www.blogger-eksis.my.id II IG @me_eksis II Twitter @me_idy
Bergabung Sejak: 23 Februari 2022

Minggu, 28 Agustus 2022 07:22 WIB

Manfaatkan Internet Sehat supaya Tak Terjebak Berita Sesat

Persaingan bisnis internet yang pesat dari waktu ke waktu memunculkan polemik baru. Berita sesat atau berita kebohongan justru sengaja memicu kontroversi sesaat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi. Berjumpa api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus dan atasi setiap masalah. Disitulah kita bisa punya solusi

Pernyataan bijak di atas berlaku tak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga pada perjalanan bisnis yang terus dirintis untuk hadapi persaingan global yang kian sengit. Akses internet bukan lagi hal baru. Setiap orang punya cara tertentu untuk memanfaatkan internet dengan cerdas. Ada yang terus belajar lewat internet, raih cuan karena internet, dan punya banyak koneksi saat tersambung dengan internet.

Lantas, siapa penyedia layanan internet yang berperan besar dalam kedaulatan digital di Indonesia? Penulis bisa menyebut salah satu provider internet terbaik yang sinyalnya menjamah antar pulau, seperti IndiHome. Kontribusinya hadirkan layanan internet cepat tentu mendorong aktivitas tanpa batas dalam suatu kawasan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

   Keterjangkauan luas dalam industri teknologi digital membuat IndiHome dipandang monopoli bisnis untuk bidang Internet and Communication Technology (ICT). Angin pun berhembus dari para kompetitor yang menyebar isu bahwa ada kebocoran data para pelanggannya. Padahal pengumpulan data keamanan dilakukan secara terpusat dengan sistem keamanan (server) yang canggih. Tentu saat ada upaya peretasan data tak akan bisa tembus semudah itu.

  Berhubung banyak keluarga yang menjadi pelanggan dari brand internet cepat tersebut, aku langsung berkabar dengan yang lain via WhatsApp Group keluarga beberapa hari lalu. Untungnya, tak ada data-data pribadi yang tersebar seperti kabar tak bertanggung jawab yang tersiar. Salah satu justru bilang “Gak mungkin lah! Sekelas anak perusahaan BUMN mudah diserang hacker dan data-datanya bisa mudah disebar begitu saja. Data pelanggan itu hanya dipergunakan untuk kepentingan perusahaan, tak boleh disebarluaskan atau diperjualbelikan.

  Benar juga pernyataannya, adaptasi bisnis yang mengarah digital pasti menggunakan data-data secara bijak sebab kenyamanan pelanggan jadi indikator kepuasan. Tidak mungkin data disebar sembarang begitu saja. Semua data selalu punya sistem proteksi (perlindungan) kuat, baik dari sisi sebagai individu atau teknologi digital yang diotak-atik manusia.

   Kini, keyakinan penulis makin bertambah saat baca siaran pers yang sudah dimuat salah satu portal berita daring. “Tim Telkom Indonesia sudah dan terus lakukan cek serta investigasi mengenai keabsahan data-data tersebut. Temuan awal data itu hoaks dan tidak valid”, ujar Ahmad Reza selaku Senior Vice President Corporate Communication and Investor Relation. Nyatanya, kabar kebocoran data pelanggan IndiHome hanya dilatari persaingan bisnis digital belaka. Sengaja ada oknum yang dimunculkan untuk menyebarkan isu-isu tersebut.

  Sudah sewajarnya kita sadar bahwa teknologi yang mempermudah siapa saja akan punya proyeksi digital yang sistematis. Artinya riwayat data seperti kontak, identitas, atau email pelanggan selalu tersimpan dan punya sistem pengawasan yang berlapis dalam suatu bisnis. Tim IndiHome pun telah menelusuri jejak-jejak pembobolan tersebut dan ditemukan 100.000 sampling yang tidak cocok dengan data Nomor Induk Kependudukan (NIK) para pelanggannya. Data dan angka hanya dimanipulasi oleh hacker-hacker yang coba masuk atau menjebol sistem tapi tidak bisa tembus.

  Aku jadi ingat pekerjaan dulu dalam bidang perbankan untuk skala BUMN yang juga punya kendali terhadap data-data nasabah. Meski peranku disitu hanya sebagai penginput data nasabah, tapi masih ada staf-staf lain yang melakukan checker atau kroscek untuk keabsahan penyimpanan data sehingga semua data dikumpulkan dalam database terpusat. Kebocoran data bila terbukti akan menyeret semua yang terlibat didalamnya pada jalur hukum.

  Beranjak dari situ, kita bisa paham bahwa begitu banyak pengelola data-data digital dalam suatu unit bisnis. Sulit rasanya untuk akses data-data tersebut apalagi sampai dimanipulasi. Mengingat, enkripsi dan firewall berlapis. Ahmad Reza juga menambahkan “Ada kemungkinan data-data histori browsing diretas karena pengguna pernah akses situs-situs terlarang. Sebaiknya kita lebih bijak gunakan internet dan waspada terhadap situs-situs terlarang yang bisa saja mengandung malware”

 Dari berita yang sempat populer belakangan ini, penulis memahami kembali seperti apa pentingnya keamanan dan perlindungan data pribadi. Dibalik kebutuhan internet yang meningkat, ada bahaya yang terus mengancam masyarakat. Telusur digital punya risiko akan keamanan data pribadi yang diretas. Kondisi ini mengharuskan kita yang sudah melek teknologi untuk tetap menjunjung tinggi literasi digital. Hal ini perlu untuk cegah serangan siber seperti hacker yang kadang sengaja dibentuk untuk memenangi suatu persaingan bisnis digital di Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Achmad Humaidy lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler