x

Film Badarawuhi di Desa Penari

Iklan

Achmad Humaidy

Seorang narablog yang menyalurkan hobi membaca dan menulisnya melalui INDONESIANA supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Kepoin blognya: https://www.blogger-eksis.my.id II IG @me_eksis II Twitter @me_idy
Bergabung Sejak: 23 Februari 2022

Jumat, 10 Mei 2024 14:40 WIB

Minim Eksekusi Film Badarawuhi di Desa Penari Masih Tak Sesuai Ekspektasi

Film horor yang disutradarai Kimo Stamboel ini ternyata masih pakai formula horor yang sama seperti film KKN di Desa Penari.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Sudah hampir satu bulan, film Badarawuhi di Desa Penari menghiasi layar bioskop Indonesia. Momen libur lebaran sepertinya belum bisa mendongkrak jumlah penonton film ini untuk tembus ke angka empat juta. Bila dibanding prekuelnya, film KKN di Desa Penari yang jadi film terlaris tahun 2022 lalu, film horor ini masih luput eksekusi sehingga sulit untuk dinikmati.

          Alkisah Mila (Maudy Effrosina) bersama sepupu dan temannya datang ke sebuah Desa Penari. Mereka punya misi untuk kembalikan kawaturih (seperti gelang) yang katanya bisa menyelamatkan ibu Mila yang sedang sakit parah. Hanya bermodal gambar gapura dan gambar sosok dawuh, mereka bisa temukan desa di dalam hutan yang ada pada area Jawa Timur.

          Setelah sampai di desa, empat orang pemuda tersebut memutuskan menginap di sana. Mereka masih harus menemui Mbah Buyut (Didin Boneng) untuk tahu misteri apa yang terjadi dari barang yang harus dikembalikan itu. Mila memutuskan tidur di rumah penduduk desa bernama Ratih (Claresta Taufan) yang ternyata punya nasib sama dengannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

         Suatu malam, mereka berdua mendengar suara gamelan. Mereka coba datangi sumber suara tersebut. Ada pendopo yang diisi dengan kumpulan orang-orang yang sedang menari. Disitu, Mila seperti diincar oleh Badarawuhi untuk dijadikan dawuh atau generasi penari desa selanjutnya.

           Badarawuhi, perempuan cantik yang menjelma jadi siluman ular ini biasanya memilih penari dalam suatu ritual. Mila dan Ratih harus ikut ritual tersebut guna kesembuhan dari ibunya masing-masing. Dalam ritual, mereka terjebak di Angkara Murka sehingga tubuhnya terasa tak berdaya.

Seperti apa nasib Mila setelahnya? Akankah ada yang berhasil menyelamatkan diri dari ritual itu? Siapakah yang akan menjadi dawuh selanjutnya?!

          Secara garis besar, ekspektasi penonton terhadap film horor ini yaitu ingin mengetahui entitas dari Badarawuhi. Tapi, film tak bisa merinci lebih detail asal muasal dari siluman horor tersebut. Sebab sosoknya masih dianggap sebagai makhluk gaib.

         Premis film Badarawuhi dan KKN pun masih terlihat sama. Hanya fokus pada orang-orang yang terpaksa datang ke Desa Penari dan ujungnya terjebak pada teror Badarawuhi. Saking miripnya, beberapa adegan juga ditampilkan dalam momen yang sama persis. Hanya beda pada pemeranan saja.

       Sama hal dengan prekuel, Film Badarawuhi masih dijejali karakter-karakter yang tidak memberi esensi sama sekali ke cerita. Misal karakter dari tiga pria bernama Yuda, Aria, dan Jito. Masing-masing diperankan Jourdy Pranata, Ardit Erwandha, dan M. Iqbal Sulaiman. Mereka bertiga seolah tak diberi layer story untuk bantu Mila sama sekali. Begitu juga sosok penduduk desa, anak lelaki yang diperankan Bima Sena terasa hanya sebagai distorsi dalam suatu adegan saja tanpa memberi informasi penting apapun.

     Visual berdarah-darah yang mencekam nyatanya tak mampu build up horor sampai buat penonton takut. Penampakan yang muncul tentu tak tampil seram, Badarawuhi dan pengikutnya sama persis seperti orang-orang yang hidup di zaman purba saja. Paling ada beberapa pemeran yang pakai softlens supaya sorot mata berubah atau justru wajahnya rata sama sekali. Visual horor seperti itu terasa tak ada efek kejutnya.

       Alur cerita makin terasa melambat. Resolusi konflik terlampau bertele-tele supaya durasi agak panjang. Hal ini malah membuat repetisi atas permasalahan kutukan yang tak kunjung usai. Sama seperti skenario horor lain yang ditulis Lele Laila selalu saja meninggalkan plot hole. Sampai akhirnya, cerita terlihat agak memuakkan karena Angkara Murka malah disulap seperti studio tari.

       Film hanya berhasil melaju pada momen-momen adegan gore saja. Berkat dukungan efek visual dan spesial make up character tentu film Badarawuhi di Desa Penari bisa memberi kesan jijik dan ngilu. Penulis paling suka adegan merobek kulit yang dilakukan ibunya Ratih, Jiyanti (Dinda Kanya Dewi)

   Banyak hal tak sesuai ekspektasi dalam film Badarawuhi di Desa Penari. Cerita dan karakter yang sungguh mengganggu sehingga film horor ini terasa sekali tak punya sesuatu yang bisa disampaikan ke penonton. After taste habis nonton filmnya tetap hampa. Mungkin tujuan produksi hanya untuk menakut-nakuti penonton saja. Tapi, penonton film Indonesia harus makin cerdas sehingga jangan sampai terjebak berulang kali untuk nonton film horor yang hanya memanfaatkan utas viral via X saja. Tontonlah film Indonesia yang lebih berkualitas!

Ikuti tulisan menarik Achmad Humaidy lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler